post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Ketegangan yang kembali memuncak di kawasan Selat Hormuz setelah serangan Amerika Serikat terhadap kota pelabuhan Bandar Abbas Iran dinilai bukan sekadar respons strategis militer, melainkan langkah yang sangat dipengaruhi oleh kalkulasi politik domestik. 

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, menilai serangan yang kembali dilakukan AS dan Israel merupakan upaya putus asa dari pemimpin AS dan Israel untuk mempertahankan kursi kekuasaan mereka.

Menurutnya, Donald Trump dan Benjamin Netanyahu saat ini berada dalam posisi terjepit akibat penurunan tingkat popularitas yang tajam di negara masing-masing. Tekanan ini semakin intensif menjelang Pemilu Sela AS yang dijadwalkan pada November 2026 dan Pemilu Israel yang akan dihelat lebih awal pada Oktober 2026.

"Keduanya merasa bahwa satu-satunya cara yang paling efektif bagi mereka untuk menyelamatkan diri dan partai dalam pemilu adalah dengan membuktikan bahwa alasan mereka memerangi Iran adalah benar, dan perang itu berbuah kemenangan," ujar Dr. Teguh dalam analisanya terkait eskalasi konflik tersebut.

Di Amerika Serikat, posisi Trump memang tengah goyah. Survei terbaru dari Emerson College Polling menunjukkan ketidakpuasan publik yang signifikan terhadap kebijakan luar negeri pemerintahannya. Laporan tersebut mencatat bahwa 53 persen pemilih memandang tindakan militer terhadap Iran sebagai sebuah kegagalan, dan Partai Demokrat saat ini memegang keunggulan 10 poin dalam jajak pendapat pemilu sela.

Senat AS baru-baru ini secara resmi meloloskan sebuah resolusi yang bertujuan untuk membatasi wewenang Presiden Donald Trump dalam melancarkan aksi militer terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres. Pemungutan suara pada Selasa, 19 Mei 2026 itu berakhir dengan hasil 50-47, menandai langkah signifikan dalam upaya legislatif untuk mengontrol kebijakan perang eksekutif.

Sementara itu, di Israel, posisi Benjamin Netanyahu jauh lebih rentan. Berbagai jajak pendapat yang dirilis pada bulan Mei 2026 menunjukkan bahwa 55 persen warga Israel menginginkan sang Perdana Menteri mundur dari jabatannya. Koalisi pemerintahannya pun dilaporkan terus kehilangan dukungan, dengan proyeksi kursi di Knesset yang kini berada di bawah ambang batas mayoritas.

Dr. Teguh menilai bahwa perang menjadi "kartu terakhir" bagi kedua pemimpin tersebut untuk mengalihkan perhatian publik dari persoalan ekonomi dan kegagalan domestik. Dengan narasi ancaman eksistensial dari Iran, mereka berharap dapat memicu semangat nasionalisme yang mampu menyatukan basis pemilih mereka yang mulai terpecah.

"Mereka mempertaruhkan stabilitas regional demi ambisi politik pribadi. Ketika kebijakan ekonomi gagal dan kepercayaan publik merosot, menciptakan krisis luar negeri sering kali menjadi jebakan oportunistik yang dipilih oleh pemimpin yang sedang terdesak," lanjut Dr. Teguh.

Strategi ini dinilai membawa risiko tinggi. Bagi Trump, kegagalan dalam memberikan hasil yang nyata dari serangan di Selat Hormuz justru memperkuat narasi lawan politiknya bahwa ia telah menyeret AS ke dalam konflik yang tidak perlu dan merugikan kestabilan ekonomi global.

Di sisi lain, Netanyahu menghadapi oposisi yang semakin bersatu. Merger kekuatan antara tokoh-tokoh sentris seperti Yair Lapid dan Naftali Bennett menjadi ancaman serius bagi kelangsungan politik Netanyahu. Oposisi Israel secara terbuka mengkritik kesepakatan dan langkah militer yang dilakukan pemerintah sebagai tindakan yang tidak membawa solusi keamanan, melainkan justru memperburuk keterisolasi internasional Israel.

Hingga saat ini, situasi di Selat Hormuz tetap berada dalam kondisi "tegang dan membeku". Meskipun serangan telah dilakukan, target untuk mencapai kemenangan mutlak yang diharapkan mampu mendongkrak popularitas Trump dan Netanyahu masih jauh dari jangkauan, sementara biaya politik dari perang ini terus membayangi agenda pemilu di kedua negara.

 


Kuba di Dewan Keamanan PBB Kutuk Agresi AS terhadap Iran dan Blokade Energi ke Kuba

Sebelumnya

Pemerintah Iran Pulihkan Akses Internet

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia