post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Lorong-lorong Tamalabba, sebuah kampung pesisir di Kota Makassar, adalah labirin tanpa peta.

Oleh: Ak Supriyanto, Esais, Dosen FEB UNPAD & Konsultan Pengukuran Dampak Investasi Sosial

SEBELUM menjadi ”Bapak APAR (Alat Pemadam Api Ringan)”, Haris hanyalah seorang lelaki yang takut pada api. Bukan takut yang biasa, yang membuatnya menjauh dari tungku atau berhati-hati dengan korek. Tapi, takut yang bersarang di tulang rusuk, yang membuatnya terbangun di malam hari hanya untuk memeriksa colokan listrik, yang membuatnya selalu duduk di kursi paling pinggir saat ada acara kenduri, agar bisa segera lari jika insiden terjadi.

Lorong-lorong Tamalabba, sebuah kampung pesisir di Kota Makassar, adalah labirin tanpa peta. Dan Haris tahu, jika api datang, labirin itu akan menjadi perangkap maut. Rumah-rumah kayu yang berdempetan, kabel-kabel listrik yang menjuntai seperti urat-urat kusut, tabung gas yang disimpan di dapur sempit: semuanya adalah ayat-ayat kematian yang setiap hari ia baca dalam diam.

Suatu malam, api benar-benar datang. Bukan ke rumahnya, tapi ke mushola Nurillahi, tiga gang dari tempatnya tinggal. Haris mendengar teriakan ”Api! Api!” dan ia berlari. Tapi di tengah lari itulah ia menyadari sesuatu yang mengerikan: ia tidak tahu harus berbuat apa.

Ia berdiri di depan mushola yang separuh bangunannya telah dimakan api, dan ia hanya bisa menonton. Tangannya kosong. Pengetahuannya kosong. Bahkan doa yang biasanya fasih ia ucapkan, malam itu tersangkut di tenggorokan.

”Tea ki katte pakareso-reso,” begitu ibunya dulu selalu berpesan. Kalau bukan kita yang berusaha, siapa lagi?

Tapi malam itu, di depan mushola yang terbakar, Haris bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah sepasang mata yang menyaksikan, sepasang tangan yang tak mampu menolong.

Kejadian tragis itu membangkitkan rasa malu yang dalam. Haris malu pada dirinya sendiri, pada ketidakberdayaannya, pada warisan leluhur yang hanya bisa dikenang tapi tak bisa dihidupkan. 

Hingga akhirnya, rasa malu itu mendorongnya berubah. Maka, ketika Pertamina Patra Niaga IT Pare-Pare datang dengan Program Kampung Berlian yang salah satu menunya adalah pelatihan Kampung Safety, Haris menjadi orang pertama yang mendaftar.

Di pelatihan itu, untuk pertama kalinya ia memegang APAR. Tabung merah itu terasa dingin di telapak tangannya, berat, padat, seperti sebuah janji. Instruktur dari HSE Pertamina mengajarinya teknik PASS: Pull, Aim, Squeeze, Sweep. Tarik pin, arahkan, tekan, sapu. Empat gerakan sederhana yang, dalam kepala Haris, berubah menjadi mantra.

”APAR ini,” kata instruktur itu, ”bukan alat pemadam. APAR adalah waktu. Ia memberimu waktu sebelum api membesar. Ia memberimu waktu sebelum damkar datang. Ia memberimu waktu untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang kau cintai.”

Haris menyimpan kata-kata itu di dalam dadanya, seperti menyimpan kunci rumah. Lelaki yang semula penakut itu perlahan membangun dirinya menjadi sosok penjaga kampung. Ia pun menjadi mitra pelaksanaan Program Kampung Berlian, yang memfasilitasi pemasangan APAR di titik-titik rawan.

Haris kerap terbangun malam hanya untuk berjalan keliling kampung, memeriksa satu per satu APAR yang terpasang, memastikan semuanya dalam kondisi siap. Ia seperti pemantau di mercusuar yang memeriksa lentera, meski tak ada kapal yang akan lewat malam itu. Kebiasaan ini lahir dari trauma yang telah diubah menjadi kewaspadaan.

Setiap kali ia berjalan melewati lorong-lorong Tamalabba dan melihat APAR terpasang di sudut-sudut strategis, ia merasa seolah ada tasbih raksasa yang tersebar di seluruh kampung: dua puluh dua butir, tersimpan di titik-titik rawan, yang siap menangkal bencana.

Di ujung lorong Tamalabba yang paling sempit, ada sebuah APAR yang terpasang di dinding rumah Bu Asirah, Ketua KWT Bahari Sigalu. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kebun hidroponiknya, perempuan itu menyentuh tabung merah itu sekilas, seperti menyentuh tasbih.

”Ini pengingat,” katanya suatu kali, ”bahwa kita bisa selamat. Bahwa kita bisa lebih cermat.”

Di kampung Tamalabba yang padat nan panas, perubahan tidak datang sebagai revolusi yang berisik. Ia datang sebagai bisikan sejuk yang dibawa program tanggungjawab sosial perusahaan, laksana murottal subuh yang membangunkan warga dari tidurnya. Dari program inovasi sosial korporat Kampung Berlian itu, kita belajar untuk percaya. Bahwa keberanian, seperti juga sampah, bisa didaur ulang menjadi jauh lebih berharga. 

Kini, APAR setia menunggu di setiap sudut lorong kampung. Dan Haris, yang dulu hanya bisa berlari ketakutan, telah menjadi imam bagi tasbih-tasbih raksasa.


Dokter Juga Manusia: Mengembalikan Wajah Kemanusiaan Profesi Medis

Sebelumnya

Catatan Bagi yang Hendak Pulang

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya