Raksasa dirgantara Eropa, Airbus, tidak mau ketinggalan memproduksi pesawat tempur tanpa awak. Airbus Defense and Space baru-baru ini memperkenalkan U760 Ravenstorm dalam pameran International Aerospace Exhibition (ILA) 2026 di Berlin.
Pesawat nirawak kolaboratif (Uncrewed Collaborative Combat Aircraft / UCCA) ini dirancang untuk menjalankan berbagai misi kompleks, mulai dari pertempuran udara-ke-udara, serangan udara-ke-darat, hingga peperangan elektronik.
Selain memperkenalkan Ravenstorm, Airbus juga mengungkap penamaan resmi untuk varian drone XQ-58A Valkyrie buatan Amerika Serikat yang kini sedang diadaptasi untuk pasar Eropa, yaitu U740 Valkyrie. Proyek adaptasi ini berjalan atas kerja sama erat antara Airbus dengan pabrikan asal AS, Kratos, guna memenuhi kebutuhan pertahanan modern di benua biru.
Berdasarkan lini masa perusahaan, U740 Valkyrie ditargetkan siap dikirim pada tahun 2029, sementara U760 Ravenstorm diproyeksikan menyusul pada awal dekade 2030-an. Secara khusus, U740 Valkyrie dipersiapkan untuk langsung berintegrasi dengan armada jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) dalam skema kolaborasi tak berawak (Manned-Unmanned Teaming / MUM-T). Airbus bahkan telah menjadwalkan dua uji terbang operasional sistem misi Eropa akhir tahun ini.
Kemunculan U760 Ravenstorm menunjukkan arah baru dalam cetak biru desain Airbus, mengingat bentuk dan estetika drone ini sepenuhnya berbeda dari konsep loyal wingman siluman yang sempat dipamerkan pada ILA Berlin 2024 lalu. Hingga saat ini, pihak Airbus belum memberikan pembaruan informasi mengenai nasib proyek versi siluman tahun 2024 tersebut, sehingga status keberlanjutannya masih menjadi tanda tanya.
Dibandingkan pendahulunya, U760 Ravenstorm menampilkan desain yang jauh lebih kompak dan mengikuti tren konfigurasi aerodinamis mutakhir yang saat ini diadopsi oleh berbagai program CCA global. Menariknya, pengembangan proyek drone ini berjalan secara independen, terpisah dari program Future Combat Air System (FCAS) yang dikabarkan tengah mengalami hambatan, karena Ravenstorm sengaja dioptimalkan untuk menyokong jet tempur generasi 4.5 dan 5 yang sudah eksis seperti Eurofighter dan F-35.
Meskipun berjalan mandiri, pengembangan jaringan data dan sistem drone yang awalnya disiapkan untuk menyokong jet tempur masa depan (Next Generation Fighter / NGF) dalam proyek FCAS dipastikan tetap berlanjut. Pengamat industri menilai sangat memungkinkan bagi U760 Ravenstorm untuk diintegrasikan ke dalam komponen 'Remote Carrier' milik program generasi masa depan tersebut di bawah bendera Airbus.
Dari sisi visual, U760 Ravenstorm mengusung konfigurasi lubang udara (intake) mesin di bagian atas, sebuah pendekatan desain yang serupa dengan drone CCA YFQ-42A Dark Merlin dan YFQ-48A Talon Blue. Bentuk hidungnya yang menyerupai sekop juga memiliki kemiripan kuat dengan Talon Blue serta XQ-58A Valkyrie yang saat ini sedang dimodifikasi oleh Airbus.
Pada replika ukuran penuh (1:1 mock-up) yang dipajang di area pameran, terlihat adanya rangkaian sensor di bagian hidung dan sisi samping pesawat, meskipun fungsi detailnya belum diungkap secara rinci. Sebagai representasi daya hancurnya, Airbus memamerkan dua rudal udara-ke-udara jarak luar visual (Beyond Visual-Range) jenis Meteor di samping badan pesawat, walau konfigurasi kompartemen senjata internal atau eksternalnya belum diputuskan secara definitif. Secara dimensi, drone ini memiliki bentang sayap 10 meter dengan panjang badan mencapai 13 meters.
Airbus mendeskripsikan Ravenstorm sebagai sebuah keluarga UCCA yang dapat disesuaikan skala ukurannya (scalable) serta menjadi peta jalan teknologi masa depan. Dalam rilis resminya, Airbus menegaskan bahwa drone ini dioptimalkan untuk misi multi-domain, termasuk serangan permukaan menggunakan munisi berpandu presisi, pertahanan udara dengan rudal anti-pesawat jarak menengah-jauh, serta peperangan elektronik non-kinetik untuk mengacak-acak sistem pertahanan udara musuh. Pengembangan ini juga memanfaatkan pengalaman berharga selama dua dekade sejak Airbus menerbangkan demonstrator teknologi EADS Barracuda 20 tahun silam.
Di sisi lain, varian U740 Valkyrie yang dilengkapi dengan Sistem Misi Multiplatform Autonomous Reconfigurable and Secure (MARS) milik Airbus, dikembangkan khusus demi memberikan kedaulatan operasional bagi Angkatan Udara Jerman pada 2029. Integrasi awal ini krusial mengingat Jerman telah berkomitmen membeli Eurofighter Tranche 5 dan memesan 35 unit jet siluman F-35A Lightning II, meski Airbus sendiri belum mengonfirmasi apakah U760 Ravenstorm nantinya juga akan kompatibel dengan jet tempur buatan Amerika tersebut.
Kehadiran U760 Ravenstorm menjadikannya sebagai sistem CCA kelima yang ikut bertarung di pasar Eropa, sekaligus menjadi sistem mandiri kedua yang dikembangkan secara lokal oleh industri pertahanan benua tersebut setelah CA-1 Europa. Drone ini akan bersaing ketat dengan sistem-sistem adaptasi luar negeri lainnya yang juga mengincar pasar Eropa, seperti MQ-28A Ghost Bat dari Australia, Kratos XQ-58A Valkyrie (varian U740), serta drone Kizilelma asal Turki yang kabarnya akan dirombak total menggunakan sistem misi besutan Leonardo.




KOMENTAR ANDA