post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Dunia penerbangan terus berkembang dengan pembaruan informasi yang serba cepat. Sayangnya, sistem operasional di bandara sering kali mengandalkan komunikasi visual—seperti papan pengumuman, aplikasi, atau tanda arah—yang membuat wisatawan tunanetra atau mereka dengan gangguan penglihatan sering kali terabaikan dan tertinggal di tengah keramaian.

Baru-baru ini, sebuah insiden yang menimpa Anthony Maglione di Bandara Internasional Philadelphia menjadi sorotan. Saat penerbangannya dibatalkan, petugas bandara yang seharusnya membantunya justru menghilang, meninggalkan Maglione tanpa informasi sama sekali mengenai gangguan perjalanan tersebut.

Maglione hanya mengetahui bahwa penerbangannya dibatalkan melalui notifikasi di aplikasi selulernya, bukan melalui pengumuman langsung yang dapat ia dengar. Akibat ketidakpedulian sistem ini, ia akhirnya terpaksa meminta tolong kepada orang asing di bandara dengan berkata, "Saya akan membayar seseorang untuk mengantar saya ke meja layanan American Airlines."

Insiden ini bukan kasus terisolasi; sebelumnya, dua penumpang tunanetra di Bandara Internasional Louis Armstrong New Orleans juga dilaporkan terlantar selama lima jam setelah tidak mendapatkan informasi rebooking. Kedua contoh ini menunjukkan bahwa kendala utama terletak pada kegagalan koordinasi antar-staf saat situasi operasional sedang kacau.

Padahal, peraturan dari Departemen Transportasi AS sudah sangat jelas: penumpang dengan disabilitas harus mendapatkan akses informasi yang sama mengenai penundaan, pembatalan, dan perubahan gerbang secara cepat dan akurat. Kebijakan ini mewajibkan maskapai untuk menjamin hak-hak tersebut terpenuhi di setiap titik layanan.

Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada "proses estafet" layanan di lapangan. Perjalanan di bandara melibatkan berbagai pihak, mulai dari agen check-in, petugas keamanan, hingga staf gerbang. Saat terjadi gangguan atau pembatalan, sistem pendukung ini sering kali runtuh karena staf yang terlalu sibuk, membuat komunikasi krusial bagi penyandang disabilitas terputus.

Sebagai solusi teknologi, beberapa bandara kini mulai mengadopsi alat bantu navigasi mandiri. Bandara seperti Austin-Bergstrom dan Chicago Midway kini menyediakan Aira Explorer, sebuah layanan yang menghubungkan wisatawan tunanetra dengan penerjemah visual jarak jauh melalui kamera ponsel mereka.

Sementara itu, bandara seperti Louisville Muhammad Ali mulai menggunakan GoodMaps Explore. Teknologi ini berfungsi layaknya GPS dalam ruangan yang memberikan peta 3D serta petunjuk arah langkah-demi-langkah bagi penyandang tunanetra agar mereka dapat bernavigasi secara lebih mandiri di dalam terminal yang luas.

Meski teknologi membantu, peran sesama penumpang juga masih krusial. Mark Riccobono, Presiden National Federation of the Blind, menyarankan agar masyarakat tidak langsung bertindak "superhero" atau menarik tangan wisatawan tunanetra, melainkan cukup bertanya, "Apakah Anda butuh bantuan?" dan memberikan informasi yang spesifik dan objektif.

Pada akhirnya, bandara idealnya menjadi ruang yang informasinya dapat diakses oleh semua orang melalui berbagai cara. Sampai sistem tersebut benar-benar konsisten dan andal, kenyataan bahwa penyandang disabilitas harus bergantung pada kebaikan orang asing tetap menjadi indikator bahwa industri penerbangan masih memiliki pekerjaan besar dalam menjamin kesetaraan akses.


“July 4th Shutdown”, Penutupan Total Bandara demi Perayaan Sejarah

Sebelumnya

Lampu Sorot Arena Tarung Bebas di Gedung Putih Ganggu Penerbangan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Airport