post image
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam jumpa pers di Kediaman Duta Besar di Jalan Madiun, Jakarta Pusat, Kamis sore, 21 Januari 2026./ZonaTerbang
KOMENTAR

Pemerintah Republik Islam Iran mulai membuka misteri yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pertanyaan seluruh dunia: apa yang terjadi di Iran, mengapa, dan apa dampaknya? 

Demonstrasi rakyat Iran menolak kenaikan harga barang yang dipicu inflasi akibat blokade ekonomi dibajak pihak asing yang ingin menumbangkan pemerintahan Iran. 

Secara umum itulah inti dari penjelasan yang disampaikan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam jumpa pers di Kediaman Duta Besar di Jalan Madiun, Jakarta Pusat, Kamis sore, 21 Januari 2026.

Dalam kesempatan itu Dubes Boroujerdi didampingi hampir seluruh staf Kedubes Iran yang bertugas. Sebuah backdrop berukuran besar di belakangnya bertuliskan “Iran is a Phoenix that Rises Stronger from the Flames of Hostility”. 

Bendera Iran berada di sebelah kirinya, sementara sebuah televisi di sisi kanan digunakan untuk menayangkan video dari CCTV yang merekam pembajakan demonstrasi sehingga berubah menjadi kerusuhan besar dan menewaskan ribuan orang.

Dubes Boroujerdi mengatakan, peristiwa kerusuhan berawal dari tanggal 28 Desember 2025 ketika rakyat menggelar unjuk rasa damai terkait kenaikan harga barang. Dia menyebut ini sebagai fase pertama.

Aksi berjalan damai, dan aparat keamanan yang diturunkan untuk mengawal aksi juga tidak dilengkapi dengan senjata. 

Selain itu pemerintah Iran mendengarkan aspirasi masyarakat dan siap mengakomodasi tuntutan.

Adapun fase kedua, antara 1 sampai 7 Januari 2026, aksi masyarakat mulai ditunggangi oleh berbagai pihak yang ingin membelokkan arah demonstrasi menjadi kerusuhan dan menciptakan korban jiwa sebanyak mungkin. Kelompok ini melakukan kekerasan, membakar kendaraan, rumah, pertokoan, dan rumah sakit. Juga melepaskan tembakan ke arah masyarakat.

Korban jatuh di pihak aparat keamanan yang tak dibekali senjata. 

“Kami telah melakukan penyadapan terhadap komunikasi dari luar negeri yang membuktikan adanya instruksi kepada oknum tertentu di tengah masyarakat untuk turun ke jalan dan menyerang aparat keamanan,” ucap Boroujerdi.

Pembajakan aksi dapat didukung pernyataan-pernyataan sejumlah pejabat AS secara terang-terangan mendukung gerakan pergantian rezim di Iran.

Pada fase ketiga, 8 sampai 10 Januari 2026, situasi semakin buruk. Kelompok teroris berhasil menguasai jalanan, sementara masyarakat Iran memilih berdiam diri di rumah masing-masing. 

Kelompok teroris yang merasa kehadiran mereka sudah diketahu semakin marah dan beringas. Pembantaian semakin menjadi. Mereka berupaya membuat korban tewas sebanyak mungkin, dan menyalahkan Iran sebagai pelaku pembunuhan dan pembantaian. 

Mereka ingin menciptakan gambaran bahwa Iran melanggar HAM sehingga sah bagi negara asing untuk turun tangan. 

Aksi kaki tangan dinas intelijen AS CIA dan dinas intelijen Israel Mossad tampak jelas. Pemerintah Iran telah mempelihatkan rekaman CCTV akan hal itu kepada sejumlah Duta Besar negara sahabat di Tehran. 

Fase penutup adalah gelombang rakyat Iran yang mendukung pemerintah Iran pada 12 Januari 2026. 

Walau berhasil menguasai keadaan, namun jumlah korban tewas begitu banyak. Menurut catatan resmi Iran, korban tewas mencapai 3.117. Dari jumlah itu, 2.427 di antaranya adalah warga sipil dan aparat keamanan. 

Selebihnya adalah teroris yang digerakkan CIA dan Mossad.

“Sekitar dua per tiga korban mati syahid. Mereka berasal dari kalangan aparat negara yang memberikan jasa kepada masyarakat, serta warga tak berdosa,” demikian Dubes Boroujerdi.

 


Prabowo: 'Board of Peace' Peluang Ciptakan Perdamaian

Sebelumnya

Prabowo Tandatangani Piagam ‘Board of Peace’ untuk Perdamaian Abadi Gaza

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Politik Global