post image
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelarajaran Kemanusiaan

DI panggung sandiwara drakon (drama kontemporer), batas antara kecerdasan dan kedunguan tidak lagi kabur—kedua hal ini justru telah resmi bertukar pakaian. Kita kini hidup di era keemasan di mana gelar kehormatan tertinggi tidak lagi diraih melalui meja laboratorium atau tumpukan manuskrip, melainkan lewat durasi cuap-cuap di mikrofon siniar dan kuantitas pengikut yang haus akan validasi instan. 

Mari kita bedah anatomi dari sebuah komoditas baru yang paling laku di pasaran alam maya : Pakar Goblok. Namun, demi keadilan logika, kita harus mampu membedakan dua kasta yang berada di sirkus ini.

Pertama, ada pakar yang dianggap goblok. Ini adalah nasib tragis para manusia yang benar-benar menghabiskan usianya untuk belajar. Mereka memiliki data, metodologi ilmiah, dan kerutan di dahi akibat berpikir keras. Sial bagi mereka, kebenaran sering kali membosankan dan rumit.

Ketika mereka mencoba menjelaskan sebuah fenomena dengan kalimat bersyarat dan penuh kehati-hatian khas akademisi, massa internet  yang terbiasa mengunyah konten lima belas detik akan langsung menguap.

"Ah, pakar goblok! Bicara muter-muter tidak memberi solusi!" teriak netizen yang bahkan tidak tamat membaca judul artikel. Di mata publik yang mabuk kepastian cepat, kebenaran ilmiah adalah kebodohan yang tidak praktis.

Kasta kedua adalah puncak komedi peradaban kita: goblok yang dianggap pakar. Ini adalah jenis makhluk yang memiliki kepercayaan diri melampaui volume otaknya. Modal mereka sederhana, namun mematikan: setelan jas rapi, tatapan mata yang meyakinkan, intonasi suara yang berat diatur ala motivator, dan kemampuan mutlak untuk berbicara tentang apa saja tanpa pernah merasa tahu diri.

Mereka bisa bicara tentang geopolitik global di pagi hari, analisis ekonomi makro di siang hari, dan beralih menjadi ahli virologi di malam hari. Atau mereka yang sanak keluarga atau handai taulan penguasa.

Bagi publik, kelompok kedua ini adalah juru selamat. Mereka tidak membawa data rumit; mereka membawa jargon keren terdengar canggih dan solusi hitam-putih yang memuaskan ego pendengar. Mereka tidak butuh pembuktian, karena di dunia modern, "kelihatan meyakinkan" sudah jauh lebih cukup daripada "benar secara faktual".

Goblok yang dianggap pakar ini dipuja, diundang ke panggung-panggung seminar nasional, dan dijadikan rujukan utama kebijakan publik, sementara sang pakar asli diusir ke pojokan sunyi karena dianggap terlalu bodoh untuk menghibur massa.

Akhirnya, kita harus berlapang dada menerima kenyataan ini. Ketika kedunguan telah diinstitusikan dan dipoles dengan algoritma, maka kepakaran yang sesungguhnya hanyalah sebuah lelucon usang. Selamat datang di era di mana untuk menjadi ahli, kita tidak perlu tahu apa-apa—kita hanya perlu tidak tahu malu saja.


KPK Seharusnya Independen

Sebelumnya

Menelusuri Infinitas

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana