post image
Mantan KSAU Chappy Hakim
KOMENTAR

Chappy Hakim, Mantan KSAU dan Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia

WABAH Pandemi covid 19 telah manghancur-leburkan Industri Penerbangan dunia terutama Maskapai Penerbangan dan Pabrik Pesawat Terbang.

Dampak dari terpuruknya Maskapai Penerbangan dunia adalah momen yang terburuk sepanjang sejarah penerbangan global.

Selama tahun 2020 rute penerbangan internasional  pengangkut penumpang telah menurun sangat drastis yang telah menyebabkan puluhan Maskapai Penerbangan bangkrut.

Yang terlihat masih dapat tetap bertahan adalah penerbangan kargo dan penerbangan charter.

Memasuki tahun 2021 tentu saja banyak pertanyaan yang mengandung harapan mengenai kapan dunia penerbangan dapat pulih kembali.

Sejak akhir tahun 2020, sektor perhubungan udara yang masih parah berat oleh pandemi COVID-19 terlihat secara perlahan pulih. Hal ini tentu saja segera memberi lebih banyak harapan untuk bertahan hidup bagi maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Baik maskapai penerbangan maupun mereka yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang jelas  berharap kehadiran vaksin COVID-19 dapat membantu industri penerbangan untuk bangkit kembali dalam waktu dekat.

Sayangnya, analisis dan kajian yang dilakukan oleh IATA, Asosiasi Transportasi Udara Internasional menyimpulkan lain.

Mereka berpendapat bahwa meskipun vaksin COVID-19 dan prosedur pengujian yang tengah disiapkan akan segera diluncurkan di seluruh dunia dalam waktu dekat, pemulihan permintaan untuk perjalanan udara akan memakan waktu yang cukup lama hingga beberapa tahun kedepan.

Itupun  pemulihan yang akan terjadi tidak akan mungkin dapat mencapai tingkat frekuensi penerbangan sebelum krisis, sampai dengan  tahun 2024 nanti.

Krisis pandemi COVID-19 memang merupakan tantangan serius bagi industri penerbangan diseluruh dunia untuk dapat bertahan hidup di tahun 2020. Rata-rata pendapatan telah turun dari  838 miliar USD pada tahun 2019 menjadi hanya  328 miliar USD pada tahun 2020.

Namun, fenomena penurunan dari perolehan pendapatan maskapai penerbangan  diperkirakan akan terus berlanjut hingga setidaknya akhir tahun 2021.

Hal tersebut adalah prediksi yang telah dilakukan IATA mengacu kepada pengumpulan data mutakhir yang diperoleh dari lapangan belakangan ini (dikutip dari Aviation News) Alexandre de Juniac, Direktur Jenderal, dan CEO IATA menjelaskan bahwa tahun 2020 akan tercatat sebagai tahun terburuk industri penerbangan global.

Rata-rata maskapai penerbangan diseluruh dunia telah memangkas biaya hampir 1 miliar USD setiap harinya sepanjang tahun 2020.   Walaupun tercatat telah ada dukungan keuangan dari pemerintah sebesar 173 miliar USD, kebangkrutan banyak maskapai penerbangan tidak dapat dihindarkan.   Dapat dibayangkan apabila tidak ada dukungan keuangan dari pemerintah, maka dipastikan keadaan akan menjadi lebih buruk lagi.

Menurut perhitungan yang dibuat oleh IATA, jumlah penumpang diperkirakan telah turun menjadi 1,8 miliar pada tahun 2020,  dan ini merupakan kondisi yang memperlihatkan grafik mundur Industri Penerbangan dunia kembali ke level yang dicapai pada tahun 2003.

Dibandingkan dengan pencapaian sampai dengan angka 4,5 miliar penumpang di tahun 2019, maka di tahun 2020 jumlah penumpang telah mencapai rekor penurunan yang hampir  mencapai angka 61% lebih rendah.

Hal tersebut terjadi sebagai akibat turunnya secara drastis jumlah penumpang yang bepergian selama pandemic covid 19.  Penurunan  yang signifikan ini telah menyebabkan penurunan pendapatan maskapai penerbangan hingga  lebih kurang 191 miliar USD pada tahun 2020.

Ini berarti bahwa pendapatan yang diperoleh tersebut nilainya setara dengan sepertiga pendapatan yang dapat dicapai pada tahun 2019 yaitu sebesar  612 miliar USD.

Selanjutnya IATA melihat kecenderungan bahwa para air traveler akan lebih banyak beralih ke perjalanan domestik dengan jarak yang relatif pendek dibandingkan dengan perjalanan jarak jauh pada rute internasional, karena antara lain dianggap lebih aman.

Ini menunjukkan bahwa meskipun seluruh industri penerbangan akan melihat harapan akan kinerja yang lebih baik pada tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020, pasar domestik terlihat akan dapat mulai berkembang  lebih baik daripada penerbangan antar bangsa yang masih terkendala dengan mekanisme Lockdown terkait pandemi covid 19.

Akan tetapi sekali lagi  alur peningkatan volume penumpang diperkirakan tidak akan dapat kembali ke level di tahun 2019 sampai dengan tahun 2024 nanti.

Meskipun semua wilayah di seluruh dunia terkena dampak krisis COVID-19, beberapa kawasan di antaranya diharapkan akan dapat  berkembang lebih baik atau lebih dulu daripada yang lain. IATA memperkirakan maskapai penerbangan di Asia Pasifik akan pulih terlebih dahulu.

Operator udara China mungkin akan mengambil posisi terdepan dalam pemulihan industri penerbangan pada tahun 2021, karena pasar domestik China yang besar telah mulai kembali ke profitabilitas sejak akhir tahun 2020.   Catatan IATA menyebut  bahwa faktor penentu  yang menyebabkan maskapai penerbangan China dapat pulih lebih cepat adalah mekanisme dan manajemen pengendalian virus yang berhasil dilakukan oleh otoritas China.

Close X

Setelah SJ-182, Sekilas tentang Dunia Penerbangan Indonesia

Sebelumnya

Merunut Penyebab Jatuhnya Pesawat Terbang Sriwijaya Air SJ-182

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Artikel Chappy Hakim