post image
Kerusakan di Tel Aviv akibat serangan Iran.
KOMENTAR

Kemampuan Iran, mampu menyerang tanpa jeda target-target militer baik Israel maupun pangkalan dan kedubes AS di negara-negara Timur Tengah.

Oleh: Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen 

PERKEMBANGAN perang antara AS-Israel vs Iran sudah berjalan 18 hari. Keberhasilan kedua belah pihak tidak hanya sukses penghancuran oleh alutsista saja. Penilaian intelijen taktis adalah kekuatan, kemampuan dan kerawanan militer, yaitu jumlah alutsista, personil, serta kemampuan terkait daya rusak senjata-senjata strategis modern.

Dalam teori perang modern, kapal induk, pesawat tempur, sistem defence bukan alutsista tunggal, tetapi peluru kendali balistik, drones menjadi pesaing populer yang menghancurkan.

Kemampuan koalisi AS selain akurasi intelijen, teknologi stealth, pesawat tempur strategis koalisi mampu menyerang garis belakang. Kemampuan Iran, mampu menyerang tanpa jeda target-target militer baik Israel maupun pangkalan dan kedubes AS di negara-negara Timur Tengah.

Sementara kerawanan Iran lemahnya Air defence serta kekuatan Angkatan Laut. Pengamanan pribadi pimpinan tertingginya bisa dideteksi lawan, diberitakan Mojtaba Khamenei, Supreme Leader-nya kini terluka dan sedang di evakuasi ke Moscow. Pihak koalisi, kerawanan Israel mulai kekurangan Alutsista, Air defence mulai dapat ditembus rudal Iran. Kerawanan AS, tidak semua sekutu NATO membantu, menyatakan perang bukan keinginan mereka. Pangkalan aju di negara-negara teluk dapat dicapai rudal Iran. 

Posisi kerawanan Presiden Trump, mulai muncul di publik dan anggota kongres yang anti. Bila Trump di-impeache, tatanan tempur akan berubah. 

Penilaian Intelijen Strategis 

Dalam konflik ini, dari penilaian intelijen strategis, selain komponen militer, yang juga berpengaruh kuat komponen ekonomi. Penutupan Selat Hormus memengaruhi geopolitik, geostrategi dan geoekonomi kawasan dan mulai melebar ke dunia. Iran memiliki unsur pressure jalur minyak dan gas. NATO sekutu AS menolak berperan mengamankan Selat Hormuz, tidak sesuai kepentingan NATO. Amerika terpengaruh dengan kondisi naiknya harga minyak dunia, dalam kondisi perekonomian yang kurang baik, ada potensi inflasi naik. AS mulai melakukan pemboman pulau Kharg.

Pidato Mojtaba yang keras dan Mengguncang 

Pada tanggal 9 Maret 2026, Mojtaba dalam pudatonya memberi ultimatum kepada AS  dengan tiga tuntutan utama: 

1. Penarikan total pasukan militer Amerika harus mulai ditarik dari Timur Tengah (Irak, Suriah, Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE, Arab Saudi) dalam waktu tiga puluh hari.
2. Amerika harus mencabut seluruh sanksi ekonomi yang dijatuhkan sejak 1979, termasuk embargo minyak dan perbankan, dalam waktu enam puluh hari.
3. Amerika harus membayar kompensasi sebesar 500 miliar dolar atas "perang ekonomi" selama puluhan tahun, yang dicicil dalam sepuluh tahun. 

Jika tidak dipenuhi Selat Hormuz, skan di tutup dan Iran akan meaktivasi pakta militer dengan Rusia dan China (termasuk pendirian pangkalan asing di Iran), Iran akan mengembangkan penuh kemampuan pencegah nuklir. 

Reaksi dan Efek Pidato Mojtaba 

Dari pidato tersebut, China mengeluarkan pernyataan mendukung “kekhawatiran keamanan Iran yang sah”  disusul dukungan dari Rusia. Side efect dunia, pasar global langsung kolaps. Minyak Mentah: Harga Brent melonjak 18% menjadi $121 per barel.

Sementara. Harga Emas mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, Bitcoin anjlok 22% karena investor beralih ke aset safe haven.

Reaksi Gedung Putih 

Didapat informasi kebocoran dokumen rahasia Pentagon, 9 Maret) pada intinya infrastruktur Iran memang rusak, tetapi produksi rudal dan fasilitas nuklir bawah tanah tetap utuh. Iran masih memiliki kemampuan untuk menyerang pasukan Amerika tanpa batas waktu.

Disimpulkan, untuk mencapai kemenangan militer total, Amerika harus melakukan invasi darat besar-besaran dengan 200.000 tentara selama 18 bulan, biaya $3 triliun, dan perkiraan akan jatuh 15.000 korban jiwa.

Amerika tidak bisa menang tanpa invasi darat, terutama bila Iran mendapat dukungan penuh dari China-Rusia. Presiden bersama Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Jenderal CQ Brown membahas respons kritis ini.

Berdasarkan situasi ini, berikut adalah skenario langkah Amerika Serikat, Presiden diperkirakan akan memilih salah satu dari tiga jalur berikut:

Skenario A: Jalur Diplomasi Kompromi (Probabilitas Sedang). Mengirim utusan khusus ke Tehran melalui mediator Oman atau Swiss. Amerika mungkin menawarkan "negosiasi tanpa prasyarat" yang secara implisit mengakui legitimasi pemerintahan baru Iran.

Konsekuensi, mengurangi eskalasi langsung dan mengamankan pasar, tetapi dianggap sebagai "Akhir dominasi Amerika di Timur Tengah." Ini akan memicu kemarahan sekutu tradisional Israel 

Skenario B: Eskalasi Terkendali (Probabilitas: Tinggi,  langkah, menolak ultimatum secara diplomatis sambil meningkatkan postur militer secara signifikan. Amerika  mengerahkan kelompok tempur kapal induk, kapal pendarat Amfibi, serta secara terbuka memperingatkan China dan Rusia agar tidak ikut campur. 


Konlik Teluk, Saat Indonesia Harus Menyala

Sebelumnya

AS Tekan Kosta Rika Tutup Kedubes di Havana

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia