post image
Presiden AS Mahmoud Abbas bicara di Sidang Majelis Umum PBB melalui rekaman video, Rabu, 23 September 2026.
KOMENTAR

Presiden Palestina Mahmoud Abbas kembali menggunakan panggung internasional untuk menyuarakan hak-hak mendasar rakyatnya. Dalam rekaman pernyataannya yang ditampilkan di arena Sidang Majelis Umum PBB, Rabu, 23 September 2026, ia dengan tegas menyerukan pentingnya penentuan nasib sendiri bagi Palestina.

Ini adalah kali kedua Mahmoud Abbas tidak dapat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB karena tidak mendapatkan visa masuk wilayah AS.

Kendati tidak dapat hadir secara langsung di markas besar PBB di New York, suara Abbas tetap bergema kuat di ruang sidang. Isu mengenai kemerdekaan dan kedaulatan Palestina tetap menjadi salah satu topik paling sentral yang mendominasi jalannya sidang umum.

Dalam pesannya, Abbas menekankan bahwa rakyat Palestina telah terlalu lama menderita di bawah bayang-bayang pendudukan. Oleh karena itu, dukungan global terhadap hak penentuan nasib sendiri dipandang sebagai langkah krusial demi terciptanya keadilan.

Melalui pidato virtual tersebut, Abbas juga mendesak agar dunia internasional tidak tinggal diam menghadapi krisis yang terus berlanjut. Tekanan diplomasi terus digalang agar resolusi-resolusi PBB terkait Palestina dapat segera diimplementasikan secara nyata.

"Kami menegaskan bahwa kami telah memenuhi kewajiban kami, menjalankan program reformasi nasional yang komprehensif, serta menjunjung tinggi komitmen kami terhadap hukum internasional, penolakan terhadap kekerasan dan terorisme, solusi dua negara, dan perdamaian berdasarkan resolusi-resolusi legitimasi internasional,” ujarnya.


Seruan ini sekaligus mempertegas posisi kepemimpinan Palestina dalam mempertahankan hak-hak politik di kancah global. Dukungan multilateral dianggap sebagai benteng pertahanan utama dalam menghadapi berbagai tantangan geopolitik yang semakin kompleks.

Hingga kini, isu kemerdekaan Palestina di bawah kepemimpinan Mahmoud Abbas terus menjadi ujian bagi efektivitas diplomasi internasional. PBB diharapkan mampu mengambil peran lebih besar dalam mewujudkan perdamaian yang adil dan permanen di kawasan Timur Tengah. 

Para pejabat Palestina menyatakan bahwa upaya pembatasan fisik melalui penolakan visa terbukti gagal meredam gaung perjuangan mereka. Isu Palestina justru mendapat tempat yang semakin menonjol melalui solidaritas dari berbagai delegasi Arab dan negara sahabat lainnya.

Sejumlah pengamat menilai bahwa ketidakhadiran fisik para pemimpin Palestina akibat hambatan administratif tidak menyurutkan esensi pesan yang disampaikan. Forum PBB tetap menjadi wadah penting untuk terus mengingatkan komunitas internasional akan tanggung jawab moral mereka.


Xi Jinping: Tiongkok dan AS Harusnya Jadi Mitra

Sebelumnya

Giliran Republik Mauritius Ubah Sikap, Nilai Otonomi Maroko Solusi Paling Kredibel

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia