Sejak Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, tuduhan mengenai perlindungan terhadap Messi terus bermunculan setiap kali terjadi keputusan kontroversial yang menguntungkan Argentina.
Oleh: Safriady, Pemerhati Isu Strategis & Doktor Komunikasi Unpad
PIALA Dunia 2026 seharusnya menjadi panggung perpisahan paling indah bagi dua pemain terbaik abad ke-21: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Namun, alih-alih hanya dikenang karena kualitas sepak bolanya, turnamen ini justru memunculkan perdebatan lain yang jauh lebih sensitif, yakni dugaan adanya perlakuan berbeda dari FIFA terhadap dua legenda tersebut.
Apakah Lionel Messi benar-benar “anak emas” FIFA? Ataukah Cristiano Ronaldo menjadi korban persepsi yang dibentuk media dan dinamika kompetisi? Pertanyaan itu memang belum memiliki jawaban pasti. Namun satu hal yang tidak dapat dibantah adalah persepsi tersebut semakin menguat sepanjang Piala Dunia 2026.
Persepsi dalam olahraga modern sama pentingnya dengan fakta. Dalam era media sosial, legitimasi sebuah turnamen tidak hanya ditentukan oleh keputusan di lapangan, tetapi juga oleh bagaimana publik memandang independensi penyelenggaranya. Ketika jutaan penggemar mulai mempertanyakan netralitas FIFA, maka organisasi tersebut menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar kontroversi wasit.
Lionel Messi memang masih menunjukkan kualitas luar biasa. Argentina terus melaju hingga perempat final berkat performanya yang tetap menentukan di usia senja. Namun, perjalanan Argentina menuju babak delapan tidak sepenuhnya lepas dari kontroversi. Dalam laga melawan Mesir, sejumlah keputusan wasit memicu protes keras.
Pelatih Mesir bahkan secara terbuka menuduh FIFA memiliki kepentingan agar Messi dan Argentina terus bertahan di turnamen karena nilai komersialnya. Tuduhan tersebut tidak disertai bukti yang membuktikan adanya keberpihakan FIFA, tetapi menunjukkan betapa kuatnya persepsi publik mengenai isu tersebut.
Kontroversi semakin membesar ketika rekaman ekspresi Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang tampak tegang saat Argentina tertinggal, beredar luas di media sosial. Bagi sebagian orang, itu hanyalah ekspresi spontan seorang penikmat sepak bola. Namun bagi kelompok lain, momen tersebut dianggap memperkuat dugaan bahwa FIFA memiliki kepentingan besar agar Messi terus melangkah.
Narasi “Messi sebagai anak emas FIFA” bukanlah cerita baru. Sejak Argentina menjuarai Piala Dunia 2022, tuduhan mengenai perlindungan terhadap Messi terus bermunculan setiap kali terjadi keputusan kontroversial yang menguntungkan Argentina.
Piala Dunia 2026 memperlihatkan bahwa persepsi tersebut belum juga menghilang. Bahkan beberapa media dan analis menyoroti dugaan inkonsistensi penerapan kartu terhadap Messi dibanding pemain lain dalam insiden serupa, meskipun hal itu tetap menjadi bahan perdebatan dan bukan bukti adanya kebijakan resmi FIFA.
Sebaliknya, Cristiano Ronaldo menjalani kisah yang sangat berbeda.
Pada usia 41 tahun, Ronaldo datang ke Amerika Utara membawa ambisi terakhir yaitu mengangkat trofi Piala Dunia yang belum pernah ia raih sepanjang kariernya. Portugal memang lolos ke fase gugur, tetapi perjalanan mereka berakhir di tangan Spanyol. Setelah kekalahan itu, Ronaldo memastikan bahwa Piala Dunia 2026 merupakan penampilan terakhirnya di ajang terbesar sepak bola tersebut.
Yang menarik bukan hanya hasil pertandingan, melainkan cara narasi dibangun. Ketika Messi gagal mengeksekusi penalti, pemberitaan lebih banyak menonjolkan kebangkitan Argentina dan karakter kepemimpinannya. Sebaliknya, ketika Portugal tersingkir, fokus pemberitaan bergeser pada kegagalan Ronaldo menutup kariernya dengan gelar dunia. Perbedaan framing ini memperkuat kesan bahwa satu legenda diposisikan sebagai kisah yang harus terus hidup, sedangkan legenda lainnya lebih sering ditempatkan sebagai sosok yang sedang menutup bab terakhir kariernya.
Padahal secara ekonomi, Messi dan Ronaldo sama-sama merupakan aset terbesar sepak bola dunia. Kehadiran keduanya meningkatkan penjualan tiket, hak siar, sponsor, dan interaksi digital dalam skala global. FIFA tentu memiliki kepentingan agar ikon-ikon tersebut tetap menjadi magnet turnamen.
Masalahnya, ketika kepentingan komersial bertemu dengan keputusan-keputusan kontroversial di lapangan, ruang spekulasi menjadi semakin besar.
Ironisnya, FIFA sebenarnya juga mengambil keputusan regulasi yang justru menguntungkan Ronaldo. Perubahan aturan menjelang Piala Dunia membuat sebagian hukuman dari babak kualifikasi tidak lagi otomatis dibawa ke putaran final. Kebijakan ini memungkinkan Ronaldo tampil sejak laga pertama Portugal. Artinya, jika berbicara mengenai regulasi, Ronaldo juga memperoleh manfaat dari perubahan aturan tersebut.
Fakta ini menunjukkan bahwa tuduhan FIFA selalu memihak Messi tidak dapat diterima begitu saja. Justru persoalan utama berada pada konsistensi tata kelola FIFA. Ketika organisasi itu mengambil sejumlah keputusan yang kontroversial baik terkait perubahan regulasi disiplin maupun polemik lain selama turnamen kepercayaan publik ikut terkikis.
Pada akhirnya, mungkin yang sedang dipertandingkan bukan hanya sepak bola, tetapi juga narasi. Messi dipandang sebagai ikon yang ingin terus dirayakan hingga akhir kariernya. Ronaldo diposisikan sebagai legenda yang harus menerima kenyataan bahwa waktunya telah selesai. Narasi semacam ini tidak selalu dibangun oleh FIFA, melainkan juga oleh media, industri hiburan olahraga, dan algoritma media sosial yang memperkuat cerita paling emosional.
Namun, bagi FIFA, persepsi tetap merupakan persoalan serius. Organisasi sebesar FIFA tidak cukup hanya bersikap netral, FIFA juga harus tampak netral. Ketika jutaan penggemar mulai percaya bahwa ada "anak emas" dan ada "anak tiri", maka yang dipertaruhkan bukan lagi nama Messi atau Ronaldo, melainkan kredibilitas Piala Dunia itu sendiri.
Messi dan Ronaldo sudah tidak perlu lagi membuktikan siapa yang lebih hebat. Keduanya telah menulis sejarah dengan cara yang berbeda. Kini justru FIFA yang harus membuktikan kepada dunia bahwa sejarah sepak bola tidak ditentukan oleh siapa yang paling menguntungkan secara komersial, melainkan oleh prinsip keadilan yang menjadi roh utama olahraga.




KOMENTAR ANDA