post image
Presiden AS Donald Trump
KOMENTAR

Bagi Iran, meja perundingan adalah hal mustahil selama ideologi penghancuran lawan tetap menjadi harga mati.

Oleh: Risman Rachman, Aktivis Kemanusiaan di Aceh

WASHINGTON membeku saat iring-iringan kepresidenan melintas.

Di balik kaca mobil yang gelap, Donald Trump tampak tertunduk—bukan karena lelah, melainkan beban dari sebuah keputusan yang kini berbalik arah.

Tidak ada lagi retorika berapi-api; yang tersisa hanyalah bungkam seribu bahasa saat rentetan pertanyaan wartawan menghujani langkahnya menuju Gedung Putih.

Harapan akan jalur diplomasi hancur berkeping-keping. Klaim pemerintah AS mengenai kesiapan Iran untuk berunding dibalas dengan tamparan keras dari Teheran.

Bagi Iran, meja perundingan adalah hal mustahil selama ideologi penghancuran lawan tetap menjadi harga mati.

Itu artinya Trump kini menghadapi kenyataan pahit: musuhnya tidak ingin bicara, mereka ingin menang.

Waktu kini menjadi musuh terbesar Trump. Setiap detik yang berlalu dalam konflik ini adalah ancaman bagi eksistensi politiknya.

Bayang-bayang peti mati yang kembali ke tanah Amerika menghantui setiap kebijakan.

Laporan jatuhnya tiga jet tempur F-15E di Kuwait, yang diduga kuat akibat serangan lawan, menjadi simbol rapuhnya dominasi udara yang selama ini dibanggakan.

Keheningan Trump saat ditanya mengenai pesan untuk orang tua prajurit yang gugur menciptakan lubang besar dalam narasinya sebagai "pelindung rakyat."

Peta Konflik yang Mematikan

Strategi menggempur Teheran yang digadang-gadang sebagai langkah cerdas terbukti menjadi bumerang.

Iran tidak hanya bertahan; mereka justru menunjukkan ketangguhan yang tak terduga dengan terus meluncurkan rudal ke Israel tanpa henti.

Iran memainkan bidak catur politik dengan sangat presisi. Serangan ke pangkalan di UEA dan Bahrain bukan sekadar aksi militer, melainkan serangan langsung ke jantung kepentingan pribadi Trump.

Di sanalah simpul intelijen CIA, Mossad, dan imperium bisnis pribadinya berada. Iran tahu persis di mana titik lemah sang Presiden.

Kini, di koridor kekuasaan yang mulai terasa sesak, Trump berdiri dalam kegagapan.

Perang yang dirinya bersama Netanyahu sulut kini menjelma menjadi badai yang tak terkendali.

Mereka kini tidak lagi sedang memimpin serangan; mereka sedang menyaksikan negara mereka perlahan terseret ke dalam jurang, sementara rakyat Amerika bersiap memberikan "vonis" terakhir di kotak suara.

Di sinilah mengapa Trump terlihat lesu. Tidak ceria seperti suasana sebelum dirinya memulai perang, beberapa hari lalu.

 


Perang AS versus Iran Ilusi Kemenangan dan Realitas Eskalasi

Sebelumnya

GREAT Institute: Tiga Prajurit TNI Gugur Terkait Perang Israel dan Iran

Berikutnya

KOMENTAR ANDA

Baca Juga

Artikel Dunia