Peran pemimpin sangat krusial dalam membaca tanda-tanda krisis sebelum benar-benar terjadi. Kegagalan utama dalam banyak organisasi adalah ketidakmampuan pemimpin dalam mengenali sinyal awal krisis.
Demikian antara lain dikatakan Menteri Negara BUMN (2011-2014) Dahlan Iskan ketika berbicara dalam forum bertajuk “Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Global” yang diselenggarakan Program Doktor Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina, Selasa, 5 Mei 2026.
Dalam forum itu sebagai pembicara utama Dahlan membagikan pengalaman praktis dan refleksi kritis terkait kepemimpinan, pengelolaan organisasi, hingga strategi menghadapi krisis dalam konteks nasional maupun global.
Dahlan Iskan menekankan bahwa tantangan utama organisasi modern bukan hanya pada kompleksitas masalah, tetapi pada kemampuan pemimpin dalam membaca situasi dan menentukan langkah prioritas secara tepat.
Dahlan Iskan menceritakan pengalaman saat dipercaya memimpin PT PLN (Persero), meskipun dirinya tidak memiliki latar belakang pendidikan teknik. Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus berbasis pada kompetensi teknis semata, melainkan pada kemampuan manajerial dan leadership yang kuat.
“Pemimpin yang baik bukan hanya yang paham teknis, tetapi yang menguasai manajerial dan tahu bagaimana memimpin dari level bawah sampai ke tingkat manajer” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya independensi dalam membangun tim kerja. Dalam pengalamannya, ia memilih langsung jajaran direksi untuk memastikan keselarasan visi dan soliditas tim.
“Direktur-direktur itu harus saya tentukan sendiri, supaya timnya solid. Tidak boleh ada ‘juragan’ lain di luar struktur yang mengganggu pengambilan keputusan,” sambungnya.
Selain itu, ia menekankan bahwa antusiasme dan kemauan untuk maju merupakan faktor penting dalam membangun organisasi yang adaptif. Ia menggarisbawahi bahwa potensi manusia sejatinya tidak terbatas, selama individu mampu memperluas cara pandang dan berpikir.
“Otak manusia itu tidak terbatas, yang kita pakai mungkin tidak sampai 10 persen. Kita bisa memperluasnya dengan menggeser ufuk berpikir,” kata dia lagi.
Salah satu poin utama dalam diskusi ini adalah pentingnya kemampuan menyusun skala prioritas. Dahlan Iskan menegaskan bahwa konsep ini sering disampaikan secara retoris, namun belum tentu dipraktikkan secara sistematis dan ilmiah dalam organisasi. Menurutnya, penyusunan skala prioritas harus diawali dengan inventarisasi persoalan secara terbuka dan kolektif.
Setiap anggota organisasi memiliki hak untuk menyampaikan masalah yang dihadapi, dengan catatan bahwa seluruh persoalan harus dirumuskan secara ringkas dan konklusif. Semua harus bicara apa persoalan terbesar. Baik atau buruk semua dicatat, tapi harus konklusif satu kalimat.
Ia menjelaskan bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan secara bersamaan. Organisasi perlu mempertimbangkan kapasitas dan sumber daya yang tersedia untuk menentukan prioritas utama. “Tidak semua persoalan harus diselesaikan. Dari situ lahir skala prioritas, berdasarkan kemampuan dan pembiayaan” tegasnya.
Dalam praktiknya, Dahlan menekankan pentingnya disiplin dalam menetapkan dan menjalankan prioritas. Sumber daya terbaik, baik manusia maupun finansial, harus dialokasikan pada persoalan prioritas utama. “Kalau itu prioritas nomor satu, maka orang terbaik harus ditempatkan di situ. Tidak boleh ada kompromi karena kepentingan” papar Dahlan.
Dalam konteks manajemen krisis, Dahlan menegaskan bahwa peran pemimpin sangat krusial dalam membaca tanda-tanda krisis sebelum benar-benar terjadi. Ia menilai bahwa kegagalan utama dalam banyak organisasi adalah ketidakmampuan pemimpin dalam mengenali sinyal awal krisis.
Ia bahkan menyampaikan bahwa dalam kondisi tertentu, pemimpin perlu menciptakan kesadaran krisis di dalam organisasi agar seluruh elemen siap menghadapi situasi darurat. “Kalau pemimpin sudah tahu akan ada krisis, tapi bawahannya belum sadar, maka pemimpin harus menciptakan krisis itu di lingkungannya” tegasnya.
Dahlan juga menyinggung sejumlah isu strategis nasional, termasuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Ia mengkritisi rendahnya efisiensi investasi yang tercermin dari berbagai proyek infrastruktur yang belum memberikan manfaat optimal. “Kita mengeluarkan ratusan triliun, tapi dapat apa? Belum dapat apa-apa, itu tidak ilmiah” tegas Dahlan.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep ICOR (Incremental Capital Output Ratio), yang menekankan pentingnya hubungan antara investasi dan output ekonomi. “Setiap satu rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan berapa rupiah. Itu prinsip ICOR, dan kita buruk sekali di situ” papar Dahlan.




KOMENTAR ANDA