post image
F-15E Strike Eagle/The Aviationist
KOMENTAR

Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle dari Wing Tempur ke-48 meluncur dari landasan pacu RAF Lakenheath pada 7 Mei 2026, membawa pesan sejarah yang mendalam. Pesawat ini tampil beda dengan balutan cat kamuflase baru yang khusus dirancang untuk memperingati ulang tahun ke-40 Operasi El Dorado Canyon, sebuah misi serangan udara bersejarah yang melibatkan pangkalan tersebut empat dekade silam.

Warna kamuflase pada F-15E dengan nomor seri 93-0311 ini mengadopsi skema legendaris pesawat F-111 Aardvark yang digunakan dalam serangan jarak jauh ke Libya pada tahun 1986. Langkah ini bukan sekadar estetika, melainkan penghormatan khusus kepada "KARMA 52", satu-satunya pesawat F-111 yang gugur dalam operasi tersebut, yang merenggut nyawa Kapten Fernando L. Ribas-Dominicci dan Kapten Paul F. Lorence.

Fotografer penerbangan, Stewart Jack, berhasil mengabadikan momen saat jet dengan tanda panggilan (callsign) "EAGLE 31" ini lepas landas. Dalam sorot kamera, terlihat jelas pesawat tersebut menggendong beban tempur yang signifikan berupa delapan unit bom pemandu GBU-12 Paveway II versi latihan (inert), yang ditandai dengan casing berwarna biru solid.

Misi latihan ini dimulai pada pukul 08:30 waktu setempat, di mana EAGLE 31 terbang bersama pendampingnya, EAGLE 32. Sebelum menuju area latihan utama, kedua jet tempur ini melakukan pengisian bahan bakar di udara (air-to-air refueling) dengan pesawat tanker KC-135 Stratotanker, sebuah prosedur vital untuk memperpanjang durasi operasional di angkasa.

Setelah tanki bahan bakar penuh, jet-jet tempur ini beralih menuju area terbang rendah di North Wales. Di sana, mereka melakukan manuver low-level ingress melewati lembah-lembah Welsh, sebuah simulasi infiltrasi dunia nyata di mana pesawat harus terbang rendah guna menghindari deteksi radar musuh sebelum mencapai target sasaran.

Puncak dari latihan ini terjadi di Lapangan Tembak Udara Holbeach, di pesisir utara RAF Lakenheath. Di lokasi tersebut, EAGLE 31 melepaskan seluruh muatan bom latihannya. Simulasi serangan ini dirancang untuk menguji presisi awak pesawat dalam menempatkan senjata pada target setelah melakukan navigasi taktis yang menantang di medan yang sulit.

Senjata yang dibawa, GBU-12 Paveway II, merupakan varian populer yang menggabungkan bom Mark 82 seberat 500 pon dengan unit pencari laser di hidung dan sirip pemandu di ekor. Uniknya, sistem pemandu ini bekerja dengan metode "bang-bang", di mana sirip hanya bisa bergerak maksimal tanpa penyetelan halus, menciptakan koreksi lintasan yang konstan namun efektif dan berbiaya rendah.

Kemampuan membawa muatan besar seperti itu merupakan keunggulan utama dari F-15E Strike Eagle. Meski membawa delapan bom di badan pesawat, titik gantung (hardpoints) pada sayap jet ini terpantau masih kosong. Hal ini menunjukkan kapasitas luar biasa pesawat untuk membawa tambahan tangki bahan bakar eksternal atau rudal udara-ke-udara jika diperlukan dalam misi tempur yang sebenarnya.

Kapasitas tambahan ini dimungkinkan berkat penggunaan Conformal Fuel Tanks (CFT) atau yang dikenal sebagai "FAST Packs". Tangki yang menempel pada badan pesawat ini memberikan ruang ekstra bagi sensor dan senjata tanpa mengorbankan titik gantung utama pada sayap. Berbeda dengan F-15C yang mengutamakan kelincahan udara, F-15E mengandalkan CFT untuk jangkauan serang yang lebih jauh.

Meskipun saat ini Angkatan Udara AS menyatakan belum berencana mengoperasikan armada terbaru mereka, F-15EX Eagle II, dengan CFT, namun kebijakan ini kemungkinan besar akan ditinjau kembali. Seiring dengan rencana F-15EX menggantikan posisi F-15E Strike Eagle di masa depan, fleksibilitas muatan dan jangkauan tetap menjadi faktor penentu dalam dominasi udara modern.


KOMENTAR ANDA

Baca Juga