Oleh: Adhie M. Massardi, Perumus dan Peramu Peradaban
NONTON pertarungan Perancis dan Spanyol dini hari nanti seperti menyaksika VAR saat dua raksasa Eropa ini membanjiri Amerika dengan darah. Salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah modern awal, yang membentang dari akhir abad ke-15 hingga abad ke-18.
PIALA DUNIA 2026 ini memang seperti Video Assistant Referee (VAR) di hadapan sejarah. Dan kita menjadi wasit yang melihat rekaman ulang sepakterjang mereka yang brutal, seperti binatang penuh nafsu kekuasaan, menindas dan buas.
Pada babak penyisihan, misalnya, saat menyaksikan Belanda dan Jepang berlaga(15/6) untuk meraih dua tiket di Grup F, kita seperti sedang melihat kembali konflik mereka sepak terjang mereka di Nusantara.
Ketika itu ersaingan Belanda dan Jepang di Indonesia (Hindia Belanda) adalah kisah tentang benturan dua kekuatan besar di Asia—yang satu mewakili kolonialisme Barat tua yang eksploitatif, dan Jepang mewakili imperialisme baru Timur yang agresif dengan semboyan modernisasi.
Hubungan ini bergerak dari persaingan dagang yang terselubung, spionase, hingga akhirnya meletus menjadi konfrontasi militer terbuka yang mengubah jalannya sejarah Indonesia.
Persaingan Ekonomi dan "Perang Dingin" Dagang
Pada awal abad ke-20, Jepang mengalami industrialisasi yang luar biasa pesat (Restorasi Meiji). Mereka membutuhkan dua hal: pasar untuk menjual barang-barang hasil pabrik mereka, dan sumber daya alam (terutama minyak bumi, karet, dan besi) untuk memberi makan mesin industri dan militer mereka. Hindia Belanda memiliki keduanya.
Perang Intelijen dan Toko Jepang
Bersamaan dengan ekspansi dagang, muncul jaringan Toko Jepang hingga ke pelosok-pelosok desa di Jawa dan Sumatra. Banyak dari pemilik toko, fotografer, atau pengusaha perikanan Jepang ini belakangan diketahui merupakan agen intelijen (spionase) yang memetakan topografi, pelabuhan, dan kekuatan militer Belanda.
Hanya dalam hitungan pekan, setelah pasukan Jepang mendarat di Jawa (Banten, Eretan Wetan, dan Kragan) dan bergerak cepat ke jantung pertahanan Belanda, Panglima Tentara Hindia Belanda, Jenderal Ter Poorten menyerah tanpa syarat kepada Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati, Subang, 8 Maret 1942.
Tapi dalam persaingnan dalam sepakbola modern di Piala Dunia 2026, kekuatan mereka seimbang sehingga berakhir dengan sama-sama happy: 2-2.
Dan bangsa Indonesia? Bangsa Indonesia tetap setia menyaksikan kejadian itu dengan tatapan: melongo.
Portugal vs Spanyol (Ternate vs Tidore)
Lebih menarik lagi saat nonton laga Portugal vs Spanyol di babak knockout (7/7) di Stadion Dallas, AS. Kita seperti melihat putaran ulang yang diperlambat bagaimana penguasa lokal (Tidore) mengundang armada asing Spanyol (1521) untuk memerangi Ternate yang sejak 1512 besekutu dengan Portugal.
Dua raksasa penjelajah dari Eropa ini akhirnya tabrakan di kawasan penghasil rempah—yang mereka butuhkan.
Perselisihan hak dagang akibat kedatangan Spanyol akhirnya diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa pada 1529, yang menetapkan Spanyol harus meninggalkan Maluku dan berpindah ke Filipina, sementara Portugal tetap memegang hak atas Maluku dengan kompensasi: Portugal "membayar" hak eksklusif atas wilayah kaya rempah-rempah itu sebesar 350.000 dukat emas kepada Spanyol yang kemudian pergi ke Filipina.
Tapi persaingan antara Portugal dan Spanyol di Maluku bukan sekadar pertarungan dua bangsa Eropa, melainkan sebuah contoh klasik "perang proksi" di Nusantara yang memanfaatkan rivalitas lokal yang sudah ada sebelumnya.
Ternate dan Tidore sudah lama bersaing memperebutkan hegemoni perdagangan rempah-rempah di Maluku. Ketika bangsa Eropa tiba, para Sultan dari kedua kesultanan ini melihat kehadiran orang asing sebagai peluang strategis untuk memperkuat posisi mereka masing-masing.
Akan tetapi di abad digital, di dunia sepakbola modern, persaingan Portugal dan Spanyoll berakhir terbalik. Portugal yang dipaksa pulang kampung dengan satu sepakan Mikel Merino (skuad Arsenal) ke gawang yang dijaga Diego Costa, di injury time.
Dan bangsa Indonesia? Bangsa Indonesia tetap setia menyaksikan kejadian itu dengan tatapan: melongo.
Perancis vs Spanyol = Sejarah Kebrutalan Imperialisme
Persaingan Perancis dan Spanyol memang tak ada kaitan emosional langsung dengan kita. Tapi tidak bagi bangsa Amerika. Maka ketika mereka menyaksikan laga semi-final di Stadion Dallas itu, Perancis yang dibekali dua gelar juara dan Spanyol satu gelar, yang akan tampak di layar VAR adalah ini:
Ladang Pembantaian di Benteng Caroline
Ketika itu Spanyol mengeklaim seluruh wilayah Florida berdasarkan penjelajahan awal mereka, namun pada tahun 1564, sekelompok kaum Huguenot (Protestan Perancis) membangun Benteng Caroline dekat Jacksonville modern.




KOMENTAR ANDA