post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

ALKISAH Negara Antah Berantah Adil Makmur Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tenteram Karta Raharja tidak punya partai politik.

Sumpah. Serius. Tidak punya.

Negara Antah Berantah demokratis maka pemilu tetap ada. Tapi yang maju bukan kader partai. Yang maju adalah tukang sayur, guru SD, satpam, dan nenek-nenek PKK yang jago ngitung beras. Syaratnya cuma satu: hafal 7 harga kebutuhan pokok dan bisa nyalain genset saat mati lampu. Tidak ada ambang batas kepresidenan, kegubernuran, kebupatian, kewalikotaan, kekepaladesaan maupun keke-an lain-lainnya.

Karena tidak ada partai politik, maka tidak ada kaderisasi. Adanya "pengaderan". Setiap warga wajib magang 3 bulan jadi petugas kebersihan, 3 bulan jadi admin dukcapil, 3 bulan jadi guru honorer. Biar kalau sudah jadi pejabat, tidak bilang "data belum sinkron" sambil main HP.

Karena tidak ada parpol, maka tidak ada koalisi. Yang ada "gotong royong". APBN dibahas di balai desa sambil ngopi dan makan gorengan. Proyek jalan tidak mangkrak.Jika mangkrak, kepala desanya disuruh tidur di jalan itu selama seminggu. Karena tidak ada parpol, maka tidak ada iklan polititakk maupun lenbaga jajak pendapat yang maju  tak gentar bela yang bayar . Kampanye isinya adu program. Calon bupati A bawa proposal irigasi. Calon bupati B bawa contoh pupuk. Yang kalah tidak teriak "curang". Dia bilang "ya sudah, saya bantu jadi relawan". Besoknya beneran ikut nanam padi.

Di Antah Berantah, debat capres disiarkan TV tapi tanpa jingle dan iklan. Moderatornya bukan artis tetapi ibu-ibu arisan yang galak. Pertanyaannya: "Pak, dana RT 5 juta itu larinya kemana? Jangan muter-muter". Yang ketahuan bohong langsung disuruh push-up 20 kali di panggung studio TV.  

Karena tidak ada parpol, maka tidak ada mahar politik. Yang ada "mahar sosial". Mau nyalon? Wajib sumbang 100 pohon, 1 sumur, dan ngajar baca gratis setahun. Kalau ingkar, namanya ditempel di warung: "Ini orangnya suka PHP".

Tidak ada parpol maka tidak ada gerombolan pendukung capres serta merta tidak ada lembaga survey pendapat yang membentuk pendapat publik. 

Negara ini juga tidak punya buzzer. Yang ada "pencerah". Tugasnya bukan menyerang lawan, tapi ngingetin: "Jangan buang sampah sembarangan ya". Gajinya dibayar pakai beras.

Korupsi? Ada. Tapi langsung ketahuan. Karena semua laporan keuangan ditempel di papan pengumuman, pakai font 72. Dan bendaharanya adalah emak-emak yang ingatannya lebih tajam dari CCTV.

Apakah Antah Berantah sempurna? Tidak. Kadang rapat warganya molor karena kebanyakan curhat. Kadang keputusannya lama karena harus nunggu semua setuju. Kadang ada yang ngomel: "Ribet amat sih, mending tunjuk aja".

Tapi anehnya, jalanannya mulus. Sekolahnya gratis. Rumah sakitt ada obatnya. Gratis. Sawahnya hijau. Dan tiap malam tidak ada yang ribut di TV karena tidak ada juru bicara partai yang teriak-teriak.

Suatu hari wartawan asing bertanya ke Presiden Antah Berantah: "Rahasianya apa bisa negara ini damai sejahtera tanpa parpol?". Presidennya menjawab sambil minum jamu : "Rahasianya sederhana. Kami percaya, negara ini milik semua orang. Bukan milik 5 orang yang punya logo." Wartawan itu pulang. Menulis berita. Tidak ada yang percaya.

Dan Negara Antah Berantah tetap ada. Adil. Makmur Aman Sejahtera. Karena mereka lupa cara bertengkar. Mereka hanya ingat cara bekerja bakti tanpa pamrih jabatan dan harta untuk negara, bangsa dan rakyat ! Segenap sila Pancasila terwujud terutama yang ke lima : Keadilan Sosial Untuk BUKAN Sebagian Kecil tapi Seluruh Rakyat.

Ga caya ?  Ga papa! Namanya juga dongeng!

 


Jasa Francis Turner Palgrave

Sebelumnya

Batu Ujian KPK dan Para Penegak Hukum

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana

image

Lucy