post image
KOMENTAR

Jatuhnya pesawat militer milik Angkatan Udara AS pada Senin (27/1) diyakini telah merenggut nyawa dari pembunuh jenderal kawakan Iran, Qassem Soleimani.

Sumber-sumber dari intelijen Rusia mengkonfirmasi bawa Kepala Operasi Intelijen AS terhadap Irak, Iran, dan Afganistan, Michael D' Andrea meninggal dunia dalam jatuhnya pesawat Bombardier E-11A di Provinsi Ghazni, Afganistan bagian timur tersebut.

Laporan Iran Front Page menyatakan pesawat itu dikomandoi oleh Central Intelligence Agency (CIA). Mengingat Provinsi Ghazni adalah wilayah yang dikuasai Taliban, maka saat ini platform mata-mata hingga peralatan canggih dan dokumen-dokumen CIA yang berada dalam pesawat tersebut berada di tangan Taliban.

Meninggalnya D' Andrea juga dibenarkan dalam laporan situs Veterans Today. Disebutkan, D' Andrea tampak berada di antara para perwira dalam pesawat tersebut.

Meski Taliban mengklaim secara tidak langsung telah menembak jatuh pesawat Bombardier atau Northrop Grumman E-11A, namun AS tampaknya tidak ingin mempercayai itu. Pasalnya pernyataan Taliban pada awal kejadian di Pushtu hanya menyatakan bahwa pesawat telah jatuh

Dikatakan oleh jurubicara pasukan AS di Afganistan, Kolonel Sonny Leggett dalam Twitternya, saat ini jatuhnya pesawat tersebut tengah diselidiki dan belum ada indikasi jatuh akibat tembakan.

Setelah pesawat pengintai milik AS, Taliban juga mengaku ada helikopter militer yang jatuh di bagian timur Afganistan. Namun, kelompok militan ini tidak merinci hal tersebut.

Sementara itu, dari cuplikan video dan gambar yang tersebar di media sosial terlihat kerangka pesawat terbakar meski bagian ekornya masih tetap utuh. Dari keterangan beberapa wartawan yang langsung ke tempat kejadian, terdapat beberapa dokumen yang tidak diketahui.   

Ayatollah Mike adalah nama pesohor dari D'Andrea. Ia merupakan tokoh intelijen CIA yang paling dikenal di kawasan Timur Tengah.

Sejak 2017, D' Andrea telah menjalankan berbagai misi rahasia dan program pembunuhan di Timur Tengah. Ia diduga bertanggung jawab atas pembunuhan Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran (IRGC), Letnan Jenderal Qassem Soleimani. Bukan hanya itu, ia juga dipercaya menjadi dalang pembunuhan 300 pengunjuk rasa Irak.

Close X

Dapat Tambahan 105 Unit, Jepang Jadi Negara Dengan F-35 Terbanyak Setelah AS

Sebelumnya

Siap-siap, Indonesia Akan Terima Delapan MV-22 Osprey Dari AS

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga