Bagi sebagian besar penumpang pesawat, mendengar pilot mengumumkan ketinggian jelajah dalam hitungan ribuan kaki (feet) adalah hal yang lumrah. Meski dunia modern lebih banyak menggunakan sistem metrik, industri penerbangan global tetap kokoh mempertahankan satuan imperial ini. Pertanyaan mendasar pun sering muncul: mengapa penerbangan tidak beralih ke meter atau kilometer yang dianggap lebih logis dan umum digunakan secara internasional?
Akar permasalahan ini ternyata berawal dari sejarah awal penerbangan. Wright bersaudara menggunakan satuan kaki saat melakukan penerbangan pertama mereka, dan praktik ini terus dipertahankan karena pengaruh dominan Amerika Serikat dan Inggris dalam pengembangan teknologi dirgantara. Akibatnya, instrumen kokpit, prosedur navigasi, hingga sistem kontrol lalu lintas udara (ATC) sejak awal dirancang dan dikalibrasi menggunakan satuan kaki.
Sebenarnya, upaya untuk beralih ke sistem metrik pernah diusulkan. Pada awal 1970-an, International Civil Aviation Organization (ICAO) mengeluarkan rekomendasi agar industri penerbangan global bertransisi ke sistem metrik. Amerika Serikat bahkan sempat menunjukkan dukungan melalui Metric Conversion Act tahun 1975, namun momentum tersebut memudar di pertengahan 1980-an tanpa adanya perubahan nyata di kokpit pesawat.
Meskipun dunia mayoritas menggunakan kaki, terdapat beberapa pengecualian. Negara-negara seperti Tiongkok, Mongolia, dan beberapa negara bekas Uni Soviet menggunakan meter untuk menentukan ketinggian saat terbang di bawah "ketinggian transisi". Hal ini menciptakan tantangan tersendiri bagi pilot, yang harus melakukan konversi manual saat melintasi wilayah udara tersebut di tengah beban kerja yang tinggi.
Proses konversi manual ini bukanlah perkara sepele. Sebagai contoh, perintah ATC untuk turun ke ketinggian 3.650 meter memaksa pilot untuk segera mengonversinya menjadi 12.000 kaki. Kesalahan perhitungan sekecil 100 meter saja setara dengan selisih 328 kaki, yang dalam dunia penerbangan, margin kesalahan sekecil itu bisa berdampak signifikan terhadap keselamatan.
Secara teknis, mengubah standar global ke sistem metrik saat ini dianggap sebagai tindakan yang mustahil dan sangat berbahaya. Hampir semua sistem manajemen penerbangan, peta prosedur, hingga sistem penghindar tabrakan (Traffic Alert and Collision Avoidance System) dibangun berdasarkan basis data satuan kaki. Mengganti sistem ini berarti harus melakukan perombakan total pada perangkat keras di ribuan pesawat di seluruh dunia.
Selain biaya retrofitting yang sangat masif, tantangan terbesar adalah kebutuhan pelatihan ulang bagi jutaan pilot dan pengawas lalu lintas udara di seluruh dunia. Tidak hanya ketinggian, sistem navigasi juga bergantung pada satuan mil laut (nautical miles) dan kecepatan dalam knot, yang jika diubah secara serentak akan menimbulkan kekacauan operasional yang tidak terukur.
Struktur ruang udara dunia saat ini bahkan bergantung pada satuan kaki untuk pemisahan vertikal. Sejak tahun 2005, melalui Reduced Vertical Separation Minimum (RVSM), pesawat dapat terbang dengan jarak vertikal yang lebih rapat, yakni dalam kelipatan 1.000 kaki. Sistem ini krusial dalam menjaga keteraturan lalu lintas udara di ketinggian jelajah FL290 hingga FL410.
Penerapan aturan semikular, di mana pesawat yang terbang ke arah timur menggunakan tingkat penerbangan ganjil dan arah barat menggunakan tingkat genap, semuanya berlandaskan pada satuan kaki. Mengganti struktur ini ke ekuivalen metrik akan memerlukan desain ulang total ruang udara global, sebuah proses yang hampir mustahil dilakukan tanpa mengorbankan keselamatan penerbangan.
Pada akhirnya, penggunaan satuan kaki tetap dipertahankan demi alasan keselamatan dan efisiensi operasional. Satuan yang lebih kecil memungkinkan presisi yang lebih tinggi dalam menentukan margin kesalahan. Selama sistem ini terbukti aman, konsisten, dan berfungsi dengan baik dalam memandu jutaan penerbangan setiap tahunnya, maka tradisi "kaki" di kokpit akan tetap menjadi standar yang tak tergantikan.




KOMENTAR ANDA