post image
Diskusi mengenang 100 tahun Pan Islamisme di ITENAS, Bandung, Sabtu, 9 Mei 2026.
KOMENTAR

Oleh: Nunu A Hamijaya, Sejarawan Pusat Studi Sunda

DISKUSI dengan tajuk “Awaken: Memperingati Satu Abad Pan Islamisme” di kampus  ITENAS Bandung, Sabtu, 9 Mei 2026, menarik minat tidak kurang dari 100 generasi muda muslim Gen Z. 

Narasumber seperti Dr. Nasir Tamara, Dr. Dina L. Sulaeman, dan Darmawan Sepriyossa hadir sebagai penyelenggara. Diskusi diselenggarakan Rumah Pemuda Madani berkolaborasi dengan Keluarga Muslim ITENAS dan disupport oleh Ikrima SMA Kartika XIX-1 dan DKM SMAN 24 Bandung. Serta hadir sebagai peserta dari berbagai sekolah, kampus, dan komunitas di Bandung lainnya.

Gagasan PAN Islamisme seabad lalu itu dicetuskan Sayyid Jamaludin Al-Afghani, asal Asadabad, Iran/Parsi menemukan momentumnya dengan drama Perang Iran vs AS-Israel (2026).

Meskipun lebih dikenal sebagai Al-Afghani, yang menyiratkan wilayah Sunni-Afghanistan, sesungguhnya sejak awal disadarinya sebagai strategi agar dapat leluasa bergerak di tengah-tengah mayoritas masyarakat Sunni, dari pada Syiah yang minoritas.

Namun, puncak kariernya adalah di tengah masyarakat Sunni-Mesir, di Kairo di tengah lingkungan Universitas Al Azhar, perguruan tinggi Islam peninggalan dinasti Fatimiyyah-Syiah Isma'ili melaluii tangan komandan Fatimiyah Jawhar Al-Siqilli atas perintah Khalifah dan Imam Al-Mu'izz li-Din Allah saat ia mendirikan kota untuk Kairo. 

Latarbelakang nasab dan strategis politik Sayid Jamaludina Al-Afghani menjadi sebuah pelajaran penting tentang sejatinya Syiah-Sunni bukanlah musuh seteru, tapi  justru lahir dari rahim yang sama Islam pasca wafat Nabi SAW. Oleh karena itu, semua perbedaan itu bersifat fiqiyyah siyasah saja yang tidak menggugurkannya di luar Islam. Keduanya adalah bersaudara. Innamal mukminunan ikhwatun. 

Perjalanan mempersatukan umat di bawah panji Islam rupanya tidak mendapat titik temu dengan maksud Sultan Hamid II. Sementara visinya adalah upaya revolusi total dan pembebasan dari monaki, sedangkan Sultan Hamid II sebagai alat propaganda politik. Saat Kekhilafan Utsmani dalam kondisi titik nadir keruntuhan, infiltrasi kaum Muda Turki  sekuler, Mustafa Kemal Atatürk (1881–10 November 1938) berhasil menghancurkannya dari dalam, hingga berdirinya Republik Sekuler Nasional Turki (1924).

Al-Afghani pun wafat 9 Maret 1897 di Istambul dalam status tahanan kota. Kematiannya diduga diracun meskipun secara medis disebabkan kanker. Tahun 1944, jenazahnya dipindahkan ke Afganistan.

Surat kabar Al-Jamia Al-Arabiyya pada 30 Oktober 1930 menaikkan artikel berjudul “Yaum Filasṭīn Fī Indūnīsiyā” atau Hari Palestina di Indonesia. Artikel itu memberitakan perkumpulan pelajar Indonesia di Mesir yang mengingatkan bahwa persoalan adalah tanggung jawab setiap muslim, bukan sekedar bangsa Arab. Mereka juga mengajak untuk mengumpulkan dana dan dukungan intelektual kepada Palestina dan mengusulkan peringatan hari Isra Mi’raj sebagai “Hari Palestina.” 

Kongres Pan-Islamisme pertama kali berlangsung  pada Mei 1926 yang dihadiri 12 negera. Pan-Islamisme atau al-Jami’ah al-Islamiyyah adalah paham politik Islam  sebagai rasa solidaritas di antara seluruh umat Islam (ukhuwah islamiyyah) yang telah ditanamkan sejak masa Nabi Muhammad SAW. Ini merupakan masalah penting dan selalu diupayakan terwujud dari masa ke masa. 

Secara umum, ada dua sumber rujukan utama pemikiran Jamaluddin Al-Afghani terhadap konsep pan Islamisme: Al Wihdah Al-Islamiyah atau kesatuan Islamisme dan Al-Wihdah wa Al-Siyadah atau kesatuan kepenguasaan. 

