Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
TERNYATA secara kelirumologis, saya tidak keliru dalam tidak percaya mitos otak kanan, otak kiri maupun otak kiri, otak kanan. Justru sudut pandang saya searah-sejalan dengan temuan neurosains modern. Pandangan bahwa seseorang adalah "tipe otak kanan" (kreatif) atau "tipe otak kiri" (logis) kini dianggap oleh para neurosaintis sebagai neuromitos (mitos sains tentang otak).
Berikut adalah alasan mengapa ketidak-percayaan saya tidak keliru:
1. Otak Adalah Sistem yang Terintegrasi
Meskipun benar bahwa otak memiliki dua belahan (hemisfer) dengan spesialisasi tertentu (misalnya, area bahasa dominan di kiri bagi kebanyakan orang), keduanya tidak pernah bekerja sendirian. Mereka dihubungkan oleh "jembatan" kabel saraf raksasa yang disebut Corpus Callosum.
2. Kerja Sama di Balik Setiap Tugas
Hampir tidak ada aktivitas mental yang hanya memakai satu sisi:
Matematika (Sering dianggap "kiri"): Membutuhkan logika (kiri) sekaligus visualisasi ruang dan estimasi (kanan).
Kreativitas (Sering dianggap "kanan"): Membutuhkan imajinasi (kanan) sekaligus kontrol eksekutif dan perencanaan struktur (kiri).
Bahasa: Sisi kiri mengolah tata bahasa dan kosakata, sementara sisi kanan mengolah nada bicara (intonasi) dan konteks emosi.
3. Plastisitas Otak
Otak sangat holistik dan adaptif. Jika satu bagian otak mengalami gangguan, bagian lain bisa mengambil alih fungsinya. Ini membuktikan bahwa otak bukanlah kumpulan kotak-kotak kaku, melainkan jaringan dinamis yang saling terhubung. Keyakinan saya bahwa otak adalah kesatuan holistik adalah fakta ilmiah. Label "otak kanan/kiri" lebih merupakan kiasan populer (metafora) untuk menggambarkan gaya kognitif seseorang, bukan gambaran akurat tentang bagaimana organ otak kita bekerja.
Corpus Callosum adalah "jalan tol" informasi terbesar di otak kita. Tanpa bagian ini, kedua belahan otak Anda akan bekerja sendiri-sendiri tanpa tahu apa yang dilakukan rekannya.
Berikut adalah fakta menarik tentang cara kerjanya:
1. Jembatan Kabel Raksasa
Ia terdiri dari sekitar 200 juta serabut saraf (akson). Bayangkan ini sebagai kabel serat optik super cepat yang menghubungkan belahan otak kiri dan kanan maupun depan dan belakang. Tugas utamanya adalah memastikan komunikasi antar-hemisfer terjadi dalam hitungan milidetik.
2. Sinkronisasi Global
Meskipun otak kiri dan kanan memiliki "keahlian" yang sedikit berbeda, Corpus Callosum membuat mereka bekerja sebagai satu kesatuan.
Contoh Visual: Saat Anda melihat pemandangan, mata kiri mengirim sinyal ke otak kanan, dan mata kanan ke otak kiri. Corpus Callosum menyatukan kedua sinyal ini sehingga Anda melihat satu gambar utuh, bukan dua potongan gambar yang terpisah.
Contoh Gerakan: Saat Anda mengetik atau bermain alat musik, bagian ini mengoordinasikan gerakan tangan kiri dan kanan agar harmonis.
3. Apa yang Terjadi Jika Diputus?
Ada kondisi medis langka di mana dokter harus memotong bagian ini (biasanya untuk kasus epilepsi parah). Hasilnya disebut "Split-Brain" (Otak Terbelah). Pasien ini bisa mengalami kejadian aneh: Tangan kiri mungkin mengambil baju merah di lemari, sementara tangan kanan (yang dikontrol otak kiri yang lebih logis) ingin baju biru. Mereka kehilangan sinkronisasi holistik yang dimaksud tadi.
4. Perbedaan Individu
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ukuran atau kepadatan Corpus Callosum bisa berbeda-beda. Misalnya, pemusik yang berlatih sejak kecil cenderung memiliki bagian ini yang lebih tebal karena tuntutan koordinasi tangan yang tinggi.
Secara alasanomologis segenap indikasi membenarkan keyakinan tentang otak sebagai sistem holistik adalah benar. Mungkin otak memang punya minimal dua sisi, tapi mereka asyik saling "mengobrol" setiap saat bersama dari kanan ke kiri dan sebaliknya atau dari depan ke belakang dan sebaliknya melewati jembatan ini.
Silakan para neurosaintis dan mereka yang fundamentalis menganut paham otak kiri, otak kanan menertawakan keyakinan saya sebagai absurd, dungu plus ngawur. Namun mohon dimaafkan bahwa kini tiba giliran saya berperan sebagai khafilah berlalu meski anjing menggonggong, sebab saya percaya pada mashab keyakinanmu keyakinanmu, keyakinanku keyakinkanku terbingkai Bhinneka Tunggal Ika yang berani beda pendapat tanpa kehilangan keadaban saling menghormati dan saling menghargai. Merdeka!



KOMENTAR ANDA