post image
Ilustrasi animasi "Toy Story".
KOMENTAR

Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI

SEMUA saya gemar menonton serial film animasi “Toy Story” “hanya” sebagai hiburan sesaat yang menyenangkan. Namun setelah merenung lebih jauh, saya merasa ada sesuatu makna filosofis lebih mendalam terkandung di dalam sukma film produksi Disney tersebut.

Para boneka mendadak hidup jika tidak ada manusia di dekatnya namun mendadak menjadi benda tidak hidup pada saat ada manusia mengingatkan saya pada kisah Chuang Tse bermimpi menjadi kupu-kupu yang bermimpi menjadi Chuang Tse tanpa kejelasan siapa yang bermimpi menjadi siapa.

Filsafat kesadaran Chuang Tse memengaruhi pemikiran Artur Schopenhauer lanjut sampai Jean Paul Sartre bahkan Juergen Habermas serta Markus Gabriel.

Serial film animasi tersebut juga mengingatkan saya pada polemik George Berkeley versus David Hume tentang apakah jika sebuah pohon besar roboh di tengah hutan belantara tanpa ada manusia di sekitarnya apakah akan terdengar suara pohon ambruk atau sama sekali tidak ada suara.

Berkeley berargumen bahwa jika tidak ada yang mendengar atau melihat pohon itu, maka tidak ada suara yang dihasilkan.

Sementara Hume membahas pertanyaan itu dalam karyanya “An Enquiry Concerning Human Understanding”. Hume berargumen bahwa suara itu ada, tetapi hanya sebagai gelombang getaran udara, dan bahwa persepsi suara itu sendiri adalah hasil dari kesadaran manusia.

Jadi, jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan “suara”. Jika kita mendefinisikan suara sebagai gelombang getaran udara, maka ya, pohon itu mengeluarkan suara. Tapi jika kita mendefinisikan suara sebagai persepsi kesadaran, maka tidak ada suara jika tidak ada yang mendengarnya.

Dapat disimpulkan bahwa serial film “Toy Story” yang dibintangi suara Tom Hanks sebagai Woody sang boneka cowboy mirip Lucky Luke serta suara Tim Allen sebagai boneka astronaut Buzz Lightyear memang mengandung makna filsafat lebih luas dan mendalam namun tergantung apakah saya mampu mendeteksi kemudian menafsirkannya.

Jika saya tidak mampu maka serial film “Toy Story” “sekadar” hiburan sesaat yang menyenangkan. Jika mau dan mampu menemukan makna lebih filosofis maka film animasi pemenang piala Oscar tersebut layak dihargai sebagai film yang mengandung makna filsafat kesadaran cukup luas dan mendalam.

 


Sadarkah Trump atas Perbuatannya?

Sebelumnya

Sekilas Menganalisa Psikoanalisa

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Jaya Suprana