Militer Amerika Serikat meluncurkan gelombang serangan udara terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut di tengah perebutan kendali atas Selat Hormuz yang krusial.
Komando Sentral AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa rentetan serangan terbaru ini bertujuan untuk melumpuhkan kapasitas militer Iran. Selain melancarkan serangan udara, pasukan AS juga dilaporkan telah memeriksa sebuah kapal sebagai bagian dari operasi blokade laut yang ketat di wilayah selat tersebut.
Ketegangan kian memuncak setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan rudal AS kini mulai menyasar infrastruktur sipil. Fasilitas umum seperti jembatan, stasiun kereta api, dan bandara dilaporkan menjadi target pengeboman. BBC bahkan telah memverifikasi adanya serangan udara yang menghancurkan sebuah jembatan di sebelah barat Bandar Abbas, Provinsi Hormozgan. Sementara itu, pihak Gedung Putih dan Centcom masih dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kerusakan fasilitas sipil ini.
Rudal-rudal AS dilaporkan menghantam area dekat Pulau Qeshm, Bandar Abbas, serta wilayah Bushehr yang merupakan lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Iran. Meski demikian, Centcom sama sekali tidak menyebutkan jembatan sipil dalam daftar rilis target operasi mereka. Pihak militer AS bersikeras bahwa jet tempur, drone, dan kapal perang mereka hanya menargetkan situs pengawasan pantai, pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, serta kemampuan maritim Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik jika Iran menolak kembali ke meja perundingan. Ancaman penyerangan infrastruktur sipil ini langsung memicu kritik tajam dari komunitas internasional. Kepala Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, memperingatkan bahwa menyerang warga sipil dan infrastruktur sipil secara sengaja merupakan pelanggaran berat dan dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan Konvensi Jenewa 1949.
Sebagai respons atas hancurnya Bandara Iranshahr, stasiun kereta Bandar Khamir, dan lima jembatan utama yang menewaskan sedikitnya tujuh orang, Iran langsung melancarkan serangan balasan. Teheran mengklaim telah menggempur pangkalan militer AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Saling balas serangan ini semakin memperkeruh situasi keamanan di kawasan Teluk dan menjauhkan harapan akan tercapainya kesepakatan damai.
Di sektor maritim, ketegangan juga meningkat setelah marinir AS dilaporkan menaiki sebuah kapal tanker minyak di Teluk Oman untuk memperketat blokade pelabuhan Iran yang dimulai sejak Selasa malam. Centcom menyatakan bahwa mereka berhasil mengalihkan rute tiga kapal komersial yang mencoba menerobos jalur blokade tersebut. Langkah agresif ini merupakan kelanjutan dari operasi blokade sebelumnya, di mana AS mengklaim telah melumpuhkan sembilan kapal dan mengalihkan lebih dari 140 kapal lainnya.
Meskipun situasi militer memanas, Gedung Putih menyatakan bahwa jalur diplomasi masih tetap terbuka. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Donald Trump tetap bersedia berunding demi meredakan konflik. Namun, Leavitt menggarisbawahi bahwa AS tidak akan tinggal diam dan membiarkan Iran terus menembaki kapal-kapal komersial di Selat Hormuz tanpa menerima konsekuensi militer yang setimpal.
Akibat pertempuran sengit ini, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia kini ditutup total oleh Teheran. Penutupan jalur pelayaran ini langsung memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas energi global. Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memperingatkan bahwa dunia harus sangat waspada jika konflik bersenjata ini tidak segera mereda dalam beberapa minggu ke depan, karena dapat memicu krisis pasokan minyak global.
Di sisi lain, negosiator ulung Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran tidak memiliki alasan kuat untuk mematuhi perjanjian apa pun yang merugikan kepentingan nasional mereka. Ghalibaf menegaskan bahwa kedaulatan dan keamanan nasional Iran sangat bergantung pada kendali penuh atas koridor Selat Hormuz. Sikap keras kepala dari kedua belah pihak ini membuat prospek negosiasi damai kian menemui jalan buntu.
Di tengah situasi yang mencekam, sempat muncul klaim yang membingungkan terkait pembebasan tahanan. Donald Trump sempat mengapresiasi Iran di media sosial atas pembebasan warga AS, Dena Karari, yang ditahan sejak Desember 2024 sebagai bentuk iktikad baik. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh badan peradilan Iran yang menegaskan bahwa tidak ada satu pun tahanan asal Amerika Serikat yang dibebaskan atau dipertukarkan dari penjara mereka.




KOMENTAR ANDA