Indonesia tidak bisa hanya jadi penonton. Kita punya pengalaman Aceh dan Timor Timur. Kita tahu gencatan senjata tanpa pengawasan militer adalah jebakan.
Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad, Penasehat Militer RI untuk PBB 2017-2019
PERANG Iran-AS di Teluk 2026 tidak akan selesai di meja perundingan Washington atau di peluncuran rudal Teheran.
Ia akan selesai di ruang rapat tertutup di Beijing, di ruang veto Dewan Keamanan PBB di New York, dan di ruang komando kapal perang Prancis di Teluk Aden.
Selama 70 hari terakhir sejak 28 Februari 2026, dunia menyaksikan dua perang berjalan beriringan. Perang militer antara AS-Iran di Selat Hormuz. Dan perang diplomatik antara China-Rusia-Eropa di belakang layar.
Memorandum 14 Poin: Hanya Jeda, Bukan Damai
Memorandum 14 poin yang diajukan Iran ke Pakistan pada 30 April 2026 terlihat seperti kerangka perdamaian. Isinya: pembukaan Selat Hormuz, pembatasan nuklir Iran, pelonggaran sanksi AS, ganti rugi, dan jaminan tidak ada agresi.
Tapi ini hanya gencatan senjata 30 hari. Bukan penyelesaian komprehensif.
Faktanya, saat delegasi AS-Iran bicara, Israel tetap menggempur Hizbullah di Lebanon dan Gaza. Sementara Iran balas menyerang fasilitas energi Fujairah UEA pada 4 Mei dengan 12 rudal balistik dan 4 drone.
Ini pola klasik asymmetric decoupling. Dua medan tempur. Tiga aktor utama. Nol koordinasi.
AS: Tarik Mundur, Tapi Tidak Lepas
Presiden Donald Trump 2026 sudah menghentikan sementara operasi “Project Freedom” — misi AS mengawal kapal dagang keluar Hormuz. Sebagai gantinya, AS mengedarkan proposal “Maritime Freedom Construct”, koalisi maritim pasca-konflik untuk arsitektur keamanan baru di Timur Tengah.
Tujuannya jelas: AS ingin “deal cepat” dengan Iran soal nuklir dan Hormuz. Jika Israel dimasukkan ke meja nego, proses akan macet bertahun-tahun karena isu Palestina.
Tapi penarikan AS ini menciptakan ruang kosong. Dan ruang kosong selalu diisi.
Eropa: Penjaga Jalur Dagang, Bukan Prajurit Perang
Eropa memilih jalur ketiga. Tidak perang, tapi tidak diam.
Prancis sudah mengerahkan kapal induk nuklir Charles de Gaulle ke Teluk Aden, siap mengawal kapal dagang yang terjebak di Hormuz. Ini bagian dari misi Franco-British yang melibatkan 40+ negara. Tujuannya murni defensif: turunkan premi asuransi yang kini selangit dan buka kembali jalur dagang.
Jerman juga menggerakkan aset angkatan laut untuk “kontribusi signifikan dan terlihat” dalam koalisi internasional.
Eropa sadar, 20% minyak dan 30% LNG mereka lewat Hormuz. Kalau selat tetap tertutup, ekonomi Eropa kolaps. Tapi Eropa juga tidak mau terjebak perang AS-Iran. Jadi mereka buat misi “purely defensive” yang terpisah dari Washington.
Ini strategi strategic autonomy yang sudah lama didengungkan Macron.
China: Penekan Ekonomi yang Menentukan
China adalah aktor paling penting tapi paling diam.
Beijing adalah pembeli terbesar minyak Iran — 50% ekspor minyak Iran mengalir ke China. 30% impor LNG China juga lewat Hormuz. Jika selat ditutup, ekonomi China tersedak.
Karena itu, Menlu Wang Yi langsung terbang ke Beijing untuk temui Menlu Iran Abbas Araghchi 2 hari lalu. Pesan Wang Yi tegas: “Gencatan senjata tidak boleh ditunda. Hormuz harus dibuka.”




KOMENTAR ANDA