post image
Salah satu rudal antar benua milik Korea Utara yang dipamerkan dalam peringatan HUT ke-80 Partai Pekerja Korea di Pyongyyang, 10 Oktober 2025./Zona Terbang
KOMENTAR

Namun dimensi yang lebih penting dari konflik ini bagi Korea Utara bukan sekadar solidaritas politik terhadap Iran.

Oleh: Safriady, Pengamat Isu Ketahanan Nasional dan Global

ESKALASI konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal 2026 telah mengubah lanskap geopolitik global secara dramatis. Serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu yang menargetkan fasilitas militer dan elit kepemimpinan Iran menjadi titik balik penting yang memperluas risiko perang regional di kawasan Teluk.

Operasi militer tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dan memicu serangan balasan Iran terhadap kepentingan Amerika di kawasan.

Tulisan ini mencoba mendeskripsikan bagaimana di tengah eskalasi tersebut, satu aktor strategis global terlihat tidak berada di garis depan konflik tetapi tetap memainkan peran penting dalam kalkulasi geopolitiknya yaitu Korea Utara. Pertanyaannya bukan sekadar di mana posisi Pyongyang dalam konflik ini, tetapi bagaimana negara tersebut membaca krisis Timur Tengah sebagai bagian dari strategi keamanan dan diplomasi globalnya.

Korea Utara: Dukungan Retorik kepada Iran

Reaksi resmi Korea Utara terhadap konflik ini muncul melalui pernyataan keras pemerintahnya. Pyongyang secara terbuka mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sebagai “agresi ilegal” yang melanggar kedaulatan negara. Pemerintah Korea Utara menilai operasi militer tersebut sebagai manifestasi dari dominasi global Washington dan sekutunya.

Pernyataan tersebut tidak sekadar retorika diplomatik. Dalam politik internasional, posisi ini mencerminkan pola aliansi informal yang telah berlangsung lama antara Korea Utara dan Iran. Kedua negara sama-sama berada di bawah tekanan sanksi Barat dan memiliki kepentingan strategis yang serupa dalam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat.

Sejarah menunjukkan hubungan militer kedua negara bukan hal baru. Sejak Perang Iran-Irak pada 1980-an, Korea Utara menjadi salah satu pemasok utama persenjataan bagi Iran, termasuk artileri, tank, dan teknologi militer lain yang ditukar dengan minyak dan devisa.

Dalam konteks konflik 2026, hubungan historis tersebut memperkuat persepsi bahwa Pyongyang melihat Iran sebagai mitra strategis dalam menghadapi dominasi geopolitik Barat.

Pelajaran Strategis bagi Kim Jong Un

Namun dimensi yang lebih penting dari konflik ini bagi Korea Utara bukan sekadar solidaritas politik terhadap Iran. Bagi rezim Kim Jong Un, serangan terhadap Iran justru menjadi pelajaran strategis tentang pentingnya kemampuan nuklir sebagai alat deterrence.

Para analis sepakat menilai bahwa serangan AS-Israel terhadap Iran dapat memperkuat keyakinan Pyongyang untuk mempertahankan bahkan memperluas arsenal nuklirnya. Logikanya sederhana yaitu negara yang tidak memiliki senjata nuklir lebih rentan terhadap intervensi militer eksternal.

Dalam kalkulasi strategis Korea Utara, Iran menjadi contoh nyata dari apa yang mereka sebut sebagai lesson of deterrence. Jika Iran memiliki kemampuan nuklir operasional seperti Korea Utara, kemungkinan besar serangan langsung terhadap kepemimpinannya akan jauh lebih kecil. Karena itu, konflik Timur Tengah secara tidak langsung memperkuat posisi Pyongyang dalam mempertahankan program nuklirnya sebagai jaminan kelangsungan rezim.

Proliferasi dan Teknologi Militer

Ada pula dimensi lain yang membuat Korea Utara relevan dalam konflik ini yakni jaringan teknologi militer global. Sejumlah sistem rudal Iran diketahui memiliki keterkaitan dengan desain Korea Utara. Misalnya, rudal balistik Iran Khorramshahr diyakini berasal dari varian teknologi rudal Korea Utara Hwasong-10 yang kemudian dimodifikasi oleh Iran.

Keterkaitan teknologi tersebut menunjukkan bahwa meskipun Korea Utara tidak terlibat langsung dalam perang di Timur Tengah, kontribusinya terhadap ekosistem militer Iran telah berlangsung lama. Dalam perspektif intelijen strategis, hal ini menandakan bahwa konflik Timur Tengah tidak sepenuhnya regional, tetapi merupakan bagian dari jaringan militer lintas kawasan.

Observer dari Jarak Aman

Kemampuan membaca eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Korea Utara tampaknya memilih pendekatan yang sangat kalkulatif dengan mengamati dari jarak aman. Pyongyang tidak menunjukkan tanda-tanda keterlibatan langsung dalam konflik tersebut, tetapi tetap memantau setiap perkembangan dengan perhatian tinggi.

Sikap ini mencerminkan pola perilaku strategis Korea Utara yang selama beberapa dekade dikenal sangat berhati-hati dalam menentukan kapan harus terlibat secara aktif dan kapan cukup memainkan peran sebagai pengamat yang memanfaatkan situasi. Salah satu alasan utama di balik posisi ini adalah prioritas keamanan Korea Utara yang tetap terfokus pada Semenanjung Korea.

Bagi rezim Kim Jong Un, dinamika militer di kawasan Asia Timur jauh lebih menentukan bagi kelangsungan rezim dibanding konflik di Timur Tengah. Hubungan tegang dengan Amerika Serikat, latihan militer rutin antara Washington dan Korea Selatan, serta perkembangan teknologi militer Seoul menjadi isu yang terus mendominasi kalkulasi keamanan Pyongyang.

Dalam konteks tersebut, sumber daya militer dan politik Korea Utara hampir seluruhnya diarahkan untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan sendiri. Keterlibatan langsung di konflik Timur Tengah tidak memberikan keuntungan strategis yang sebanding dengan risiko yang harus ditanggung.

Selain itu keterbatasan kemampuan proyeksi kekuatan militer. Korea Utara memang memiliki kemampuan militer yang signifikan, terutama dalam bidang rudal balistik dan senjata nuklir. Namun kemampuan tersebut pada dasarnya dirancang untuk tujuan deterrence regional, bukan untuk operasi militer jarak jauh.

Berbeda dengan Amerika Serikat yang memiliki jaringan pangkalan militer global atau Rusia yang mampu menggelar operasi ekspedisioner di berbagai kawasan, Korea Utara tidak memiliki infrastruktur logistik yang memungkinkan pengiriman pasukan atau peralatan militer secara efektif ke Timur Tengah. Dengan kata lain, bahkan jika Pyongyang memiliki kepentingan politik dalam konflik tersebut, kemampuan praktis untuk terlibat secara langsung tetap sangat terbatas.


Ini 10 Negara dengan Kekuatan Udara Terbesar

Sebelumnya

Sumbangan Tiga Matra AS dalam Operasi Epic Fury

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer