Pakistan dan Tiongkok memperkuat kerja sama kedua negara di berbagai bidang, utamanya ekonomi dan militer. Baru-baru ini Angkatan Udara Pakistan (PAF) mengumumkan rencana pembelian berbagai alutsista canggih dari Tiongkok guna merevolusi kemampuan tempur mereka.
Langkah strategis ini diambil setahun setelah terjadinya bentrokan intensitas tinggi dengan pasukan India pada awal Mei 2025.
Konflik tersebut menjadi ajang uji coba yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi peralatan militer buatan Tiongkok yang selama ini dioperasikan oleh Pakistan.
Dalam pengumumannya, Angkatan Udara Pakistan merinci empat poin utama pengadaan, yang mencakup senjata presisi jarak jauh, jet tempur generasi kelima J-35, tambahan unit J-10C, serta peningkatan skala besar untuk armada jet tempur ringan JF-17 yang sudah ada.
Kehadiran J-35 diharapkan dapat memberikan keunggulan mutlak bagi Pakistan atas armada udara India saat ini, meskipun India dilaporkan mulai memesan jet tempur Su-57 dari Rusia sebagai tandingan.
Jet tempur siluman J-35 sendiri baru mulai beroperasi di Angkatan Udara dan Angkatan Laut Tiongkok pada tahun 2025 sebagai pendamping yang lebih ringan bagi J-20. Meskipun pemerintah Pakistan dilaporkan telah menyetujui pengadaan J-35 pada akhir 2024, sempat terjadi simpang siur informasi. Menteri Pertahanan Khawaja Asif pada pertengahan 2025 bahkan sempat membantah rumor bahwa kontrak pembelian telah ditandatangani, walaupun ia mengakui bahwa rencana tersebut sudah lama dipertimbangkan.
Ketertarikan Pakistan untuk menambah armada J-10C tidak lepas dari kesuksesan jet tempur generasi 4+ tersebut dalam pertempuran melawan kekuatan udara India pada Mei 2025. Performa J-10C saat itu dikabarkan mampu mengungguli jet Rafale milik India, yang memicu spekulasi bahwa Pakistan akan memperluas pesanan mereka. Keberhasilan ini juga diprediksi akan meningkatkan minat negara-negara lain untuk mengakuisisi pesawat tempur tersebut.
Selain pengadaan pesawat baru, Pakistan juga fokus pada modernisasi armada JF-17. Rencana peningkatan ini kemungkinan ditujukan untuk memperbarui varian JF-17 Block III dengan teknologi yang lebih superior, atau meningkatkan varian lama agar setara dalam hal avionik dan persenjataan. Langkah ini dianggap krusial karena varian JF-17 model lama mulai dianggap usang, terutama untuk kebutuhan pertempuran udara-ke-udara modern.
Dari sisi teknis, J-35 dinilai sebagai salah satu jet tempur paling mumpuni di pasar global saat ini. Pesawat ini menggabungkan teknologi siluman mutakhir dengan avionik canggih yang hanya bisa disaingi oleh F-35 milik AS dan Su-57 milik Rusia. Keunggulan J-35 terletak pada performa terbang dan jangkauan yang melampaui F-35, serta teknologi siluman yang diklaim lebih maju dibandingkan dengan Su-57.
Namun, integrasi J-35 ke dalam jajaran Angkatan Udara Pakistan diprediksi akan menghadapi tantangan besar. Sebagai pesawat bermesin ganda dengan teknologi rumit, J-35 membutuhkan biaya operasional dan pemeliharaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan armada Pakistan saat ini yang didominasi pesawat ringan bermesin tunggal.
Pakistan bahkan mungkin harus mengurangi jumlah skuadron tempurnya demi menyeimbangkan anggaran untuk mengoperasikan jet tempur generasi kelima ini.




KOMENTAR ANDA