Di tengah tekanan AS yang semakin menjadi, pemerintah Kuba akhirnya bersedia mengadakan pembicaraan dengan pemerintahan Donald Trump. Hal ini diakui presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, pada hari Jumat, 13 Maret 2026.
Pernyataan Diaz-Canel ini mengkonfirmasi spekulasi yang berkembang yang mengatakan bahwa kedua negara sedang berbicara setelah Presiden AS Trump memperbarui ancamannya tentang “pengambilalihan secara damai” Kuba. Kata Trump, pulau Karibia yang dikelola kelompok komunis yang dipimpin Raul Castro itu berada dalam “masalah besar.”
“Percakapan ini bertujuan untuk mencari solusi, melalui dialog, untuk perbedaan bilateral yang ada antara kedua negara,” kata Díaz-Canel, menurut pernyataan yang diposting di media sosial oleh Menteri Luar Negeri Bruno Rodríguez Parrilla.
“Ada faktor internasional yang telah memfasilitasi pertukaran ini,” kata Díaz-Canel.
Negara ini menghadapi krisis ekonomi yang semakin memburuk. AS telah memberlakukan blokade minyak di pulau itu sejak Januari, tak lama setelah sekutunya dan pemasok minyak utama, Presiden Venezuela Nicolás Maduro, ditangkap dalam operasi militer yang luar biasa.
Pemadaman listrik besar-besaran pekan lalu menyebabkan jutaan orang di pulau itu tanpa listrik.
Pada konferensi pers hari Jumat, Díaz-Canel juga memperingatkan bahwa negosiasi adalah "proses panjang" yang membutuhkan kemauan dan saluran dialog, dengan mengatakan "Semua itu membutuhkan waktu," menurut CBS News.
Trump baru-baru ini berbicara secara terbuka tentang prospek Kuba menjadi subjek langkah kebijakan luar negeri besar lainnya.
Presiden AS mengatakan awal bulan ini bahwa setelah rezim Iran digulingkan, “Kuba juga akan jatuh,” menurut Politico.


KOMENTAR ANDA