post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

THE Adventures of Huckleberry Finn mahakarya Mark Twain sempat memicu kontroversi dan berulang kali dilarang di berbagai institusi termasuk sekolah. Fokus utama penolakan tersebut tertuju pada satu tuduhan ekstrem: novel ini dianggap rasis.

Kritik tersebut umumnya bersumber dari penggunaan kata peyoratif rasial (the N-word) yang muncul ratusan kali serta penggambaran karakter Jim, si budak pelarian, yang awalnya tampak memenuhi stereotip kulit hitam era abad ke-19. Namun, jika kita menggunakan pisau bedah sastra secara objektif, apakah teks ini benar-benar menyebarkan rasisme, atau justru sebaliknya?

Secara intrinsik, novel ini harus dibaca melalui kacamata satir dan ironi. Mark Twain menggunakan sudut pandang Huck Finn, seorang anak laki-laki kulit putih yang tumbuh di bawah indoktrinasi ketat masyarakat antebellum Amerika Selatan yang melegalkan perbudakan.

Kebencian dan prasangka rasial yang diucapkan oleh Huck dan tokoh-tokoh dewasa di sekitarnya bukanlah cerminan dari ideologi sang pengarang. Sebaliknya, Twain sengaja memotret kepayahan moral masyarakat tersebut untuk menelanjangi kemunafikan sistem sosial dan institusi agama yang membenarkan dehumanisasi manusia demi keuntungan ekonomi.

Inti dari perjalanan naratif novel ini adalah dekonsentrasi rasisme melalui perkembangan karakter Huck. Konflik batin paling krusial terjadi ketika doktrin sosial memaksa Huck untuk menyerahkan Jim kembali ke pemiliknya. 

Di atas rakit Sungai Mississippi, ruang isolasi yang bebas dari pengaruh peradaban korup, Huck menyaksikan langsung kemanusiaan, ketulusan, dan kapasitas mencintai yang dimiliki Jim. Puncak Resolusi Moral: Terjadi saat Huck merobek surat pengaduan dan berkata, "All right, then, I'll go to hell".

Makna Filosofis: Huck memilih dikutuk di akhirat menurut norma agamanya, daripada mengkhianati sahabat kulit hitamnya. Melalui transisi moral ini, Twain secara telak meruntuhkan asumsi superioritas rasial yang dipegang masyarakat kulit putih. Karakter Jim yang awalnya distereotipkan pelan-pelan bertransformasi menjadi sosok bapak dan simbol moralitas sejati dalam cerita. Ada kesamaan gerak arah nada dan irama narasi dengan To Kill A Mockingbird.

Kesimpulannya, Huckleberry Finn tidak mempromosikan rasisme; novel ini justru sebuah manifesto anti-rasisme yang menggunakan bahasa mentah pada zamannya untuk memukul balik prasangka pembaca.

Melarang buku ini hanya karena bahasanya yang ofensif berarti menutup mata dari salah satu kritik sastra paling tajam terhadap sejarah kelam perbudakan. Tidak kalah tajam ketimbang Uncle Tom’s Cabin mahakarya Harriet Beecher Stowe yang mempelopori Gerakan Pembebasan Para Budak di Amerika Serikat kemudian meledak sebagai Perang Saudara 1861-1865.


Washington Muda

Sebelumnya

Apa Itu Seni?

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana