Oleh: Selwa Kumar, PP IKA USU Bidang Seni dan Budaya
SENJA Ramadhan selalu datang dengan cara yang lembut. Ia turun perlahan seperti tangan ibu yang menepuk bahu anaknya yang lelah. Angin membawa bau tanah basah, dan di banyak rumah orang-orang menunggu azan dengan tenang.
Di sebuah sudut kota di Teheran, seorang pria tua duduk di kursi kayu yang telah lama menemani hidupnya. Janggutnya memutih seperti salju yang sabar menunggu musim semi. Air wudunya seakan tak pernah kering. Wajahnya cerah, dikelilingi cucu, istri, dan menantu.
Seorang gadis kecil berjalan pelan dengan mukena putih. Ia menggelar sajadah biru di lantai untuk sang atok. Gerakannya hati-hati, seperti seseorang yang sedang menata langit.
Pria tua itu lalu berpindah dari kursinya ke sajadah. Ia duduk. Diam. Menunggu.
Menunggu suara azan dari masjid kecil di samping rumah.
Dalam tafakur panjang, ia seperti berbicara dengan Tuhan tanpa kata.
Tetapi senja hari itu tidak datang dengan damai.
Tiba-tiba langit menggelegar. Bukan suara azan. Bukan pula guntur.
Sebuah benda runcing dari langit menghantam rumah di sudut kota. Ledakan merobek udara Ramadhan yang suci. Dinding runtuh. Debu memenuhi langit.
Pria tua itu terbujur kaku dalam dahaga puasanya.
Gadis kecil yang tadi menggelar sajadah mengerang. Darah membanjiri mukena putihnya. Sajadah biru berubah warna. Merah.
Darah itu seolah mengalir jauh, melampaui kota, melampaui batas negara. Mengalir seperti duka panjang manusia menuju sungai purba di tanah Mesopotamia—Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.
Di sudut kota lain, di sebuah maktab yang penuh dengan gadis-gadis kecil yang sedang belajar memuji kebesaran Sang Pencipta, langit kembali pecah oleh rudal.
Anak-anak itu jatuh satu demi satu. Napas kecil mereka pulang kepada Tuhan.
Langit Iran mendadak gelap. Bukan karena malam. Tetapi karena duka.
Di layar televisi dunia, pidato tentang kemanusiaan terus dikumandangkan. Para pemimpin negara besar berbicara tentang perdamaian. Tentang stabilitas. Tentang nilai-nilai universal.
Namun di tanah yang hancur, kata-kata itu terdengar seperti gema kosong.
Karena yang terbaring di tanah bukan statistik.
Mereka adalah anak-anak.
Jenazah gadis-gadis kecil itu memancarkan aroma melati. Seperti bunga yang jatuh sebelum sempat mekar. Ribuan melati lain layu di sudut-sudut negeri.
Di tengah semua itu, sosok pria tua tadi menjelma simbol yang lebih besar dari dirinya sendiri. Bagi banyak orang di negaranya, ia adalah lambang keteguhan—seorang pemimpin yang tidak mau tunduk kepada tekanan kekuasaan dunia.
Namanya adalah Ali Khamenei.
Bagi para pendukungnya, ia adalah simbol perlawanan terhadap dominasi global dan hegemoni kekuatan besar seperti Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Israel.


KOMENTAR ANDA