post image
Pasukan Komando Inggris melakukan operasi interdiksi maritim terhadap CMR Smyrtos yang berlayar di bawah bendera Kamerun palsu./The Aviationist
KOMENTAR

Angkatan Bersenjata Inggris bersama badan penegak hukum setempat berhasil melakukan operasi penyergapan dan penyitaan berskala besar terhadap kapal tanker minyak sepanjang 244 meter, Smyrtos, di lepas pantai selatan Inggris. Operasi gabungan yang berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026, ini melibatkan kekuatan penuh dari Royal Navy, Royal Marines, Royal Air Force (RAF), serta National Crime Agency (NCA).

Langkah tegas ini menandai untuk pertama kalinya Inggris memimpin langsung operasi penyitaan terhadap kapal tanker yang diduga kuat sebagai bagian dari 'armada bayangan' (shadow fleet) Rusia. Melalui operasi interdiksi maritim ini, Inggris resmi menyusul jejak sejumlah negara sekutu NATO lainnya yang telah lebih dulu mengambil tindakan serupa di perairan internasional.

Penyergapan taktis ini mengerahkan berbagai aset militer mutakhir milik Inggris. Pasukan elite Royal Marine Commandos dan petugas penegak hukum sipil spesialis dikerahkan ke lokasi dengan dukungan helikopter Merlin, Wildcat, dan Chinook, pesawat patroli maritim P-8 Poseidon, serta dua kapal perang Royal Navy, yaitu HMS Sutherland dan HMS Ledbury.

Kapal tanker Smyrtos sendiri diketahui berlayar dengan mengibarkan bendera Kamerun palsu dan telah angkat jangkar dari pelabuhan Rusia di wilayah Baltik sejak 5 Juni 2026. Berdasarkan rekam jejaknya, kapal ini sebenarnya telah masuk ke dalam daftar hitam manifes kapal sanksi pemerintah Inggris sejak Juli tahun lalu karena dinilai membantu sekutu Rusia.

Tindakan hukum di tengah laut ini memiliki landasan legal yang kuat setelah Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, memberikan lampu hijau pada Maret lalu. Berdasarkan Pasal 110 UNCLOS, kapal perang memiliki hak untuk melakukan pemeriksaan demi memverifikasi bendera jika ada dugaan kapal tersebut tidak memiliki kebangsaan resmi, sehingga hukum domestik Inggris dapat ditegakkan.

Saat ini, kapal Smyrtos telah digiring dan bersandar di kawasan Portland, Dorset, sementara masa depan jangka panjang kapal tersebut masih dalam proses pembahasan otoritas terkait. Pemerintah Inggris memastikan bahwa kapal tanker berukuran raksasa ini akan terus dipantau secara ketat demi alasan keselamatan lingkungan dan keamanan maritim.

Pemilihan lokasi penyergapan di Selat Inggris ini secara langsung menguji kesiapan tempur dan kapabilitas raid maritim Inggris. Selain helikopter angkatan laut yang beroperasi dari pangkalan RNAS Yeovilton di Somerset, pasukan elite Special Boat Service (SBS) yang bermarkas di Poole juga dilaporkan berada dalam posisi siaga penuh selama operasi berlangsung.

Unit 42 Commando dari Barak Bickleigh, Plymouth, dikonfirmasi memegang peran utama dalam aksi penyerbuan ke atas dek kapal. Pasukan ini baru saja divalidasi sebagai bagian dari Special Operations Maritime Task Group yang baru pada Februari 2026, menjadikannya ujung tombak andalan Inggris dalam menghadapi ancaman taktis di laut.

Fenomena shadow fleet Rusia sendiri merujuk pada armada kapal dagang yang kerap berganti bendera, memalsukan identitas, atau mematikan sistem navigasi AIS demi menghindari sanksi internasional saat mendistribusikan minyak ke negara-negara sekutunya. Sebelum operasi ini, Inggris juga sempat membantu Prancis menyita tanker Tagor di lepas pantai Brittany awal bulan ini.

Operasi penyitaan Smyrtos ini sekaligus menjadi debut publik bagi UK Commando Force (UKCF) di bawah nama barunya setelah bertransformasi dari 3 Commando Brigade. Operasi besar ini juga menjadi pencapaian perdana bagi Menteri Pertahanan Inggris yang baru, Dan Jarvis, yang baru saja ditunjuk menggantikan John Healey pada 11 Juni kemarin.


Armada A-10 Warthog Terakhir dari Korea Selatan Dipensiunkan

Sebelumnya

Warthog Kembali dari Operasi Epic Fury, Pamerkan Simbol Kemenangan

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Militer