post image
Ilustrasi
KOMENTAR

Tanpa trust, manusia tidak akan cukup kuat untuk menghadapi teknologi—bukan karena teknologinya jahat, tapi karena manusia kehilangan dirinya sendiri.

Oleh: Adhie M. Massardi

PADA mulanya adalah trust—
lalu alam semesta tumbuh,
tata surya bergerak dalam orbitnya,
tidak sepenuhnya dipahami,
namun diyakini.

Lalu manusia saling mendekat:
sesama anggota keluarga,
sesama warga desa,
sesama warga kota,
sesama warga negara,
sesama warga dunia—
yang tunduk pada
yang tak dapat dikuasai,
namun diyakini.
Dengan trust, mereka saling terhubung.
Dengan trust, mereka membangun:
Komunits, organisasi, negara, dunia.
Dan dengan trust, peradaban pun digerakkan.

Trust adalah magma—
terpendam jauh di dalam perut kehidupan.
Ia tidak selalu tampak,
namun menyimpan energi yang besar.

Jika dijaga, ia menghidupkan.
Jika diabaikan, ia menekan.
Dan ketika tekanan itu tak lagi tertahan,
ia meledakkan sejarah— berulang,
dan tak pernah benar-benar usai.


#1 Kesadaran Transenden dan Lahirnya Moralitas

Sebelumnya

Memahami Trust: Energi yang Hilang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya