post image
Ahok Das dan Bambang Susantono (pertama dan kedua dari kiri), editor buku “Informal Services in Asian Cities: Lesson for Urban Planning and Management from the Covid-19 Pandemic” yang diluncurkan di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Kamis (1/9).
KOMENTAR

IKN Nusantara yang akan menjadi pengganti Jakarta sebagai ibukota Indonesia perlu mempelajari dengan sungguh-sungguh ketangguhan sektor informal dalam menghadapi krisis.

Pesan ini disampaikan Chief of Economist Asian Development Bank (ADB) Albert Park ketika memberikan sambutan dalam peluncuran buku “Informal Services in Asian Cities: Lesson for Urban Planning and Management from the Covid-19 Pandemic” yang diluncurkan di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Kamis (1/9).

“Hasil berbagai studi di dalam buku ini juga akan sangat berguna bagi kota-kota lain di dunia, termasuk bagi IKN Nusantara yang sedang dibangun,” ujarnya dalam sambutan secara virtual.

“Studi yang dilakukan di banyak negara terutama yang dirangkum di dalam buku ini memperlihatkan betapa sektor informal sesungguhnya merupakan bagian dari solusi, dan sama sekali bukan bagian dari persoalan,” sambungnya.

Adapun dua editor buku ini, Ashok Das dari University pf Hawaii at Manoa (UHM) dan Kepala Badan Otorita IKN Nusantara, Bambang Susantono, hadir dalam peluncuran yang dilakukan di Ruang Mengwi 5 BNDCC.

Buku setebal hampir 400 halaman itu menggarisbawahi ketangguhan sektor informal yang berperan penting dalam menyelamatkan banyak negara di tengah kelesuan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.

Dalam setidaknya dua tahun terakhir, pembuat kebijakan di banyak negara pun kembali menyadari betapa sektor informal sangat menentukan kemampuan masyarakat memitigasi dampak krisis.

Buku yang diterbitkan Asian Development Bank (ADB) dan ADB Institute (ADBI) ini berisi pengalaman sejumlah negara di Asia, seperti Indonesia, Filipina, Bangladesh, dan Kamboja. Peluncuran buku ini merupakan kerjasama ADB,  ADBI, Badan Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Lebih dari 20 periset yang menyumbangkan hasil peneltian di damal buku itu berasal dari berbagai institusi seperti ADD, University of Hawaii at Manoa (UHM), Seoul National University (SNU), Hong Kong University of Science and Technology, Waseda University, North South University, dan University of Illinois at Urbana-Champaign.

Bambang Susantono yang memberikan pengantar dalam peluncuran buku mengatakan, walau terlihat kokoh, namun sektor formal rentan terhadap berbagai krisis seperti di masa pandemi Covid-19 yang lalu dimana krisis kesehatan bergerak menjadi krisis ekonomi.

Sebaliknya, sektor informal yang pelaku utamanya adalah kalangan masyarakat bawah ternyata lebih memiliki kemampuan untuk bertahan dalam situasi krisis.

“Penelitian dari buku ini mendorong lembaga pemerintahan, pengambil kebijakan, dunia akademik untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada sektor informal,” ujar Bambang.


Ilmuan Rusia Peringatkan Potensi Bahaya dari Pecahan Satelit Galaxy 11 AS yang Hancur di Orbit

Sebelumnya

Bawa 34 Satelit Starlink, Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Diluncurkan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Technology