post image
Dr. Teguh Santosa dalam sebuah forum internasional di China.
KOMENTAR

Kabar mengenai penandatanganan perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang konon terlaksana pada Minggu, 14 Juni 2026, memicu respons positif dari berbagai kalangan pengamat internasional. Langkah diplomatik ini dinilai sebagai salah satu peristiwa paling bersejarah abad ini jika benar-benar terwujud dan diimplementasikan secara konsisten oleh kedua belah pihak.

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kabar kesepakatan damai tersebut. Menurutnya, sebuah rekonsiliasi antara Washington dan Teheran akan menjadi titik balik krusial yang mampu meredakan tensi tinggi yang selama ini menyelimuti kawasan Timur Tengah dan berdampak pada stabilitas global.

"Apabila kabar penandatanganan perjanjian damai pada 14 Juni ini benar-benar valid dan terealisasi, kita harus mengapresiasi setinggi-tingginya dedikasi diplomatik dari kedua negara. Ini adalah sinyal positif bahwa akal sehat geopolitik dan pendekatan dialog mulai mengungguli konfrontasi militer yang melelahkan," ujar penulis buku “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” ini.

Teguh menjelaskan bahwa latar belakang ketegangan antara AS dan Iran telah berlangsung selama puluhan tahun, berakar sejak Revolusi Islam 1979 dan diperparah oleh penarikan sepihak AS dari perjanjian nuklir JCPOA beberapa tahun lalu. Dinamika tersebut selama ini telah mengunci kedua negara dalam lingkaran setan sanksi ekonomi, perang proksi, hingga ancaman terbuka di Selat Hormuz.

Menurut Teguh, penarikan sepihak AS dari JCPOA 2015 pada masa pemerintahan Donald Trump di masa lalu menjadi hulu dari eskalasi konflik yang berlarut-larut. Sejak saat itu, Teheran secara bertahap melepas komitmen pengayaan uraniumnya, sementara Washington terus memperketat sanksi ekonomi atau maximum pressure, yang akhirnya mengunci kedua negara dalam lingkaran setan perang proksi.

Teguh melihat bahwa perjanjian damai Juni 2026 ini kemungkinan besar merupakan penyempurnaan dari kerangka kerja yang gagal dipertahankan pada 2015, namun dengan komitmen yang jauh lebih mengikat.

Lebih lanjut, dosen Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini menguraikan potensi perdamaian yang sangat besar dari kesepakatan ini terhadap arsitektur keamanan global. Sektor pertama yang akan merasakan dampak langsungnya adalah stabilitas energi dunia, mengingat status Iran sebagai salah satu pemegang cadangan minyak dan gas terbesar, serta posisinya yang mengontrol jalur logistik maritim strategis.

"Potensi perdamaian ini luar biasa. Jika sanksi ekonomi terhadap Iran mulai diredakan sebagai kompensasi dari kepatuhan mereka terhadap klausul perdamaian, pasar energi global akan mengalami stabilisasi yang signifikan. Ini adalah kabar baik bagi perekonomian dunia yang sedang berjuang keluar dari ketidakpastian," urai Teguh.

Selain dampak ekonomi, potensi perdamaian ini juga diyakini akan mengubah peta politik di Timur Tengah. Teguh menilai, redanya ketegangan AS-Iran akan memaksa kelompok-kelompok proksi di kawasan tersebut untuk menahan diri, yang pada gilirannya dapat membuka jalan bagi penyelesaian konflik berkepanjangan di Yaman, Suriah, hingga stabilitas di Lebanon selatan.

Kendati demikian, Teguh Santosa mengingatkan bahwa jalan menuju perdamaian yang hakiki masih sangat panjang dan penuh tantangan. Perjanjian di atas kertas pada 14 Juni 2026 ini baru merupakan langkah awal, di mana ujian sesungguhnya terletak pada komitmen implementasi di lapangan serta resistensi dari kelompok elang (hawks) di domestik kedua negara yang cenderung menolak kompromi.

Menutup analisisnya, Teguh berharap Indonesia, melalui kebijakan luar negeri bebas-aktifnya, dapat memanfaatkan momentum perdamaian ini untuk memperkuat peran diplomasinya di panggung internasional. Menurutnya, dunia yang lebih damai akan memberikan ruang bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk fokus pada pembangunan ekonomi nasional dan ketahanan strategis tanpa bayang-bayang perang global.


Media Israel Kutip Trump, Perdamaian dengan Iran Ditandatangani di Eropa Akhir Pekan

Sebelumnya

Krisis Iran Belum Usai, Donald Trump Gelar Tarung Bebas di Halaman Gedung Putih

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia