post image
Ilustrasi: ZonaTerbang
KOMENTAR

Dalam era digital, fakta sering kali tidak cukup. Yang menentukan bukan hanya apa yang terjadi, melainkan bagaimana sebuah peristiwa dipersepsikan.

Oleh: Safriady, Pemerhati Isu Strategis & Doktor Ilmu Komunikasi Unpad

DI tengah derasnya arus informasi digital, ruang publik Indonesia sedang mengalami perubahan yang sangat mendasar. Jika dahulu perdebatan politik, ekonomi, dan sosial bertumpu pada adu data, adu program, dan adu argumentasi, kini yang semakin dominan justru adu jargon, adu kalimat, dan adu persepsi. Kata-kata telah berubah menjadi senjata. Narasi menjadi amunisi. Sementara publik menjadi medan tempur yang diperebutkan.

Beberapa pekan terakhir misalnya, pasca kenaikan harga BBM non-subsidi pada 10 Juni 2026 lalu, ruang publik dipenuhi berbagai istilah dan narasi yang saling bertabrakan. Ada yang menyebut kebijakan tersebut sebagai "langkah rasional menyelamatkan fiskal", ada yang menyebutnya "sale Indonesia", "serakanomics", "destabilisasi nasional", hingga "daur ulang Reformasi". Di media sosial, istilah-istilah tersebut menyebar jauh lebih cepat dibandingkan penjelasan teknis mengenai harga minyak dunia, kurs rupiah, atau mekanisme penyesuaian harga energi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam era digital, fakta sering kali tidak cukup. Yang menentukan bukan hanya apa yang terjadi, melainkan bagaimana sebuah peristiwa dipersepsikan.

Inilah yang oleh para ahli strategi modern disebut sebagai perception management atau manajemen persepsi. Dalam kajian perang informasi, persepsi bukan sekadar opini masyarakat, melainkan ruang strategis yang dapat dibentuk, diarahkan, bahkan dimanipulasi untuk menghasilkan perilaku tertentu. Tujuannya bukan selalu membuat orang mempercayai kebohongan, tetapi membuat mereka melihat realitas sesuai dengan sudut pandang yang diinginkan pihak tertentu.

Karena itu, perang modern tidak selalu dimulai dengan tank, rudal, atau pasukan. Ia sering dimulai dengan kalimat. Dengan tagar. Dengan video berdurasi satu menit. Dengan potongan pidato yang sengaja dipisahkan dari konteksnya.

Di Indonesia, gejala tersebut semakin terlihat. Setiap kebijakan pemerintah, setiap demonstrasi, setiap konflik politik, bahkan setiap isu ekonomi langsung berubah menjadi perebutan narasi. Bukan lagi pertanyaan "apa yang terjadi?", melainkan "siapa yang lebih dulu menguasai persepsi?"

Contoh terbaru terlihat pada respons publik terhadap kenaikan BBM non-subsidi. Sebagian narasi menekankan faktor global seperti perang, ketidakpastian pasokan energi, harga minyak dunia, dan tekanan nilai tukar rupiah. Sebagian lainnya membangun persepsi bahwa kebijakan tersebut merupakan bukti kegagalan tata kelola ekonomi nasional. Kedua kubu menggunakan data, tetapi juga menggunakan pilihan kata yang dirancang untuk menghasilkan emosi tertentu.

Di sinilah persoalannya. Ketika emosi menjadi sasaran utama komunikasi, maka fakta sering kali berubah menjadi pelengkap.

Pakar komunikasi politik dan propaganda sejak lama menjelaskan bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang paling akurat. Mereka lebih sering mengambil keputusan berdasarkan informasi yang paling sering dilihat, paling dekat dengan keyakinannya, atau paling kuat menggugah emosinya. Karena itu, operasi persepsi modern tidak selalu bertujuan meyakinkan semua orang. Cukup menciptakan keraguan, kebingungan, atau polarisasi.

Di doktrin information warfare, perang informasi didefinisikan sebagai upaya memperoleh keuntungan melalui pengelolaan dan manipulasi informasi yang dipercaya oleh target sehingga target mengambil keputusan yang menguntungkan pihak pelaku tanpa menyadarinya.

Bahkan konsep yang lebih baru, yaitu cognitive warfare, berkembang lebih jauh. Menurut berbagai kajian strategis NATO, sasaran utama bukan lagi wilayah atau infrastruktur, melainkan proses berpikir manusia itu sendiri. Yang diperebutkan adalah bagaimana masyarakat memahami realitas.

Karena itu tidak mengherankan jika hari ini kita menyaksikan lahirnya begitu banyak jargon yang terdengar hebat, rumit, dan dramatis. Sebagian digunakan untuk menjelaskan masalah. Namun sebagian lainnya digunakan untuk membingkai masalah agar sesuai dengan kepentingan politik tertentu.

Publik akhirnya hidup dalam banjir istilah. Oligarki. Destabilisasi. Kartelisasi. Sale Indonesia. Revolusi senyap. Kudeta konstitusional. Reformasi jilid dua. Sebagian istilah memiliki dasar akademik. Sebagian lagi hanya alat propaganda yang dirancang agar mudah viral.

Masalahnya, ketika jargon menjadi lebih penting daripada substansi, maka kualitas diskusi publik mulai menurun. Masyarakat tidak lagi menilai apakah sebuah argumen benar atau salah. Mereka lebih sibuk menentukan apakah argumen itu berasal dari kelompok yang mereka sukai atau mereka benci.

Di sinilah perang persepsi mencapai bentuk paling berbahaya. Ia tidak memerlukan sensor. Tidak memerlukan larangan berbicara. Sebab masyarakat secara sukarela masuk ke dalam kubu-kubu informasi yang saling memperkuat keyakinannya masing-masing.

Akibatnya, fakta yang sama dapat menghasilkan kesimpulan yang sama sekali berbeda. Sebuah kebijakan dianggap penyelamatan negara oleh satu kelompok dan dianggap pengkhianatan rakyat oleh kelompok lain. Sebuah demonstrasi dianggap perjuangan demokrasi oleh sebagian orang dan dianggap ancaman stabilitas oleh yang lain.

Padahal realitas sering kali jauh lebih kompleks daripada slogan-slogan yang beredar. Ruang publik yang sehat seharusnya menjadi tempat bertemunya fakta, analisis, dan argumentasi. 

Namun ketika perang persepsi mengambil alih, ruang publik berubah menjadi arena psikologis tempat emosi diproduksi secara massal. Yang menang bukan mereka yang paling benar, melainkan mereka yang paling efektif mengendalikan perhatian publik.

Indonesia sedang memasuki fase tersebut. Di tengah tekanan ekonomi, polarisasi politik, dan revolusi digital, setiap kelompok berlomba membangun persepsinya masing-masing. Tidak ada pihak yang sepenuhnya kebal terhadap godaan ini. Pemerintah, oposisi, media, kelompok kepentingan, bahkan buzzer dan influencer sama-sama menjadi pemain dalam pertarungan persepsi yang semakin sengit.

Karena itu, tantangan terbesar bangsa ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi atau politik. Tantangan yang tidak kalah penting adalah menjaga kewarasan publik. Sebab ketika masyarakat kehilangan kemampuan membedakan fakta dan framing, kehilangan kemampuan memisahkan analisis dan propaganda, maka yang terjadi bukan lagi demokrasi yang sehat, melainkan kompetisi ilusi.

Dan dalam sejarah, setiap kali persepsi berhasil mengalahkan kenyataan, masyarakat selalu membayar harga yang jauh lebih mahal daripada sekadar kekalahan dalam sebuah perdebatan. Mereka kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran yang ada tepat di depan mata.


Ketika Mahasiswa Mengadili Mahasiswa

Sebelumnya

Fadli Rumakefing: Gibran Mendengar dan Merangkul Mahasiswa-Pemuda

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Nasional