Armada jet tempur A-10C Thunderbolt II milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) dilaporkan tengah dalam perjalanan pulang menuju tanah air setelah menyelesaikan misi panjang di wilayah CENTCOM (Central Command).
Pada tanggal 12 Juni 2026, sebanyak 11 jet tempur yang dikenal dengan julukan "Warthog" ini mendarat di pangkalan udara RAF Lakenheath, Inggris. Jet-jet tangguh ini singgah dari Aviano Air Base, Italia, sebelum nantinya melanjutkan penerbangan transatlantik menuju markas asal mereka di Moody Air Force Base, Georgia.
Selama masa operasinya di Timur Tengah, armada yang bernaung di bawah Skuadron Tempur ke-75, Sayap ke-23 ini, terlibat aktif dalam misi tempur udara di Irak dan Suriah. Namun, panggung utama mereka adalah keterlibatan penuh dalam Operasi Epic Fury yang digelar di kawasan Teluk. Kepulangan mereka menarik perhatian besar para pengamat militer karena badan pesawat kini dipenuhi oleh berbagai nose art unik, tanda jatuhnya bom (bomb markings), hingga simbol khusus yang menandakan keberhasilan melumpuhkan target laut milik Iran.
Penerbangan jarak jauh menuju Inggris tersebut dibagi ke dalam empat kelompok terbang atau cells. Kelompok pertama (TABOR 11-13) diisi oleh jet berkode "King Dedede", "Fox", dan "Reaper". Kelompok kedua (TABOR 14-16) membawa jet "Diddy Kong", "Samus", dan "Sephiroth". Sementara kelompok ketiga (Tabor 21-23) terdiri dari "Macho Man", "Lil Mac", dan "Kirby", yang kemudian disusul oleh kelompok terakhir (Tabor 24-25) yaitu jet bernama "Ridley" dan "Doc Holiday".
Berdasarkan dokumentasi foto yang diambil oleh fotografer Stewart Jack, tradisi menghias pesawat tampak hidup kembali selama armada ini ditempatkan di Muwaffaq Salti Air Base, Yordania. Sebagian besar nama panggilan dan dekorasi hidung pesawat (nose art) ini mengadopsi tema karakter dari video game populer Nintendo, Super Smash Bros. Kendati demikian, beberapa nama seperti "Macho Man", "Reaper", dan "Doc Holiday" tampak menjadi pengecualian yang keluar dari tema budaya pop Jepang tersebut.
Di balik kemeriahan visual tersebut, tersimpan sebuah misteri mengenai satu unit A-10C berkode #78-0614 yang mengusung nama "Toad". Jet tempur tersebut sebelumnya terekam jelas dalam dokumentasi resmi Operasi Epic Fury pada Maret lalu, namun tidak ikut serta dalam rombongan yang pulang ke AS kali ini. Keberadaan dan nasib akhir dari jet "Toad" masih belum diketahui, memicu spekulasi kuat di kalangan pengamat bahwa pesawat tersebut kemungkinan merupakan unit yang jatuh dalam perang udara di wilayah Iran.
Selain nose art, deretan siluet bom yang dilukis di lambung pesawat memberikan petunjuk jelas mengenai variasi senjata mematikan yang dijatuhkan di medan tempur. Dari tanda yang terlihat, Warthog terbukti telah memuntahkan bom berpemandu berat GBU-31(V)1/B berbobot 2.000 pon, bom pintar berukuran sedang GBU-38/54 JDAM, serta rudal udara-ke-permukaan AGM-65 Maverick. Tak ketinggalan, simbol penggunaan roket Hydra 70 berpemandu APKWS II dan ribuan selongsong meriam legendaris GAU-8 Avenger 30-mm turut menghiasi badan pesawat.
Menariknya, beberapa pesawat seperti "Diddy Kong" juga menampilkan simbol yang diidentifikasi sebagai MALD (Miniature Air Launched Decoys). Senjata pengecoh ini dirancang khusus untuk meniru karakteristik radar dari pesawat tempur lain seperti F-16, B-52, hingga F-35. Penggunaan MALD dalam operasi nyata ini terbukti sangat vital untuk mengelabui sistem pertahanan udara dan rudal jelajah musuh, sekaligus mengalihkan perhatian dari jet tempur utama demi keselamatan para pilot.
Tanda paling bersejarah dan mencuri perhatian ditemukan pada badan jet bernama "Samus", yang memamerkan dua simbol pembunuhan (kill markings) terhadap kapal laut Iran. Hal ini menegaskan adanya pergeseran peran krusial A-10C selama Operasi Epic Fury. Pesawat yang awalnya dirancang murni untuk misi dukungan udara dekat (Close Air Support) dan penghancur tank darat ini, kini sukses diintegrasikan dalam misi serangan maritim (maritime strike) guna menghadapi ancaman di jalur perairan strategis.
Kemampuan adaptasi A-10 di wilayah perairan sebenarnya telah dilatih secara intensif dalam beberapa tahun terakhir, termasuk latihan pengawalan kapal selam nuklir AS dan simulasi menghadapi taktik serbuan kapal cepat kelompok asimetris. Karakteristik Warthog yang mampu terbang rendah dengan kecepatan lambat, waktu mengudara yang lama (loiter time), serta akurasi tembakan meriam Gatling 30-mm menjadikannya platform yang sangat mematikan untuk menyapu kawanan kapal cepat maupun drone permukaan (USV) yang mengancam armada sekutu di Teluk Persia.
Sebagai pelengkap dari kisah pertempuran sengit ini, tanda misterius lain ditemukan pada jet berkode "Ridley". Pesawat ini mengemas lukisan ekor jet F-15E disertai tulisan "So others may live" (Agar yang lain dapat hidup). Simbol emosional tersebut mengindikasikan kuat bahwa sang pilot Warthog sempat terlibat langsung dalam operasi pencarian dan penyelamatan dramatis untuk mengevakuasi kru dari jet tempur Strike Eagle dengan panggilan "DUDE 44" yang sebelumnya dilaporkan ditembak jatuh di atas wilayah Iran.




KOMENTAR ANDA