post image
Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Dagmar González Grau, berbicara di International Week 2026 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Selasa, 29 September 2026.
KOMENTAR

Duta Besar Kuba untuk Indonesia, Dagmar González Grau, mengecam blokade Amerika Serikat serta kebijakan pengepungan energinya yang bertujuan untuk melumpuhkan ekonomi dan rakyat pulau tersebut, demikian dilaporkan oleh sumber-sumber diplomatik pada hari Selasa, 29 September 2026.

Saat mempresentasikan film Kuba berjudul “¿Por qué lloran mis amigas?” (Mengapa Teman-Temanku Menangis?) pada hari Selasa dalam acara International Week 2026 di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), González Grau menyatakan bahwa rakyat Kuba tetap teguh meskipun menghadapi permusuhan dari Amerika Serikat.

Penayangan film ini, ujarnya, adalah bukti nyata bahwa kebudayaan Kuba hidup, kuat, dan siap dibagikan kepada negara-negara sahabat seperti Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Kedutaan Besar Kuba juga menampilkan foto-foto negara kepulauan Karibia tersebut, termasuk dokumentasi kunjungan Presiden Sukarno ke Kuba pada Mei 1960 serta kunjungan pejuang revolusi Argentina-Kuba, Ernesto Che Guevara, ke Indonesia pada Juli 1959.

Mengenai acara International Week yang diselenggarakan oleh pusat pendidikan tinggi tersebut, sang diplomat menyampaikan bahwa kegiatan ini berkontribusi pada penguatan ikatan antara berbagai negara dan bangsa, sekaligus memperkaya pemahaman bersama mengenai adat istiadat dan budaya bangsa lain.

Film yang dipilih, yang dirilis pada tahun 2018, adalah salah satu film yang dipresentasikan pada awal bulan ini selama Festival Film Kuba di Jakarta, yang diadakan untuk menghormati pemimpin historis Revolusi Kuba, Fidel Castro, dalam rangka memperingati seratus tahun hari kelahirannya.

Fidel, yang memiliki hubungan dekat dengan Sukarno, mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan, kedaulatan, dan hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat-rakyat di dunia, tegasnya.

“¿Por qué lloran mis amigas?” berkisah tentang pertemuan kembali empat sahabat wanita setelah dua dekade tidak saling bertemu. Film ini mengangkat realitas sosial serta prasangka yang masih ada di Kuba, tambah sang diplomat sebelum mengundang para penonton yang hadir untuk menghadiri Festival Film Kuba Edisi Kedua di Jakarta.


Dubes Redouane Houssaini: Fatima Ezzahra Diangkat Jadi Perdana Menteri, Sejak Awal Raja Mohammed VI Punya Visi ke Depan

Sebelumnya

Demokrasi Matang dan Tonggak Sejarah Baru di Maroko Pasca-Pemilu 2026

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia