post image
KOMENTAR

Institusi dapat menjaga kepercayaan, tetapi tidak pernah dapat menggantikannya.

Oleh: Adhie M. Massardi 

PADA awalnya, trust selalu bersifat personal.

Ia lahir dari hubungan langsung antar manusia— dari pengalaman, kedekatan, dan interaksi berulang.

Kita percaya karena kita mengenal.

Namun seiring berkembangnya kehidupan sosial, manusia tidak lagi hidup hanya dalam lingkar kecil.

Hubungan menjadi lebih luas, lebih kompleks, dan tidak selalu berbasis kedekatan.

Di titik inilah trust menghadapi tantangan baru.

Bagaimana manusia dapat mempercayai orang yang tidak ia kenal?

Bagaimana kerja sama dapat terjadi di antara mereka yang tidak memiliki hubungan pribadi?

Pertanyaan ini membawa manusia pada tahap berikutnya dalam perkembangan peradaban.

Untuk menjawabnya, manusia mulai menciptakan perantara.

Perantara ini bisa berupa tokoh, aturan, atau sistem yang dianggap dapat dipercaya.

Pada tahap awal, pemimpin sering menjadi pusat kepercayaan.

Ia menjadi figur yang mewakili kepastian. Kata-katanya dipercaya, keputusannya diikuti.

Namun ketergantungan pada individu memiliki keterbatasan.

Ketika figur itu hilang, kepercayaan ikut goyah.

Karena itu, trust mulai dialihkan dari individu ke sistem.

Manusia mulai membangun aturan yang tidak bergantung pada satu orang.

Aturan ini menciptakan konsistensi.

Ia memastikan bahwa sesuatu tetap berjalan meskipun individu berubah.

Dari aturan lahirlah institusi.

Institusi adalah bentuk konkret dari trust yang telah dilembagakan.

Ia berfungsi menjaga keteraturan, mengurangi ketidakpastian, dan memastikan bahwa hubungan sosial tidak bergantung sepenuhnya pada kedekatan personal.


Aku Anak Tanah Deli: Dari Tembakau, Buruh, hingga Kota yang Berubah

Sebelumnya

Hujan, Luka, dan Jalan Panjang Menuju Rumah

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya