Oleh: Jaya Suprana, Budayawan dan Pendiri MURI
HASTA Brata adalah kerifan kepemimpinan Jawa yang bersumber dari ajaran Hindu dan pewayangan mengajarkan delapan sifat mulia alam semesta yang wajib dimiliki seorang pemimpin. Konsep ini melambangkan pemimpin yang kokoh, bijaksana, adil, dan mengayomi, diwujudkan melalui sifat bumi, matahari, api, samudra, langit, angin, bulan, dan bintang.
Berikut adalah delapan unsur Hasta Brata beserta maknanya:
1. Bumi (Bantala): Kokoh, murah hati, dan menjadi dasar kehidupan. Pemimpin harus mampu memberi tanpa pamrih.
2. Matahari (Surya): Memberi energi, kehidupan, dan visi. Pemimpin harus menjadi sumber motivasi dan pencerah.
3. Api (Dahana/Agni): Tegas, adil, dan membakar kejahatan. Pemimpin harus konsisten, berani, dan tidak pilih kasih.
4. Samudra (Baruna/Warih): Luas dan menampung segalanya. Pemimpin harus berwawasan luas, sabar, dan mampu menerima aspirasi dan kritik
5. Langit (Akasa): Luas dan melindungi. Pemimpin harus memiliki ilmu yang tinggi, kompeten, dan mampu mengayomi.
6. Angin (Maruta/Bayu): Hadir di mana saja. Pemimpin harus turun langsung ke lapangan, teliti, dan menyerap aspirasi rakyat.
7. Bulan (Candra): Menerangi dalam gelap. Pemimpin harus membawa kedamaian, ketenangan, dan memberi arah.
8. Bintang (Kartika) : Pengarah (pedoman). Pemimpin harus menjadi teladan, visioner, dan penunjuk arah.
Ajaran ini sering dikaitkan dengan Wahyu Makutha Rama, sebuah wejangan yang diberikan untuk memimpin dengan karakter yang utuh dan terintegrasi (wolu-woluning tunggal).
Saya yakin bahwa setiap wilayah kebudayaan pasti memiliki kearifan kepemimpinan masing-masing. Semisal kearifan kepemimpinan Jepang beda dari flisafat kepemimpinan Jerman apalagi Inggris atau Amerika Serikat maupun China.
Namun sebagai warga Indonesia yang tumbuh kembang di lingkungan kebudayaan Jawa, adalah wajar apabila secara subyektif saya pribadi berupaya menghayati inti makna serta sukma dasar Hasta Brata melalui kearifan Jawa Ojo Dumeh dalam makna jangan terkebur, jangan lupa daratan, dan jangan kacang lupa kulitnya.
Pada hakikatnya adalah kesadaran seorang pemimpin untuk senantiasa eling pada saat berkuasa. Seorang pemimpin sebenarnya tidak sama dengan penguasa maka seorang pemimpin sejati wajib senantiasa tidak lupa kenyataan bahwa mustahil dia bisa memimpin apabila tidak ada yang bersedia dipimpin.
Pada semesta demokrasi sebagai pengejawantahan mazhab dari rakyat untuk rakyat oleh rakyat, inti sari sukma dasar Hastra Brata adalah bukan rakyat yang wajib mengabdikan kepada penguasa namun penguasa yang wajib mengabdikan diri kepada rakyat. Maka presiden dan wakil presiden yang dipilih oleh rakyat, pada prinsipnya sebenarnya tidak memiliki hak namun justru hanya kewajiban.
Tidak bisa tidak, suka tak suka, mau tak mau, presiden dan wakil presiden hukumnya wajib mengabdikan kepada pemilih mereka yaitu rakyat.
Sayang setriliun sayang, pada realita memang Das Sollen tidak senantiasa apalagi niscaya sama dengan Das Sein.
Semisal Pemprov Jawa Tengah yang memaksa rakyat Jateng mengabdikan diri kepada penguasa dengan cara memaksa rakyat harus memikul beban pajak yang berkelanjutan meningkat secara nominal maupun jenisnya seolah tak kenal batasan akhirnya alias infinitas.
Tampaknya rakyat Jateng memiliki batas kesabarannya sehingga serentak melakukan Pembangkangan Sipil dalam bentuk mogok bayar pajak secara massal. Ihwal tersebut menyimpulkan bahwa para pemimpin yang tergabung di lembaga pemerintah provinsi Jateng tidak menghayati maka tidak mewujudkan kearifan terkandung di dalam kearifan kepemimpinan Hasta Brata.




KOMENTAR ANDA