Pertama, Al-Wihdah Al-Islamiyah. Bagi Al-Afghani, untuk mengembalikan kewibawaan Islam di mata dunia barat haruslah diawali dengan kesatuan pandangan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Merebaknya ajaran-ajaran bid’ah dikalangan umat Islam, fanatisme terhadap mazhab-mazhab, serta alergi terhadap modernis ialah awal dari kemunduran umat.

Baginya tidak bisa jika Islam hanya ditempatkan sebatas ajaran-ajaran ritus semata karena sebab pemahaman inilah umat Islam mengalami kemunduran. Tepatnya untuk mengembalikan kejayaan Islam adalah dengan menjadikan Islam sebagai dasar ideologi politik.

Lebih jauh Al-Afghani menegaskan bahwa ideologi Islam haruslah menjadi landasan kekuatan mulai dari aspek politik, militer, pengetahuan, bahkan kebudayaan. Di mana Al-Quran dan Sunnah menjadi pengawalnya. Kesatuan pandangan Islam inilah yang dimaksud oleh Al-Afghani sebagai perwujudan daripada tauhidullah. 

Kedua, Al-Wihdah wa Al-Siyadah. Jika konsep awal berkenaan dengan kesamaan pandangan kesatuan Islam, maka kedua yang tak bisa dilepaskan antara kesatuan ialah kekuasaan. Sebab hal inilah kebutuhan yang paling mendesak dikalangan umat Islam.

Artinya kesatuan sebagai sesuatu yang dituntut agama membutuhkan kekuasaan yang akan memperjuangkan terciptanya kesatuan, sebab kesatuan itu sendiri tidak bisa terjadi dengan sendirinya. Tanpa adanya kekuasaan yang sanggup mengatasi keadaan dan menggiringnya kepada kesatuan.

Ada dua hal yang mampu memperkokoh solidaritas umat  Islam, yakni ibadah haji dan khilafah. Ibadah haji merupakan salah satu kewajiban umat Islam bagi yang mampu dan sebagai muktamar akbar Pan-Islamisme. Mereka yang datang dari seluruh pelosok dunia membicarakan tentang keadaan negerinya masing-masing untuk dipecahkan secara bersama-sama. 

Sementara khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah dulu pernah mengembangkan wilayah Islam ke bekas kekuasaan Romawi Timur, Persia, dan India, lalu berlanjut hingga ke Eropa melalui Spanyol, dan sebelum bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan menghancurkan pusat pemerintahan Islam di Baghdad tahun 1258. Peranan khilafah kemudian berpindah ke tangan Kerajaan Turki Usmani, meskipun tidak diakui seluruh umat Islam. 

Efek bola salju gagasan Pan Islamisme berlanjut pasca keruntuhan Khilafah Ustmani, yang diprakarsai para ulama  dari wilayah Palestina, Mesir, Afganistan, India dan Hindia Timur (Nusantara/Indonesia). 

Setelah gagalnya Kongres Khilafah Dunia tahun 1926 di Mekah dan Mesir akibat infiltrasi Inggris, berlanjut ke Kongres  Khilafah Dunia di Yerusalem, Palestina, pada Desember 1931. Kongres berlangsung di bawah otoritas  Mufti Agung Yerusalem, Mohammad Amin al-Husayni dan pemimpin Komite Kekhalifahan India, Maulana Shaukat Ali.

Dalam kongres ini wakil Hindia Timur, Abdul Kahar Muzakkir, ikut berperan sentral berkat permintaan langsung Mufti Palestina, Mohammad Amin Al-Husayni.

Kongres ini dihadiri oleh 145 delegasi dari 22 wilayah atau negeri muslim. Dari Mesir, hadir ulama Syaikh Rashid Ridha, dari Mesir, Abd al-Rahman Azzam, yang kelak menjadi Sekjen Liga Arab. Dia hadir mewakili Partai Wafd.

Dari Suriah hadir Shukri Al-Quwwatli yang nantinya menjadi Perdana Menteri Suriah. Dari Aljazair hadir Said Al-Jazairi, cucu dari tokoh perlawanan Aljazair, Abdul Qadir Al-Jaziri. Dari India, diwakili oleh tokoh Intelektual Sir Muhammad Iqbal. Hadir pula, Said Shamil, cucu dari tokoh perlawanan anti-Rusia dari Chechnya, Imam Shamil. Malaysia diwakili oleh Abu Bakar Asyari.


10 Program Ambisius yang Berakhir di Tempat Sampah Sejarah

Sebelumnya

Gema Sejarah di Meja Perjamuan: Lonceng HMS Trump dan Diplomasi Transatlantik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Histoire