post image
Diskusi mengenang 100 tahun Pan Islamisme di ITENAS, Bandung, Sabtu, 9 Mei 2026.
KOMENTAR

Program Asas dan Tandhim (1931): Kelanjutan Hasil Kongres Khilafah Dunia 

Salah satu keputusan penting Kongres Dunia Islam (Khilafah) di Yerusalem 1931 adalah: bahwa  perjuangan merebut Yerusalem-Palestina ke tangah otoritas Islam hanya mungkin dengan terwujudnya kekhilafahan Dunia dan itu hanya mungkin jika negeri-negeri muslim yang saat ini dalam kekuasaan imperialis-kolonial Barat  (Inggris,  Portugis, Spanyol dan  Belanda)  dapat dimerdekakan dengan berlakunya  Islam secara kaffah.

Maka, HOS Tjokroaminoto  yang pernah menjadi salah seorang utusan dalam Kongres Khilafah Dunia 1926 melalui Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) mengeluarkan blueprint perjuangan Islam semesta untuk mewujudkan Zelfbestuur Islam yang digagasnya lewat NATICO (National Congres) di Bandung, 16-24 Juni 1916, dengan menyusun Tafsir Program Asas dan Tandhim (PSII).    

Program Asas berisi pokok-pokok pikiran tentang ideologi perjuangan partai yang merupakan pedoman bagi aktivis PSII dalam melakukan gerakan organisasi. Program ini berintikan enam langkah, yaitu: (1) persatuan umat Islam, (2) kemerdekaan umat, (3) sifat negara dan pemerintahan, (4) penghidupan ekonomi, (5) keadaan derajat manusia didalam pergaulan hidup bersama dan di dalam hukum, (6) dan kemerdekaan yang sejati.  

Dalam bidang agama termaktub dalam “Tafsir Program Tandhim” sebagai berikut: (1) Meluruskan prikehidupan umat Islam sesuai dengan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, (2) Meluruskan pemikiran yang salah tentang Islam, (3) Mencegah perpecahan sesama umat Islam dan perselisihan dalam masalah khilafiyah, (4) Menggiatkan amal salih dan ibadah, (5) Mencegah adanya intervensi orang lain (bukan orang Islam) dalam urusan agama Islam, dan (6) Memajukan sekolah-sekolah Islam.

Bahkan, sanad perjuangan Islam bernegara lewat konsep Tafsir Program Asas dan Tadhim PSII tahun 1931 itu dilanjutkan pada tahun 1948, tepatnya 10-11 Februari 1948 dengan penyelenggaraan Konferensi Umat Islam di Cisayong, dikenal dengan Kongres Tjisajong. 

Hasil keputusannya dikenal dengan 7 Roadmap Tjisayong, yaitu:

  1. Mendidik rakyat agar cocok menjadi Warga Negara Islam. 
  2. Memberikan penjelasan kepada rakyat  bahwa Islam tidak bisa dimenangkan melalui plebisit ( pemungutan suara terbanyak).
  3. Membangun daerah-daerah basis.
  4. Memproklamasikan Negar Islam Indonesia (NII).
  5. Membangun NII sehingga kokoh ke dalam dan ke luar. Dalam arti di dalam negeri bisa melaksanakan Syariat Islam seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. Sedang keluar sanggup berdiri sejajar dengan negara-negara lain.
  6. Membantu perjuangan muslim di negara lain sehingga cepat bisa melaksanakan wajib sucinya
  7. Bersama-sama negara Islam membentuk  Dewan Imamah Dunia untuk mengangkat Khalifah Dunia.

Dengan membaca  roadmap tersebut, jelas bahwa para ulama  dan tokoh muslim  umat  islam bangsa Indonesia  (UIBI) sudah memiliki visi yang mendunia. Bukan saja mendirikan sebuah negara Islam akan tetapi memberikan dukungan  terhadap upaya mendirikan negara  Islam di negeri- negeri lainnya hingga akhirnya  mendirikan  Dewan Imamah Dunia untuk mengakta khilafah dunia.   

Setan Besar dan Setan Kecil: Perlawanan Yang Nyata

Sejak Republik Islam Iran berdiri lewat Revolusi 1979, semakin jelas siapa  pihak musuh Islam sesungguhnya, yang disebut Ayatullah  Ruhullah Khomeini  sebagai setan besar (AS) dan setan kecil (Israel).

Hal ini semakin dipertegas kembali, melalui  drama Perang Iran vs AS/Israel (2026) yang menyadarkan elit pemimpin, ulama dan tokoh umat Islam di berbagai kawasan di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara siapa sebenarnya musuh Islam yang berkedok konsep-konsep demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), pembangunan, moderasi bergama, dan pinjaman dari sistem keuangan  internasional.    

Hegemoni Barat yang arogan mendapat perlawanan nyata dengan syahidnya Imam Ali Khamanei dan banyak  tentara dan  umat islam Iran yang gugur dalam pertempuran dan pengeboman pihak Israel dan AS. Gelombang perlawanan dari berbagai kalangan seluruh dunia terhadap sikap arogansi dan kekejaman AS di berbagai belahan negeri-negeri Timur Tengah dan Eropa menjadi fenomena global saat ini.   

Hadirnya Republik Islam Iran dengan sikap perlawanannya secara militer dan diplomasi memicu pro-kontra dari pihak umat islam seluruh dunia, termasuk  para ulama dan  elit-elit pemimpin umat. Sementara ituk pihak rezim pemerintahan negara-negara dibawah kooptasi Barat, bersikap ambivalen;  ada yang  tegas-tegas menjadi bagian dari Barat ada yang abu-abu dan mencari keuntungan stabilitas kekuasaan rezimnya. Bahkan, beberapa negara Eropa menolak atas ajakan AS untuk turut-serta melawan Iran.  

Drama perang  Iran melawan AS/Israel seharusnya menjadi momentum sadar diri akan wajibnya persatuan umat Islam seluruh dunia melawan Barat Sekuler.  Tentu saja, ini bukan mudah, karena tantangan dari tubuh umat islam pun tidak kurang-kurang  berdampak melemahkan, seperti adanya  usaha   mendramatisasi dan mengangkat kembali  isu perbedaan Syiah-Sunni dalam tataran khilafiyah yang berujung pada pengkafiran yang bersifat teologi.

Maka, upaya untuk membaca sanad perjuangan  islam bernegara di Indonesia   menjadi suatu keniscayaan ketika kita bermaksud untuk melakukan ikhtiar  penyadaran kepada ummat islam bangsa Indonesia (UIBI), sebagaimana  yang sudah  ditunjukkan oleh saudara  umat islam bangsa Iran  yang sudah secara nyata melakukan perlawanan bersenjata terhadap AS/Israel.

 


10 Program Ambisius yang Berakhir di Tempat Sampah Sejarah

Sebelumnya

Gema Sejarah di Meja Perjamuan: Lonceng HMS Trump dan Diplomasi Transatlantik

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Histoire