Dunia penerbangan militer dikejutkan dengan munculnya rancangan undang-undang baru di Kongres Amerika Serikat yang berpotensi mengembalikan jet tempur legendaris F-14D Tomcat ke angkasa. Setelah resmi dipensiunkan sekitar 20 tahun lalu, pesawat yang ikonik lewat film “Top Gun” ini direncanakan akan diserahkan kepada pihak sipil untuk tujuan pelestarian sejarah dan pertunjukan udara.
Rancangan undang-undang yang diberi nama unik “Maverick Act” ini diperkenalkan oleh Senator Tim Sheehy dan didukung oleh Senator Mark Kelly pada 23 Maret 2026.
Nama regulasi ini merujuk langsung pada karakter utama dalam film yang mempopulerkan pesawat tersebut. Langkah ini menjadi angin segar bagi para pecinta dirgantara yang selama dua dekade terakhir hanya bisa melihat Tomcat di museum.
Pada 28 April 2026, Senat Amerika Serikat telah menyetujui RUU tersebut secara bulat melalui persetujuan mufakat. Saat ini, proses legislasi telah mencapai tahap pemungutan suara di tingkat House of Representatives (DPR AS) per tanggal 4 Mei. Jika disetujui sepenuhnya, Sekretaris Angkatan Laut akan memiliki wewenang resmi untuk memindahkan kepemilikan tiga unit F-14D Tomcat ke Alabama.
Pihak yang ditunjuk sebagai penerima adalah Komisi Pusat Ruang Angkasa dan Roket AS (U.S. Space and Rocket Center) yang berlokasi di Huntsville, Alabama. Museum ini dikenal sebagai salah satu museum ruang angkasa terbesar di dunia. Berdasarkan draf undang-undang tersebut, tiga pesawat yang akan dihibahkan telah diidentifikasi melalui nomor biro resminya, yaitu 164341, 164602, dan 159437.
Meskipun akan dipulihkan, dokumen tersebut menegaskan bahwa pesawat-pesawat ini tidak akan memiliki kapabilitas tempur lagi. Seluruh sistem peluncuran amunisi dan fungsi persenjataan asli telah dihapus sepenuhnya. Angkatan Laut tidak diwajibkan untuk memperbaiki kondisi fisik pesawat sebelum penyerahan, namun mereka akan menyediakan manual pemeliharaan serta suku cadang yang masih tersisa di gudang.
Hal yang paling menarik dari "Maverick Act" adalah poin yang menyebutkan bahwa salah satu dari tiga pesawat tersebut kemungkinan akan dibuat agar bisa terbang kembali (flyable). Sekretaris Angkatan Laut diminta untuk menyediakan suku cadang berlebih guna mendukung restorasi salah satu unit, dengan catatan suku cadang tersebut harus berasal dari stok yang sudah ada dan bukan pengadaan baru.
Namun, seluruh tanggung jawab teknis dan biaya pemulihan sepenuhnya berada di pundak Komisi Pusat Ruang Angkasa dan Roket AS. Pihak Angkatan Laut tidak akan memberikan dukungan tambahan melampaui apa yang sudah disepakati dalam undang-undang tersebut. Komisi juga diizinkan bekerja sama dengan organisasi nirlaba yang berkualifikasi untuk merestorasi dan mengoperasikan pesawat dalam acara peringatan sejarah atau pertunjukan udara.
Langkah ini dianggap sebagai terobosan besar karena sebelumnya AS sangat membatasi akses terhadap rangka pesawat F-14 yang sudah pensiun. Ketatnya pengawasan suku cadang dilakukan demi mencegah penyelundupan komponen ke Iran, satu-satunya negara lain yang masih mengoperasikan Tomcat. Banyak bagian pesawat yang bahkan dihancurkan secara sengaja setelah pensiun pada tahun 2006 untuk menjaga kerahasiaan teknologi.
Proses mengembalikan F-14D ke udara diprediksi akan menemui tantangan teknis yang sangat berat. Pesawat tersebut memerlukan inspeksi mendalam pada struktur rangka dan sistem internalnya setelah terparkir di gurun selama dua dekade. Selain itu, pesawat harus memenuhi persyaratan sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA) agar dianggap layak terbang secara sipil.
Selain kendala teknis, biaya operasional yang sangat tinggi dan rantai pasokan suku cadang yang sudah tidak ada lagi menjadi hambatan utama. Meskipun sulit untuk melakukan operasional rutin di pameran udara, para ahli menilai penerbangan terbatas untuk acara warisan sejarah jauh lebih memungkinkan. Proses restorasi ini diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun sebelum publik benar-benar bisa melihat F-14 Tomcat kembali membelah langit.




KOMENTAR ANDA