post image
Tangkapan layar lokasi kapal Gamsunoro berbendera Panama yang membawa minyak untuk Indonesia. Kapal ini dikelola PT Pertamina Internasional Shipping./Zona Terbang
KOMENTAR

Republik Islam Iran membenarkan telah mengizinkan sejumlah kapal dari beberapa negara melintasi Selat Hormuz. Konfirmasi ini disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Majid Takht-Ravanchi sepada AFP dan dikutip Times of Israel.

Dalam kesempatan yang sama, Majid membantah informasi yang menyatakan Iran memasang ranjau di perairan Selat Hormuz. 

“Beberapa negara telah berbicara kepada kami tentang melintasi selat dan kami telah bekerja sama dengan mereka,” kata Takht-Ravanchi dalam sebuah wawancara dengan AFP di Teheran.

“Sejauh menyangkut Iran, kami merasa bahwa negara-negara yang bergabung dalam agresi tersebut seharusnya tidak mendapat manfaat dari jalur aman melalui Selat Hormuz,” katanya.

Di antara kapal-kapal pengangkut minyak yang telah keluar dari Teluk Parsi dan melintasi Selat Hormuz adalah dua kapal berbendera Liberia dan Singapura yang membawa minyak untuk Indonesia. Dua kapal yang dimiliki PT Pertamina International Shipping (PIS) itu adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon.

PIS Rinjani kini berada di Gujarat, India. Dan PIS Paragon tengah bersandar di perairan Oman.

Dua kapal lainnya, Pertamina Pride yang berbendera Singapura dan Gamsunoro yang berbendera Panama masih berada di perairan Teluk Parsi. Persisnya Pertamina Pride berada di dekat kota pelabuhan Dammam, Arab Saudi. Adapun Gamsunoro sampai berita ini diturunkan Zona Terbang masih berada di Basrah, Irak. 

Takht-Ravanchi menambahkan bahwa Iran tidak memasang ranjau di selat tersebut, setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan AS telah menyerang 28 kapal pemasang ranjau Iran di jalur air tersebut.

“Sama sekali tidak. Ini tidak benar,” katanya ketika ditanya tentang laporan Iran memasang ranjau di jalur air strategis tersebut.

Ia juga mengatakan Iran ingin memastikan bahwa perang tidak akan lagi dipaksakan kepadanya di masa depan.

“Kami ingin memastikan bahwa perang tidak akan lagi dipaksakan kepada Iran,” kata Takht-Ravanchi. “Ketika perang dimulai Juni lalu, setelah 12 hari terjadi apa yang disebut gencatan senjata… tetapi setelah delapan atau sembilan bulan, mereka berkumpul kembali dan melakukannya lagi.”


Perang Timur Tengah, Defisit 3 Persen: Ujian APBN Indonesia

Sebelumnya

Pembatasan Ekspor Batubara Indonesia dalam Menghadapi Krisis Energi Global

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekbis