post image
Abdullah Ibrahim yang dahulu kita kenal sebagai Dollar Brand.
KOMENTAR

"In the silence lies the power."
— Abdullah Ibrahim

Oleh: Ak Supriyanto, esais

DUNIA kehilangan salah satu suara paling agung dari bumi Afrika.

Pada 15 Juni 2026, Abdullah Ibrahim—yang dahulu kita kenal sebagai Dollar Brand—berpulang dengan tenang di Jerman. Di tengah dekapan keluarga, pada usia 91 tahun, setelah sakit singkat.

Sebuah senja panjang bagi jazz dunia. Dan bagi kita yang pernah tersentuh oleh tuts-tuts magisnya.

Ia lahir sebagai Adolph Johannes Brand di Cape Town, 9 Oktober 1934.

Seorang anak kulit hitam, di negeri yang kelak menusuknya dengan belati apartheid.

Pada usia tujuh tahun, jari-jari mungilnya mulai meraba tuts piano. Mencari melodi di tengah hiruk-pikuk District Six yang multikultural. Dari gereja Methodist Afrika tempat neneknya bermain piano, dari denting marabi dan mbaqanga yang mengalir di jalanan Cape Flats, ia menyerap musik seperti tanah menyerap hujan.

Saat remaja, ia bermain di berbagai grup. Lalu bersama Kippie Moeketsi, Hugh Masekela, dan Jonas Gwangwa, ia membentuk Jazz Epistles.

Tahun 1960, mereka merekam Jazz Epistle Verse One—album jazz panjang pertama oleh musisi kulit hitam Afrika Selatan. Sebuah tindakan perlawanan yang tak akan dimaafkan rezim apartheid.

Jazz dianggap subversif. Mendorong percampuran ras. Membahayakan.

Namun Ibrahim tak pernah berhenti. Bukan karena ia pemberani, melainkan karena ia melihatnya sebagai taktik.

"Kami tidak benar-benar pergi... itu adalah taktik mundur. Kami menganggap diri kami sebagai pejuang budaya untuk kebebasan."

Tahun 1962, ia berangkat ke Eropa.

Di sebuah klub di Zurich, sang istri—musisi sekaligus aktivis, Sathima Bea Benjamin (1936-2013)—membujuk Duke Ellington untuk mendengarnya bermain. Ellington terpukau. Ia membawa Ibrahim ke Amerika, merekamkannya, dan membawanya terbang ke langit jazz dunia.

Tapi ia tak pernah melupakan akar.

"Kami tidak pernah menganggap Ellington sebagai orang Afrika-Amerika. Kami menganggapnya sebagai orang bijak tua di desa."

Titik balik lain datang pada 1968.

Lelah mencari kedamaian yang tak ia temukan di keyakinan sebelumnya, ia memeluk Islam. Namanya berubah menjadi Abdullah Ibrahim.

Dalam iman barunya, ia menemukan disiplin spiritual yang kemudian meresap ke dalam setiap denting musiknya. Meditasi dalam nada. Dzikir dalam repetisi.

Di antara gelombang musisi jazz yang masuk Islam pada era 60-an dan 70-an, ia adalah salah satu yang paling khusyuk. Dalam beberapa komposisinya, ia bahkan melantunkan ayat-ayat suci. Sebuah pertemuan sunyi antara langit Cape Town dan langit Mekah.

Tahun 1974. Ia kembali ke Cape Town.

Masuk studio. Sekali rekam. Satu take.

Lahirlah "Mannenberg" —dinamai dari pemukiman kumuh tempat korban penggusuran District Six dibuang. Lagu itu membesar lebih dari sekadar musik.


Adab di Atas Selebrasi

Sebelumnya

Stupa dan Chatra dalam Arsitektur Buddhis

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Budaya