post image
Foto: SimpleFlying
KOMENTAR

Insiden penerbangan kembali menimpa maskapai Southwest Airlines setelah pesawat dengan nomor penerbangan WN-375 terpaksa membatalkan rute perjalanannya pada Jumat lalu. Pesawat jenis Boeing 737-700 tersebut sedianya dijadwalkan terbang dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom (AUS) di Texas menuju Bandara Internasional Phoenix Sky Harbor (PHX) di Arizona.

Namun, sesaat setelah lepas landas dan melakukan peninggian posisi terbang, kru pesawat mendeteksi adanya kendala teknis yang memaksa mereka untuk segera mengambil tindakan pencegahan.

Kendala tersebut mulai disadari oleh kru udara saat pesawat tengah merangkak naik di ketinggian 13.000 kaki (sekitar 3.962 meter). Berdasarkan laporan dari Aviation Herald, pilot akhirnya mengambil keputusan cepat untuk memutar balik arah pesawat menuju bandara asal di Austin. Meskipun situasi tersebut membutuhkan penanganan segera, indikator di ruang kokpit menunjukkan tidak ada peringatan kebakaran pada mesin, sehingga pilot memilih untuk tidak menyatakan status darurat (emergency) selama proses pendaratan darurat tersebut.

Sebelum menyentuh landasan pacu, pilot sempat meminta bantuan dari pemandu lalu lintas udara untuk memberikan beberapa kali arahan rute (vectoring). Langkah ini diambil secara sengaja guna menghindari kondisi cuaca buruk yang sedang melanda sekitar wilayah udara Austin pada hari itu.

Sembari menavigasi pesawat menerobos awan, kru kabin aktif menyelesaikan prosedur panduan keselamatan (checklist) penurunan ketinggian hingga akhirnya pesawat berhasil mendarat dengan selamat tanpa ada insiden tambahan.

Sesaat sebelum mendarat, kru udara meminta kesiapan layanan darurat di darat untuk langsung memeriksa kondisi eksternal pesawat begitu roda menyentuh landasan. Kekhawatiran mereka terbukti benar saat tim teknis melakukan inspeksi awal pasca-penerbangan pada mesin bagian kanan.

Di dalam komponen vital tersebut, petugas menemukan adanya "serpihan logam" (metal debris) disertai kerusakan fisik yang cukup signifikan, yang langsung memicu penyelidikan lebih lanjut oleh otoritas terkait.

Akibat temuan kerusakan struktural pada mesin kanan tersebut, pesawat dengan nomor registrasi N7855A itu langsung dinyatakan dilarang terbang (grounded) guna menjalani perbaikan menyeluruh. Untuk meminimalkan kerugian dan pelayanan penumpang, Southwest Airlines segera menyiapkan armada pengganti dengan tipe sejenis yang memiliki nomor ekor N920WN. Meskipun solusi cepat telah diberikan, para penumpang tujuan Phoenix tetap harus mengalami keterlambatan jadwal penerbangan hingga 3,5 jam dari waktu semula.

Berdasarkan data yang dihimpun dari situs pelacak armada planespotters.net, pesawat komersil yang mengalami kerusakan mesin ini tercatat telah berusia cukup tua, yakni di atas 20 tahun. Sebelum memperkuat lini armada Southwest Airlines selama sembilan tahun terakhir, burung besi ini pertama kali dimiliki dan dioperasikan oleh maskapai China Eastern Airlines.

Rekam jejak digital menunjukkan bahwa badan pesawat (airframe) ini tidak memiliki riwayat insiden serius sebelumnya, membuat kejadian kerusakan mesin mendadak ini menjadi perhatian khusus.

Menanggapi peristiwa ini, Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) segera mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi kronologi kejadian di lapangan. Dalam rilisnya, FAA menyatakan bahwa sebuah pesawat telah kembali ke bandara asal karena mengalami gangguan mesin, dan inspeksi pasca-terbang mengonfirmasi adanya serpihan logam serta kerusakan pada mesin kanan di Austin, Texas. Hingga kini, detail mengenai penyebab utama yang memicu hancurnya komponen internal mesin tersebut masih dalam tahap investigasi mendalam.

Para ahli penerbangan memaparkan beberapa hipotesis teknis terkait munculnya serpihan logam di dalam mesin turbofan tersebut. Kemungkinan pertama adalah Foreign Object Debris (FOD), yaitu masuknya benda asing seperti kerikil, serpihan aspal, sampah plastik, atau gumpalan es dari landasan pacu saat pesawat melakukan taksi atau lepas landas.

Benda keras yang tersedot ini mampu menghantam bilah kipas dengan kecepatan tinggi, menciptakan efek domino yang merontokkan material logam di dalam inti mesin.

Kemungkinan kedua berpusat pada faktor kelelahan material (component fatigue) akibat usia pakai mesin yang sudah terlalu lama. Pengoperasian mesin selama bertahun-tahun tanpa henti berisiko membuat bantalan poros utama (main shaft bearings) melepaskan penggulung baja, yang kemudian menghantam bagian dalam kompartemen lain.

Selain itu, paparan panas ekstrem secara terus-menerus dapat memicu delaminasi ujung bilah kipas hingga menghasilkan serutan logam kecil yang merusak sistem transmisi roda gigi aksesori pesawat.

Guna memastikan kelaikan terbangnya kembali, tim teknisi bersertifikasi Airframe and Powerplant (A&P) kini tengah melakukan evaluasi total dan membongkar mesin kanan yang rusak untuk mengganti suku cadang yang terdampak. Setelah seluruh proses perbaikan mekanis selesai, pesawat wajib menjalani uji pembakaran berkekuatan tinggi (high-power run-up) di area khusus untuk memastikan kekuatannya menahan tekanan operasional. Setelah lolos audit mekanis ganda dan penandatanganan dokumen kelayakan oleh inspektur senior, barulah pesawat uzur ini diizinkan kembali mengangkasa.


Boeing Terapkan Sistem Peringatan Canggih untuk 777X

Sebelumnya

Wake Turbulance dari Emirates A380 di Jarak Aman, 5 Penumpang Eurowings A320 Cedera

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel AviaNews