post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

- untuk penumpang kereta yang tubuhnya tak sempat tiba -

Oleh: Ak Supriyanto, Esais

PERNAHKAH engkau dengar bagaimana rel bernyanyi di malam hari?

Bunyi itu—tak-tak-tak, tak-tak-tak—adalah detak jantung tanah Jawa, irama yang kuhafal sejak usia belia. Ketika gerbong-gerbong Senja Utama mulai meluncur dari Stasiun Tugu, ketika Matarmaja membelah pematang sawah yang menguning di senja hari, ketika KRL Commuter Line mengantarku dari satu stasiun kecil ke stasiun lain yang tak asing—Kalibata, Manggarai, Tanah Abang, Jurangmangu, Cikarang—aku adalah musafir yang menemukan rumahnya justru di antara dua kota, di dalam kotak besi yang berlari.

Aku tahu aroma pendingin udara yang kadang terlalu dingin itu. Aku tahu suara kondektur yang mendendangkan nama stasiun-stasiun seperti mantera perjalanan: "Stasiun berikutnya: Cirebon." Aku tahu bagaimana jendela kereta membingkai sawah-sawah yang berlari mundur, seperti kenangan yang enggan tinggal. 

Di atas meja kecil dekat jendela, secangkir kopi dan buku yang selesai dalam sekali duduk. Di seberangku, penumpang-penumpang tak dikenal yang raut wajahnya kurekam dalam diam: ibu yang memangku anaknya tertidur, mahasiswa dengan ransel lusuh, lelaki separuh baya yang menatap ponselnya dengan dahi berkerut.

Mereka semua ingin sampai. Seperti aku. Seperti kita semua.

Tapi sampai itu, rupanya, bukanlah hak. Sampai adalah anugerah yang setiap kali dipertaruhkan.

***

Belakangan, ada suara lain yang turut bernyanyi di rel-rel itu. Samar-samar, seperti bisikan, tapi cukup untuk membuat jantung berdebar lebih cepat dari biasanya.

Setiap kali kereta berguncang lebih keras. Setiap kali rem mendadak mencekik laju. Setiap kali kulihat palang pintu perlintasan yang terlambat menutup—atau lebih parah: tak ada palang pintu sama sekali, hanya kekosongan yang menganga antara hidup dan mati—dadaku bertanya dalam sunyi:

"Apakah aku akan sampai dengan selamat hari ini?"

Pertanyaan itu tidak pernah kuucapkan keras-keras. Ia hanya menggantung di langit-langit gerbong, di antara lampu-lampu neon yang berkelip, di antara doa-doa para penumpang yang diam-diam melafalkan surah perjalanan. Dan aku, yang bukan siapa-siapa, hanya bisa menatap punggung kursi di depanku, bertanya-tanya sudah berapa kali maut nyaris menjemputku tanpa aku tahu.

Lalu tibalah kabar itu. Stasiun Bekasi Timur, April yang akhir. Argo Bromo Anggrek—ular besi kebanggaan, nama yang diambil dari gunung dan bunga, dari ketinggian dan keindahan—menabrak KRL yang entah mengapa masih di jalurnya. Dua kereta, satu antarkota dan satu komuter, bertemu di titik yang tak seharusnya. Seperti dua baris sajak yang bertabrakan di tengah larik, menghancurkan makna, menyisakan puing-puing kata-kata yang tak lagi bisa dirangkai.

Di layar ponselku, gambar-gambar itu bermunculan: gerbong yang remuk seperti kaleng diremas raksasa, asap yang membubung hitam, tubuh-tubuh yang terpental dari jendela. Dan aku, yang entah sudah berapa kali melintasi stasiun itu, membayangkan diriku di dalam sana. Membayangkan bagaimana jerit histeris memecah udara. Membayangkan bagaimana tangan-tangan terulur mencari pegangan yang tak ada.

Astaghfirullah, batinku. Ini bisa jadi aku.

***

Tapi di negeri ini, kematian bukanlah akhir dari cerita. Ia justru menjadi awal dari sebuah pertunjukan yang ganjil: sandiwara tanggung jawab yang segera dimainkan begitu asap belum lagi hilang.

Aku menyaksikan layar-layar televisi, linimasa yang bergulir tanpa henti. Wajah-wajah bermunculan, bicara, bicara, bicara. Dan dalam keheningan malam—ketika kuhitung satu per satu dengan jari yang gemetar—aku tersadar: ada benang merah yang menjahit mereka bersama. Wajah-wajah yang dulu kukenal dari panggung-panggung keagamaan dan politik, kini muncul di panggung duka, tapi bukan untuk bertanggung jawab. Mereka datang untuk melempar tanggung jawab. Melemparnya seperti bara yang tak sudi dipegang.

Maka tampillah K.H. Said Aqil Siradj.

Kiai. Ulama. Cendekiawan. Mantan Ketua Umum PBNU. Kini Komisaris Utama PT KAI, duduk di kursi yang empuk di perusahaan pelat merah, sebagai "wajah belakang" dari kereta-kereta yang berlari di atas rel republik ini.

Beliau muncul dengan wajah tenang khas kiai-kiai kita—wajah yang biasa mengucapkan qaulun ma'ruf, tutur kata yang baik. Dan dengan santun yang nyaris sempurna, beliau menyampaikan: urusan palang pintu perlintasan bukanlah tanggung jawab KAI. Itu urusan pemerintah daerah. KAI hanya mengelola di dalam stasiun. Jika kecelakaan terjadi di perlintasan, jangan tuding kami.

Aku terpana.

Subhanallah, batinku dalam-dalam. Betapa ringannya beban itu menguap, seperti asap dupa yang dibakar di depan altar birokrasi. Sebagai Komisaris Utama, Buya SAS benar-benar menjadi “wajah belakang” alias bemper KAI saat diseruduk oleh opini publik. Tapi, bukankah seharusnya Pak Kiai menjadi yang terdepan memastikan bahwa setiap jengkal rel yang dilalui kereta-kereta ini aman?


Tasbih Raksasa di Tamalabba

Sebelumnya

Dokter Juga Manusia: Mengembalikan Wajah Kemanusiaan Profesi Medis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya