Maskapai penerbangan bertarif rendah (LCC) easyJet tengah menjadi sorotan setelah dua pesawat Airbus A320 miliknya terlibat dalam insiden serius yang hampir serupa hanya dalam kurun waktu beberapa minggu. Laporan terbaru dari Badan Investigasi Kecelakaan Udara Inggris (AAIB) mengungkapkan bahwa kedua pesawat tersebut lepas landas dari posisi landasan pacu yang salah, tidak sesuai dengan data perhitungan performa yang telah disiapkan oleh kru pesawat sebelum terbang.
Insiden pertama menimpa penerbangan easyJet EZY2335 yang dijadwalkan terbang dari Bandara London Luton (LTN) menuju Bandara Málaga (AGP) di Spanyol pada 13 Juni 2025. Pesawat Airbus A320-214 dengan nomor registrasi G-EZUK tersebut mengangkut 180 penumpang dan enam kru kabin. Investigasi menunjukkan adanya ketidaksesuaian fatal antara posisi aktual pesawat saat memulai akselerasi dengan data kalkulasi beban yang dimasukkan ke dalam sistem komputer pesawat.
Sebelum keberangkatan, kru pesawat awalnya berencana menggunakan posisi persimpangan (Intersection Alpha) di Runway 25 untuk lepas landas. Namun, setelah menghitung ulang performa menggunakan Electronic Flight Bag (EFB), pilot menyadari bahwa bobot pesawat yang mencapai 68.887 kg membutuhkan seluruh panjang landasan (full-length departure) agar memiliki ruang aman yang cukup. Rencana penerbangan pun akhirnya diubah demi keselamatan.
Meski revisi perhitungan telah dilakukan, sebuah kekeliruan fatal terjadi di darat. Alih-alih menuju ujung paling awal landasan pacu, pesawat justru tetap mengarah ke posisi persimpangan pendek dan memulai proses lepas landas dari titik tersebut. Akibatnya, jarak landasan yang tersedia untuk berakselerasi menjadi jauh lebih pendek dari yang seharusnya dibutuhkan oleh pesawat dengan bobot seberat itu.
Beruntung, pesawat berhasil mengangkasa dengan selamat dan melewati ujung landasan pacu pada ketinggian sekitar 19 meter di atas permukaan tanah sebelum melanjutkan penerbangan normal ke Malaga. Hal yang mengejutkan adalah kru pesawat sama sekali tidak menyadari kesalahan posisi tersebut sepanjang proses lepas landas. Kekeliruan ini baru terdeteksi di hari yang sama oleh sistem Pemantauan Data Penerbangan (Flight Data Monitoring/FDM) internal milik maskapai.
Tak lama setelah peristiwa di London Luton, insiden dengan pola yang hampir identik kembali terjadi di Bandara Manchester (MAN) pada 6 Juli 2025. Kali ini, sebuah Airbus A320 milik easyJet yang hendak terbang menuju Bandara Internasional Kos di Yunani juga lepas landas dari titik landasan yang berbeda dari asumsi perhitungan performa kru. Dua kejadian beruntun ini langsung memicu alarm bahaya terkait aspek keselamatan operasional maskapai.
Berdasarkan hasil investigasi mendalam AAIB terhadap insiden di Luton, diketahui bahwa pesawat sebenarnya dipersiapkan sedikit lebih awal dari jadwal. Tim penyidik tidak menemukan adanya tekanan waktu eksternal atau gangguan lingkungan yang dapat membuat kru merasa terburu-buru atau melewatkan prosedur standar penyiapan dokumen penerbangan.
Namun, AAIB menyoroti adanya faktor perilaku kebiasaan (habitual behavior) dan bias konfirmasi pada kru. Saat pesawat melakukan proses pushback, petugas menara pengawas lalu lintas udara (ATC) sempat bertanya apakah pesawat bisa lepas landas melalui jalur persimpangan. Kru langsung mengiyakan tawaran tersebut karena terbiasa menggunakan titik itu pada penerbangan-penerbangan sebelumnya, tanpa mengingat kembali bahwa kalkulasi performa hari itu mewajibkan mereka menggunakan landasan penuh.
Kelalaian ini terus berlanjut karena tidak adanya verifikasi silang yang kuat di dalam kokpit. Bahkan ketika ada pesawat lain di frekuensi radio yang sama menyatakan membutuhkan landasan penuh karena alasan bobot, kru easyJet tetap tidak menyadari kekeliruan mereka. Langkah pemeriksaan akhir yang mereka lakukan hanya mengandalkan ingatan, tanpa mencocokkan secara fisik antara data performa di komputer dengan posisi aktual pesawat di landasan pacu.
Menanggapi rentetan insiden serius ini, manajemen easyJet langsung melakukan evaluasi total terhadap prosedur operasional mereka. Maskapai kini telah merevisi prosedur kalkulasi performa lepas landas dengan memperketat proses verifikasi mandiri guna mengurangi ketergantungan pada memori pilot. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat sistem keselamatan penerbangan dan mencegah terulangnya kesalahan navigasi kritis di masa depan.




KOMENTAR ANDA