Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menegaskan pentingnya membangun ketahanan nasional yang tangguh sebagai fondasi utama untuk menciptakan kawasan yang stabil serta sistem multilateral yang efektif. Penegasan tersebut disampaikan dalam Pernyataan Nasional Indonesia pada Debat Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York, Amerika Serikat.
Dalam pidatonya, Menlu RI mengingatkan kembali bahwa Indonesia dan PBB lahir dengan kesamaan visi dan keyakinan sejak puluhan tahun lalu. Tujuan utama dibentuknya tatanan tersebut adalah untuk memastikan masa depan umat manusia tidak diserahkan begitu saja kepada lingkaran perang dan perpecahan.
Meski dunia telah mencatat berbagai kemajuan signifikan dalam delapan dekade terakhir, tantangan global serta krisis geopolitik masih terus membayangi. Oleh karena itu, agar perdamaian dan kemakmuran dapat bertahan, sistem multilateral yang menaungi bangsa-bangsa di dunia juga harus ikut memperkuat ketahanannya.
Menlu menekankan bahwa membangun multilateralisme yang tangguh harus dimulai dari penguatan ketahanan di dalam masing-masing negara. Sistem global tidak akan pernah cukup kuat jika fondasi ketahanan di tingkat domestik dari negara-negara anggotanya rapuh dan tidak mandiri.
Secara khusus, Indonesia membagikan pengalamannya dalam merintis ketahanan nasional melalui penguatan sektor strategis. Fokus utama diarahkan pada pencapaian kemandirian pangan, ketahanan energi, serta investasi masif pada sektor pendidikan dan kesehatan.
Sebagai negara dengan populasi besar yang dihuni lebih dari 280 jiwa, persatuan dalam keberagaman menjadi kunci ketahanan nasional Indonesia. Prinsip demokrasi, penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), serta supremasi hukum terus dijaga dari Sabang sampai Merauke.
Ketahanan yang kokoh di tingkat nasional tersebut selanjutnya bertransformasi menjadi pilar bagi stabilitas kawasan. Indonesia mencontohkan bagaimana ASEAN selama hampir enam dekade mampu meredam perbedaan, menjaga saluran komunikasi, dan mengutamakan titik temu di tengah kompetisi strategis global.
Di panggung global, Menlu RI juga menegaskan bahwa krisis kemanusiaan di Palestina merupakan ujian paling nyata bagi efektivitas sistem multilateral. PBB dituntut untuk membuktikan keadilannya dalam menyelesaikan penjajahan dan menegakkan resolusi perdamaian internasional secara konsisten.
Konsistensi Indonesia untuk terus berdiri bersama rakyat Palestina ditegaskan kembali hingga hak-hak kemerdekaan mereka terwujud. Solusi Dua Negara dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar yang adil berdasarkan hukum internasional dan parameter damai yang telah disepakati.
Menutup pidatonya di hadapan dunia, Indonesia turut mengumumkan pencalonan diri sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029–2030. Mengusung tema Fostering Unity, Advancing Peace, Indonesia berkomitmen untuk terus merajut persatuan dan menghadirkan solusi damai bagi tantangan global masa depan.



KOMENTAR ANDA