post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Program pesawat widebody terbaru yang sangat dinantikan, Boeing 777X, kembali dihantam ketidakpastian. Kepala Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengungkapkan bahwa regulator kemungkinan besar tidak akan mengeluarkan sertifikasi untuk pesawat berbadan lebar tersebut pada tahun ini. Penundaan terbaru ini membuat jadwal pengiriman perdana yang telah ditargetkan pada awal tahun 2027 kini berada dalam risiko besar untuk kembali bergeser.

Kabar buruk ini mencuat setelah Administrator FAA, Bryan Bedford, memberikan pernyataan dalam forum puncak pemimpin maskapai CAPA. Bedford menjelaskan bahwa proses sertifikasi Boeing 777X baru akan diselesaikan setelah FAA merampungkan pengujian untuk dua varian 737 MAX yang tersisa, yaitu MAX 7 dan MAX 10. Kedua varian pesawat berlorong tunggal (narrowbody) tersebut ditargetkan untuk lolos uji sertifikasi menyeluruh pada akhir tahun ini.

Padahal, Boeing sebelumnya sangat berharap bisa mengantongi sertifikasi kelaikan terbang FAA untuk 777X pada Oktober 2026. Meskipun jadwalnya kembali mundur, pihak regulator tidak memberikan rincian spesifik mengenai alasan teknis di balik pergeseran linimasa tersebut. Dengan penundaan ini, proyek pembangunan Boeing 777X tercatat telah molor selama tujuh tahun dari jadwal target awal, serta menandai perjalanan panjang selama 14 tahun sejak pertama kali diluncurkan secara resmi pada tahun 2013 silam.

Menanggapi situasi ini, manajemen Boeing berulang kali menegaskan bahwa penundaan bukan disebabkan oleh munculnya masalah teknis baru pada pesawat. Hambatan utama murni terletak pada kompleksitas dan ketatnya proses birokrasi serta tahapan evaluasi dalam sertifikasi itu sendiri. Kendati demikian, mundurnya jadwal ini langsung berdampak pada maskapai peluncur (launch customer), Lufthansa, yang sebelumnya telah bersiap menerima unit pertama mereka di awal tahun 2027.

Ironisnya, penundaan ini terjadi tepat setelah Boeing berhasil merayakan pencapaian penting pada Mei 2026, di mana pesawat produksi standar pertama 777-9 untuk Lufthansa sukses melakukan penerbangan perdana selama tiga jam di Everett, Washington. Berbeda dengan prototipe uji coba sebelumnya, pesawat ini sudah dilengkapi kabin penuh pesanan Lufthansa, termasuk kelas bisnis terbaru mereka, Allegris. Saat ini, armada tersebut sedang menjalani uji sistem di dunia nyata, mulai dari fasilitas dapur pesawat (galley), hiburan dalam penerbangan (IFE), hingga performa Wi-Fi.

Di tengah bayang-bayang penundaan oleh FAA, CEO Boeing, Kelly Ortberg, mencoba memberikan pandangan yang lebih optimis saat berbicara di Konferensi Keputusan Strategis Tahunan Bernstein di New York. Ortberg menyatakan bahwa Boeing berharap dapat menyelesaikan seluruh program uji terbang pada akhir tahun ini, terkecuali untuk sertifikasi operasi jarak jauh standar ETOPS. Ia juga menegaskan bahwa proses perakitan pesawat terus berjalan di pabrik agar siap dikirimkan tahun depan.

Tantangan besar lainnya yang dihadapi Boeing adalah nasib sekitar 30 unit pesawat 777X yang sudah terlanjur diproduksi sebelum sertifikasi resmi keluar (at risk). Puluhan pesawat tersebut dipastikan memerlukan pengerjaan ulang (rework) yang masif dan memakan biaya besar agar konfigurasinya sesuai dengan standar final yang ditetapkan FAA. Sejumlah maskapai yang mengantre bahkan telah menyatakan menolak menerima armada hasil modifikasi ulang tersebut dan memilih menunggu unit produksi yang benar-benar baru.

Sebagai suksesor, Boeing 777X mengadopsi banyak teknologi mutakhir dari saudaranya, 787 Dreamliner, termasuk jendela yang dapat diredupkan secara elektronik 16 persen lebih besar dan dinding interior yang didesain memberikan ruang bahu lebih luas. Pesawat ini juga dilengkapi inovasi ujung sayap yang dapat dilipat (folding wingtips) pertama di industri, serta ditenagai eksklusif oleh mesin General Electric GE9X, yang memegang rekor sebagai mesin jet komersial terbesar dalam sejarah penerbangan.

Di sisi lain, Boeing saat ini fokus mempercepat sertifikasi 737 MAX 7 dan MAX 10 untuk memulihkan stabilitas finansial perusahaan pasca-krisis beberapa tahun lalu. Keberhasilan penjualan jet koridor tunggal seperti MAX 10—yang telah mengantongi lebih dari 1.400 pesanan reguler—menjadi sangat krusial. Arus kas dari keluarga 737 inilah yang menjadi penyambung nyawa untuk mendanai proyek ambisius berbiaya miliaran dolar seperti Boeing 777X agar tidak ditinggalkan oleh para pemesan setianya.


Wake Turbulance dari Emirates A380 di Jarak Aman, 5 Penumpang Eurowings A320 Cedera

Sebelumnya

Blokade Bahan Bakar yang Membabi Buta Kandasakan Iberia di Kuba

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews