post image
Presiden Donald Trump didampingi Wakil Presiden JD Vance (kiri) dan Menlu Marco Rubio dalam pertemuan dengan pengusaha minyak di Gedung Putih, Jumat, 9 Januari 2026.
KOMENTAR

Usaha Presiden AS Donald Trump mengajak komunitas pengusaha minyak Paman Sam terlibat dalam pembangunan Venezuela tampaknya tidak begitu mulus. Dalam pertemuan dengan komunitas pengusaha minyak yang digelar di Gedung Putih, Jumat, 9 Januari 2026, Trump mendapatkan pesan yang tegas dari kalangan eksekutif minyak, yakni bahwa tidak mudah berinvestasi di Venezuela. 

Dalam pertemuan itu Trump meminya setidaknya 100 miliar dolar AS dana dari industri minyak untuk pembangunan Venezuela.

Para petinggi perusahaan minyak terbesar AS yang menghadiri pertemuan tersebut mengakui bahwa Venezuela, yang memiliki cadangan energi yang sangat besar, merupakan peluang yang menarik.

Namun mereka mengatakan perubahan signifikan diperlukan untuk menjadikan kawasan itu investasi yang menarik. Tidak ada komitmen keuangan besar yang segera diberikan.

Trump mengatakan dia akan memanfaatkan minyak negara Amerika Selatan itu setelah pasukan AS menangkap pemimpinnya Nicolas Maduro dalam serangan pada 3 Januari di ibu kotanya.

“Salah satu hal yang akan didapatkan Amerika Serikat dari ini adalah harga energi yang lebih rendah,” kata Trump.

Namun para petinggi perusahaan minyak yang hadir memperlihatkan sikap hati-hati. 

“Aset kami telah disita di sana dua kali, jadi Anda bisa bayangkan untuk masuk kembali untuk ketiga kalinya akan membutuhkan beberapa perubahan yang cukup signifikan dari apa yang telah kita lihat secara historis dan apa yang terjadi saat ini,” ujar CEO Exxon, Darren Woods.

“Saat ini tidak layak untuk berinvestasi di Venezuela,” sambungnya

Venezuela memiliki hubungan yang rumit dengan perusahaan minyak internasional sejak minyak ditemukan di wilayahnya lebih dari 100 tahun yang lalu.

Chevron adalah satu-satunya perusahaan minyak besar Amerika yang masih beroperasi di negara tersebut.

Sejumlah perusahaan dari negara lain, termasuk Repsol dari Spanyol dan Eni dari Italia, yang keduanya diwakili dalam pertemuan Gedung Putih, juga aktif.

Trump mengatakan pemerintahannya akan memutuskan perusahaan mana yang diizinkan untuk beroperasi.

“Anda berurusan langsung dengan kami. Anda sama sekali tidak berurusan dengan Venezuela. Kami tidak ingin Anda berurusan dengan Venezuela,” kata Trump.

Gedung Putih mengatakan sedang berupaya untuk “secara selektif” mencabut sanksi AS yang telah membatasi penjualan minyak Venezuela.

Para pejabat mengatakan mereka telah berkoordinasi dengan otoritas sementara di negara itu, yang saat ini dipimpin oleh mantan wakil Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodríguez.

Namun mereka juga telah memperjelas bahwa mereka bermaksud untuk mengendalikan penjualan tersebut, sebagai cara untuk mempertahankan pengaruh atas pemerintahan Rodríguez.

Pekan ini AS telah menyita beberapa kapal tanker minyak yang membawa minyak mentah yang dikenai sanksi. Para pejabat Amerika mengatakan mereka sedang berupaya untuk mengatur proses penjualan, yang akan menyetorkan uang yang terkumpul ke rekening yang dikendalikan AS.

“Kami terbuka untuk bisnis,” kata Trump.

Produksi minyak Venezuela telah terpukul dalam beberapa dekade terakhir akibat disinvestasi dan salah urus - serta sanksi AS. Dengan produksi sekitar satu juta barel per hari, negara ini menyumbang kurang dari 1% dari pasokan global.

Chevron, yang menyumbang sekitar seperlima dari produksi negara itu, mengatakan pihaknya berharap untuk meningkatkan produksinya, membangun kehadirannya saat ini, sementara Exxon mengatakan pihaknya sedang berupaya mengirim tim teknis untuk menilai situasi dalam beberapa minggu mendatang.

Repsol, yang saat ini memiliki produksi sekitar 45.000 barel per hari, mengatakan pihaknya melihat jalan untuk melipatgandakan produksinya di Venezuela selama beberapa tahun ke depan dalam kondisi yang tepat.

Para eksekutif di perusahaan lain juga mengatakan janji-janji perubahan Trump akan mendorong investasi dan mereka berharap untuk memanfaatkan momen tersebut.

“Kami siap untuk pergi ke Venezuela,” kata Bill Armstrong, yang memimpin perusahaan pengeboran minyak dan gas independen. "Dalam hal properti, ini adalah properti utama."


GREAT Institute: Ketidakpastian Global Tak Menghalangi Laju Ekonomi Indonesia

Sebelumnya

PDVSA Mulai Negosiasi dengan Perusahaan Minyak AS

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Ekonomi