post image
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, April 2026.
KOMENTAR

Ketegangan di kawasan Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka mengonfirmasi bahwa negaranya kini berada dalam kondisi perang skala penuh melawan Amerika Serikat (AS). Deklarasi tegas tersebut disampaikan Pezeshkian pada Senin, 20 Juli 2026, seiring dengan makin intensifnya gempuran militer AS ke berbagai wilayah strategis di Iran.

“Kenyataannya adalah hari ini Republik Islam Iran tengah terlibat dalam perang skala penuh,” ujar Pezeshkian menegaskan posisi negaranya sebagaimana dilansir dari Straits Times. Pernyataan ini dikeluarkan tak lama setelah media pemerintah dan otoritas lokal melaporkan rentetan serangan udara dari pihak Washington yang menghantam wilayah utara dan tengah Iran pada hari yang sama.

Pernyataan keras dari Teheran ini sekaligus menandai runtuhnya kesepakatan damai yang sempat diteken kedua belah pihak pada Juni lalu. Padahal, perjanjian tersebut sempat memberi harapan baru dan meredakan ketegangan selama beberapa pekan, sebelum akhirnya konflik bersenjata kembali meletus dan membakar kawasan tersebut.

Dampak dari eskalasi militer ini langsung menghantam sektor ekonomi global secara drastis. Harga minyak dunia tercatat melonjak tajam hingga menyentuh level tertinggi dalam sebulan terakhir akibat aksi saling klaim dan perebutan kendali atas Selat Hormuz—jalur navigasi vital yang dalam kondisi normal dilalui oleh seperlima dari total pasokan minyak dunia.

Begitu gencatan senjata berakhir rapuh, Teheran tanpa ragu langsung memberlakukan kembali blokade total di Selat Hormuz untuk melumpuhkan lalu lintas maritim lawan. Menanggapi langkah ekstrem tersebut, pihak Washington tak tinggal diam dan membalasnya dengan melancarkan blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama milik Iran.

Aksi saling balas serangan sejatinya terus berlanjut sejak perang pertama kali pecah pada akhir Februari lalu, di mana Iran secara konsisten menyasar apa yang mereka sebut sebagai aset-aset strategis milik AS di seluruh kawasan. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa pada 20 Juli, armada mereka sukses menghantam sejumlah target militer AS di Bahrain, Yordania, dan Suriah.

Di tengah situasi yang kian mencekam, peta kekuatan geopolitik berpotensi makin rumit dengan munculnya ancaman baru dari sekutu Teheran di Yaman, yaitu kelompok pemberontak Houthi. Walau kelompok ini mengaku belum sepenuhnya terjun langsung ke medan pertempuran utama, mereka mulai melontarkan gertakan militer yang dapat memperluas jangkauan konflik.

Ancaman tersebut berupa rencana Houthi untuk memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Arab Saudi. Langkah agresif ini dinilai sangat krusial karena berpotensi melumpuhkan jalur alternatif yang selama ini diandalkan Riyadh untuk mengekspor minyak mentah ke luar kawasan Selat Hormuz.

Selama Selat Hormuz diblokade oleh Iran, Arab Saudi memang masih sanggup mengirimkan jutaan barel minyak per hari melalui jalur alternatif via Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Meski volume ekspor tersebut masih jauh di bawah kapasitas normal sebelum perang, jalur ini menjadi satu-satunya 'urat nadi' tersisa bagi pasokan minyak internasional.

Para pelaku pasar minyak global kini diliputi kecemasan mendalam atas potensi serangan Houthi di Laut Merah dan Teluk Aden, mengingat kelompok yang pernah terlibat kontak tembak dengan Riyadh ini belum membeberkan mekanisme blokade yang akan mereka jalankan. Jika skenario terburuk itu terjadi, pasokan energi dunia dipastikan akan tergerus parah dan memicu krisis energi tingkat global.


Lamine Yamal Bawa Bendera Palestina, PM Spanyol Membela

Sebelumnya

Yamal: Kata-kata Messi Lebih Berharga dari Medali Emas di Leher Saya

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia