post image
Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez bicara di hadapan anggota Majelis Nasional, 15 Januari 2026.
KOMENTAR

Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, dalam di hadapan Majelis Nasional, Kamis, 15 Januari 2026, menyampaikan pesan tahunan penting yang menggemakan prinsip-prinsip inti Revolusi Bolivarian: komitmen yang kuat terhadap nasionalisme dan pembelaan teguh terhadap kedaulatan negara.

Dalam kegiatan ini di samping podium utama foto Nicolas Maduro dan istri, Cilia Flores, ditempatkan berdampingan dengan foto Hugo Chavez.

Dikutip dari Telesur, Pidato Rodriguez menggarisbawahi sikap tegas Venezuela, khususnya dalam menghadapi gesekan geopolitik yang baru-baru ini meningkat dengan Amerika Serikat.

Ia secara eksplisit menuduh pasukan AS mengatur "penculikan" Presiden Nicolas Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores pada tanggal 3 Januari, sebuah tuduhan serius yang menjadi landasan bagi artikulasi komprehensifnya tentang pendekatan Venezuela terhadap hubungan internasional dan martabat nasional.

Pidatonya bukan sekadar pembaruan, tetapi deklarasi strategis, yang dirancang untuk memperkuat persatuan internal dan memproyeksikan citra tekad yang tak tergoyahkan di panggung global.

Menegakkan Pilar Kedaulatan Venezuela

Pidato Presiden Sementara Rodriguez berfungsi sebagai penegasan kembali yang kuat atas hak inheren Venezuela untuk menentukan nasib sendiri, sebuah prinsip yang tertanam kuat dalam etos Revolusi Bolivarian.

Ia dengan cermat merinci bagaimana pemerintahan saat ini, di bawah kepemimpinan yang sering dikaitkan dengan Presiden Maduro, secara konsisten memprioritaskan perlindungan integritas teritorialnya, kemerdekaan politik, dan proses pengambilan keputusan otonom yang mendefinisikan negara berdaulat.

Rodriguez menekankan bahwa semangat nasionalistik yang kuat ini melampaui retorika politik semata; ia menegaskan, ini adalah kekuatan pendorong mendasar di balik semua tindakan pemerintah, kebijakan domestik, dan keterlibatan internasional, khususnya yang bertujuan untuk memperkuat bangsa terhadap tekanan eksternal dan berbagai bentuk intervensi asing.

Pemerintahan Bolivarian, sejak awal berdirinya, secara konsisten memposisikan diri sebagai benteng yang waspada terhadap apa yang sering digambarkannya sebagai ambisi imperialistik, khususnya dari kekuatan Barat.

Konteks historis ini memberikan lensa penting untuk memahami penekanan teguh pada kedaulatan yang diungkapkan oleh Rodriguez, sebuah tema yang berulang dalam wacana politik Venezuela.

Tuduhan dan Niat Diplomatik

Sebagian besar pidato Rodriguez yang mengesankan didedikasikan untuk hubungan yang sangat tegang antara Caracas dan Washington.

Ia secara tegas merujuk pada insiden yang sangat serius: dugaan "penculikan" Presiden Nicolás Maduro dan Ibu Negara Cilia Flores oleh pasukan AS, yang menurutnya terjadi pada tanggal 3 Januari.

Tuduhan serius ini, jika terbukti, menandai peningkatan dramatis dalam hubungan bilateral yang sudah tegang, melampaui sanksi ekonomi dan tekanan politik hingga tindakan langsung terhadap kepala negara.

Rodriguez mengartikulasikan strategi ganda untuk mengatasi agresi yang dirasakan ini: sementara Venezuela berkomitmen untuk menghadapi tantangan tersebut melalui saluran diplomatik yang kuat, ia menegaskan dengan tegas bahwa kedaulatan negara tetap merupakan prinsip absolut yang tidak dapat dinegosiasikan.

Oleh karena itu, pesannya merupakan perpaduan yang bernuansa antara upaya mencari solusi damai melalui dialog, sekaligus menyampaikan tekad yang teguh untuk menentang segala bentuk penindasan atau pemaksaan dari luar.

Penyebutan insiden 3 Januari, yang disajikan sebagai tindakan permusuhan yang jelas, menggarisbawahi persepsi Venezuela tentang tindakan yang ditargetkan dan ekstrem dari Washington, yang semakin memperumit lanskap diplomatik yang sudah genting antara kedua negara.


Mahasiswa Indonesia Patahkan Propaganda Media Barat: Iran Aman-aman Saja

Sebelumnya

Tokoh Oposisi Venezuela Bertemu Trump, Menyerahkan Medali Hadiah Nobel

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global