post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pemelajaran Kemanusiaan

DI hutan-belantara Nusantara, tidak ada singa yang menjadi raja. Rajanya adalah harimau, musuhnya adalah buaya, dan pahlawannya hewan kecil seukuran kucing: Kancil. Mengapa? Sejarah fabel Kancil adalah perjalanan legenda yang memutari dunia selama 2000 tahun.

1. Akar Tua: Pancatantra (India, 300 SM)

Semua fabel dunia berhulu pada satu buku: Pancatantra dari India. Ditulis oleh Brahmana Wisnu Sharma untuk mengajari pangeran-pangeran bodoh tentang politik. Tokoh utamanya bukan manusia, tapi dua serigala cerdik bernama Karataka dan Damanaka. Prinsipnya: menyindir politik kotor dengan cerita binatang agar tidak menyinggung raja.

Ketika agama Hindu-Buddha menyebar ke Asia Tenggara, Pancatantra ikut berlayar. Di Jawa, ia menjadi Tantri Kamandaka. Serigala India berubah menjadi Kancil. Mengapa? Karena di hutan tropis, tidak ada serigala. Hewan paling cerdik yang dikenal petani adalah kancil atau pelanduk — hewan kecil yang bisa menipu anjing pemburu.

2. Akar Barat: Aesop (Yunani, 600 SM) dan La Fontaine (Prancis, 1668)

Di Barat, tradisi yang sama muncul melalui Aesop, seorang budak Yunani. Bedanya besar: Fabel Aesop moralistis dan pendek. Kancil tidak ada. Tokohnya rubah, gagak, kura-kura. Pesannya: "Jangan serakah", "Jangan malas".

1600 tahun kemudian, Jean de La Fontaine dari Prancis menulis ulang Aesop dengan gaya bangsawan. Fabelnya menjadi satir politik yang halus untuk menyindir Raja Louis XIV. Hewan-hewannya memakai wig dan berbicara seperti menteri. Ini mirip dengan Kancil, tapi La Fontaine membela status quo, sedangkan Kancil memberontak.

3. Akar Nusantara: Filsafat Perlawanan

Si Kancil versi Melayu-Jawa (Hikayat Sang Kancil) jauh lebih subversif. Dalam cerita Kancil dan Buaya, Kancil yang kecil menipu puluhan buaya besar untuk menyeberang sungai dengan menghitung mereka. Dalam kisah Kancil dan Harimau, ia menipu raja hutan masuk ke sumur.

Ini bukan sekadar cerita anak. Ini adalah filsafat perlawanan wong cilik terhadap penguasa. Di masyarakat feodal Jawa dan Melayu, rakyat tidak bisa melawan raja secara terbuka. Maka mereka menciptakan pahlawan kerdil yang menang bukan dengan otot, tapi dengan akal (cerdik). Kancil adalah Robin Hood Nusantara.

4. Evolusi Modern: Orwell dan Babe

Tradisi ini mencapai puncaknya di abad 20 dengan dua karya:
Mahakarya George Orwell  “Animal Farm (1945)“. Fabel paling gelap. Jika Kancil menipu penguasa untuk bertahan hidup, hewan-hewan Orwell akhirnya menjadi penguasa yang lebih kejam. Orwell membalikkan fabel: hewan tidak lagi lucu, tapi totaliter dan otoriter.

Film “Babe” (1995): Fabel paling optimis. Babi kecil yang ingin menjadi anjing gembala. Jika Kancil mengajarkan "yang kecil harus menipu yang besar agar selamat", Babe mengajarkan "yang kecil bisa mengubah sistem dengan kebaikan".

Dari Pancatantra sampai Babe, benang merahnya satu: manusia selalu terlalu berbahaya untuk dikritik secara langsung, jadi kita pinjam mulut binatang untuk mengatakannya.


Avengers Endgame Encore

Sebelumnya

Apa Itu Kalkulus

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana