Angkatan Laut Amerika Serikat bersama Boeing berhasil melaksanakan uji terbang kedua untuk pesawat pengisi bahan bakar tanpa awak (drone tanker) versi produksi perwakilan, MQ-25A Stingray. Keberhasilan uji coba yang diumumkan pada 10 Juni 2026 ini menandai langkah maju yang signifikan dalam pengembangan armada penerbangan tak berawak militer AS. Penerbangan kedua ini dilakukan berselang lebih dari dua bulan setelah penerbangan perdana sukses digelar pada 25 April 2026 lalu dari Bandara MidAmerica St. Louis, Illinois.
Pada penerbangan kedua ini, Boeing dan Angkatan Laut AS menguji siklus buka-tutup roda pendaratan (landing gear cycles) untuk pertama kalinya saat pesawat berada di udara. Hal ini berbeda dengan penerbangan perdana yang menerapkan konfigurasi roda tetap di bawah demi alasan keselamatan, sebuah prosedur standar dalam penerbangan perdana pesawat baru. Selain menguji mekanisme roda, jet tanpa awak ini juga dipasangi perangkat lunak (software) baru yang dirancang khusus untuk mendukung perluasan amplop terbang (flight envelope) pada pengujian-pengujian di masa mendatang.
Dalam siaran pers resminya, Boeing menjelaskan bahwa MQ-25A Stingray mampu mengelola sistem propulsi, subsistem, panduan, dan kontrol penerbangan secara mandiri (autonomus). Kendali penuh dari darat dilakukan melalui stasiun kontrol MD-5 Ground Control Station (GCS) yang terintegrasi dalam Unmanned Carrier Aviation Mission Control System (UMCS) di Bandara MidAmerica. Selama uji coba berlangsung, drone canggih ini tetap menggendong Cobham Aerial Refueling Store (ARS) di bawah sayap kirinya, sebuah sistem selang pengisian bahan bakar yang juga digunakan pada jet tempur F/A-18.
Sebagai persiapan matang sebelum benar-benar diterjunkan dalam operasi kapal induk, MQ-25A dijadwalkan untuk terus melanjutkan kampanye uji terbang intensif guna memperluas batas performa udaranya. Selain pengujian teknis, pesawat tangki nirawak ini juga dilaporkan akan segera menerima skema warna atau livery resmi dari Angkatan Laut AS dalam waktu dekat. Momentum ini melengkapi pencapaian bulan lalu, di mana Angkatan Laut AS secara resmi menyetujui program drone tanker ini untuk masuk ke tahap Produksi Awal Tingkat Rendah (LRIP).
Di samping pengujian versi produksi ini, kesiapan operasional kapal induk juga terus dimatangkan menggunakan prototipe pendahulu. Belum lama ini, dokumentasi resmi Angkatan Laut AS memperlihatkan demonstrator T1 milik Boeing—yang pertama kali mengangkasa pada tahun 2019—telah berada di atas dek penerbangan kapal induk USS Nimitz. Boeing memaparkan bahwa rangkaian uji darat dan udara ini difokuskan untuk menguji kode kontrol penerbangan otonom serta respons pesawat dalam berbagai skenario darurat ketika pilot darat tidak melakukan intervensi manual.
Selama proses lepas landas pada penerbangan kedua, visualisasi yang dirilis oleh pihak perusahaan memperlihatkan kemudahan operasional drone ini. Seorang anggota tim penguji hanya perlu mengaktifkan perintah auto-taxi dan auto-takeoff dari layar monitor. Setelah tombol ditekan, MQ-25A secara mandiri melakukan pergerakan di landasan pacu hingga mengudara ke langit Illinois, sementara tim teknisi di darat bertindak sebagai pengawas jalannya operasi otomatis tersebut.
Di balik kemampuan otonomnya yang luar biasa, terdapat kerja keras bertahun-tahun dalam pengembangan perangkat lunak. Menurut data dari para insinyur Boeing, MQ-25 Stingray digerakkan oleh sekitar 600.000 baris kode yang mengatur kontrol dan keselamatan penerbangan. Sebelum diimplementasikan pada pesawat asli, sistem ini telah melewati pengujian laboratorium yang melelahkan selama 200.000 jam, ditambah dengan lebih dari 1.000 jam uji coba di darat menggunakan pesawat uji pertama.
Pengoperasian MQ-25A oleh Air Vehicle Pilots (AVP) di dalam stasiun kendali darat terbilang unik karena tidak menggunakan tuas kendali konvensional (stick and throttle). Para pilot darat bertugas menetapkan titik koordinat (waypoints) dan jalur penerbangan yang harus dilalui oleh pesawat. Tugas mereka kemudian disederhanakan melalui penekanan tombol perintah makro seperti bergerak, lepas landas, dan mendarat, yang kemudian diterjemahkan secara mandiri oleh komputer onboard pesawat menjadi aksi mekanis pada seluruh sistem propulsi dan kendali.
Model MQ-25A versi produksi saat ini memiliki perbedaan yang sangat besar jika dibandingkan dengan demonstrator T1 versi awal tahun 2019. Varian terbaru ini dilengkapi dengan perangkat lunak otonomi yang jauh lebih canggih serta sistem manajemen kontingensi (situasi darurat). Mark Dunn selaku pemimpin tim integrasi sistem misi MQ-25 menegaskan bahwa pembaruan perangkat lunak baru ini sangat krusial agar MQ-25A dapat berintegrasi secara mulus dan aman dengan sayap udara kapal induk (carrier air wing) berawak lainnya.
Sebelum uji terbang berisiko dilakukan, para insinyur memisahkan pengujian perangkat keras dan perangkat lunak di dalam laboratorium menggunakan komputer Vehicle Management System Computers (VMSCs) asli. Kepala Insinyur MQ-25, Juan Cajigas, mengungkapkan bahwa timnya sengaja menyuntikkan berbagai skenario kegagalan ekstrem ke dalam sistem—seperti hilangnya navigasi GPS, kegagalan mesin, hingga putusnya komunikasi dengan pilot darat. Sistem otonom terbukti merespons dengan baik, salah satunya dengan mengaktifkan mode return-and-land yang membuat pesawat otomatis pulang dan mendarat darurat di bandara asal secara aman.




KOMENTAR ANDA